[TJ] Hukum Memanggil Mama dan Papa

Redaksi mendapat pertanyaan via SMS dari +62522437xxxx sebagai berikut:

“Assalamu’alaikum. Saya mau bertanya, apa hukumnya suami istri jika memanggil ‘mama’ atau ‘papa’, apakah berdosa? Soalnya saya pernah denger katanya kalau seseorang memanggil istri sama suaminya sama seperti berzina dengan ayah sendiri. Begitu juga sebaliknya. Mohon penjelasan. Terima kasih.”

Jawab:

Mama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sama artinya dengan ibu, yaitu seorang wanita yang telah melahirkan seseorang (anak manusia). Begitu juga dengan Papa, sama artinya dengan ayah yang berarti orang tua kandung laki-laki. Lalu, masalah timbul. Bagaimana jika seorang suami memanggil istrinya dengan sebutan “Mama”, apakah hal ini berarti istri kita berubah status seolah-olah menjadi ibu kita? Hal ini mirip dengan bahasan fiqih munakahat (bab pernikahan) tentang masalah Zhihar. Mari kita bahas.

Dalam Kifayatul Akhyar, dijelaskan bahwa Syaikh Abu Syuja’ berkata: “Zhihar ialah suami mengatakan kepada istrinya: Engkau bagiku seperti punggung ibuku. Apabila suami mengatakan demikian dan tidak dilanjutkan dengan talak, namun ia akan kembali kepada istrinya, maka ia wajib membayar kafarat.” Pada masa jahiliyah, zhihar itu berlaku sebagai talak (cerai). Lalu Rasulullah mengubah hukum tersebut menjadi sebagai berikut: mengharamkan istri sesudah adanya keinginan kembali lagi kepada istrinya tersebut dengan wajib membayar kafarat, sedangkan statusnya tetap sebagai istri.

Segala sesuatu memang tergantung niatnya (innamal a’malu binniyaat). Tentu saja, menjadi haram, ketika kita memanggil istri dengan panggilan ‘mama’ dengan niat menyamakan dengan ibu sendiri. Dalam syariat agama islam, ibu adalah seorang wanita yang haram kita nikahi. Tetapi, jika kita memanggil demikian dalam rangka mendidik anak (lit-tarbiyatil aulad), maka tentu saja diperbolehkan. Kita memanggil istri dengan panggilan “Mama” agar si anak pun memanggil demikian.

Bukankah kita juga sering mendengar seorang ibu memanggil anak pertamanya dengan sebutan “kakak”, “mas”, “mbak” dll dengan tujuan untuk mendidik adiknya agar memanggil seperti itu kepada kakaknya. Panggilan semacam itu dirasakan tepat untuk menanamkan rasa hormat sang adik kepada kakaknya. Begitu juga sebaliknya. Hal ini tidak berarti bahwa si anak adalah kakak dari ibu, bukan? Si ‘kakak’ tetaplah anak dari si ibu-nya. Demikian juga panggilan ‘Mama’ dan ‘Papa’. Jika panggilan tersebut dilakukan untuk mendidik anak (agar anak meniru ucapan kita), tentu tidak ada salahnya, sebagai bentuk penghormatan anak kepada orang tuanya.

Wallahu A’lam Bishshawab.

About these ads

One comment on “[TJ] Hukum Memanggil Mama dan Papa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s