Mengapa Doa Kita Tak Terkabul?

Suatu hari, saya mendengar ceramah KH. Zainudin MZ tentang sebab-sebab doa kita tak terkabul. Al Imam Abu Laist pernah ditanya oleh orang-orang perihal firman Allah dalam Al Qur’an, “Wahai Imam, bukankah Allah telah berfirman dalam surat Al Mu’min ayat 60. ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’ Tetapi mengapa, doa-doa yang kami panjatkan kepada-Nya tidak juga dikabulkan?”

Imam Abu Laist menjawab, “Sesungguhnya, salah satu penyebab doa-doa kita tak terkabulkan diantaranya adalah mungkin karena hati kita telah mati”

Lalu, Imam Abu Laist pun menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan hati seseorang bisa mati, yaitu:

  1. Kita mengenal Allah, tetapi hak Allah untuk disembah tidak pernah kita laksanakan.  Kita tahu Allah adalah Tuhan kita, tetapi segala perintah-Nya kita abaikan. Kita sebut-sebut nama-Nya, tetapi kita tak pernah shalat, zakat, puasa dan haji. Islam hanya ucapan, sedangkan kewajiban  di dalamnya tak pernah benar-benar kita tunaikan.
  2. Kita sering membaca Al Qur’an, tetapi tidak pernah mengamalkan ajarannya. Kita tahu bahwa Al Qur’an adalah pedoman hidup umat manusia yang lengkap, yang mengatur berbagai macam perihidup seseorang agar senantiasa berada di jalan yang lurus (shirothol mustaqiim). Kita baca Al Qur’an setiap hari, tapi ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya tidak pernah kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan yang lebih parah, Al Qur’an hanya dijadikan pajangan, hiasan ruangan dan  untuk ‘mengusir hantu’ ketika perlu
  3. Kita kenal Rasulullah Saw, tetapi tak pernah mengikuti Sunnahnya. Setelah Al Qur’an, As-Sunnah adalah dasar hukum Islam yang kedua. Namun berapa banyak dari kita yang justru melupakan sunnah-sunnah Nabi dengan alasan yang berbelit-belit. Nabi dianggapnya hanya manusia biasa, Nabi juga pernah salah, dll sehingga sunnah tidaklah perlu. Tentu saja, ini adalah pendapat yang keliru. Selain Al Qu’ran, Sunnah pun haruslah menjadi pedoman hidup kita, disamping Ijma dan Qiyas para ulama.
  4. Kita menikmati begitu banyak nikmat dari Allah, tetapi tak pernah bersyukur kepada-Nya. Padahal, begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Sinar matahari yang hangat, hujan yang menyejukkan, dan hembusan nafas hanya sebagian kecil dari nikmat Tuhan kepada manusia. Semuanya disediakan gratis untuk manusia. Manusia hanya disuruh bersyukur kepada-Nya, dengan ucapan hamdalah (Alhamdulillah) dan perbuatan taat hanya kepada-Nya. Allah berfirman dalam surat Al Mu’min ayat 61. “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
  5. Kita yakin bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan, tetapi kita enggan untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Kita yakin bahwa setiap jiwa pasti akan mati, tetapi kita terlena dengan kehidupan dunia yang penuh tipu daya. Padahal  kehidupan dunia hanya jalan untuk mencari bekal sebagai persiapan menuju negeri keabadian, yakni negeri akhirat yang tak berkesudahan.
  6. Kita begitu takut untuk dimasukkan ke dalam neraka, tetapi kita sering melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang justru mengantarkan kita masuk ke dalamnya.
  7. Kita begitu berharap untuk dimasukkan ke dalam surga, tetapi sering melupakan perbuatan-perbuatan baik yang mengantarkan kita masuk ke dalamnya.
  8. Kita sering melihat bahkan mengikuti prosesi penguburan jenazah manusia, tetapi kita tak pernah mengambil i’tibar / pelajaran darinya. Jarang sekali kita merenungi bahwa suatu saat nanti kita pun akan seperti mereka. Lahir, hidup, mati, lalu dikubur berkalang tanah. Tak ada yang menemani selain amal perbuatan baik kita selama hidup di dunia.

Itulah delapan hal yang menyebabkan hati kita menjadi mati, seperti yang dijelaskan oleh Al Imam Abu Laist. Jika hati telah mati, kita tak ubahnya seperti mayat berjalan yang sudah tak punya nurani. Jika hati telah mati, doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya tentu saja begitu sulit untuk dikabulkan.  Naudzubillah min dzaalik.

 Ada baiknya, mari kita perhatikan Firman Allah darlam Surat Al Baqoroh ayat 186. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

 Ayah pernah menasihati saya dalam sebuah obrolan santai, “Keberhasilan kita hari ini, bukan tidak mungkin karena doa-doa yang pernah kita panjatkan beberapa waktu silam yang mungkin kita sendiri telah lupa. Maka teruslah berdoa (dan berusaha), karena Allah akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang percaya dengan ketaatan kepada-Nya. Jangan karena merasa sudah enak, kita lupa untuk berdoa, karena keberhasilan masa depan kita akan sangat ditentukan oleh doa-doa kita hari ini. Dan doa yang terkabul akan terucap dari lisan-lisan dengan hati yang hidup.” Semoga Allah menjaga hati kita untuk selalu kepada-Nya. Aamiin. Wallahu A’lam Bishshawab.

Indramayu, 10 September 2012

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s