Pulanglah ke Hatimu, Lorosa’e

 always be in your heartApa kabarmu, Lorosa’e? Apakah dirimu masih seperti dulu? Ataukah dirimu sudah kokoh berdiri setelah tiga belas tahun berpisah? Semenjak referendum tahun 1999, aku sungguh pedih mengingatnya, ketika perlahan kau mulai luruh melepas merah putihmu. Engkau lebih memilih hidup dengan keputusanmu sendiri. Pilihan sulit, memang. Konflik internal yang tak kunjung reda, merenggut bahagia, mencipta banyak tangis di Jembatan Air Mata. Sementara itu, sebagian lainnya yang masih menyimpan semangat nasionalisme di dada, lebih memilih berkorban meninggalkan tanah kelahiran menuju tanah harapan atas nama kesetiaan. Ya, jalan telah kau pilih. Biarkan sejarah menulis tentang kisah ini dalam warna yang beraneka rupa.

Apa kabarmu, Lorosa’e? Duduklah sejenak bersamaku. Kita nikmati secangkir kopi, semangkuk koto dan sepiring roti pa’un di Cafe Ermera. Akan kuceritakan sebuah kisah indah tentangmu. Juga tentang mereka yang namanya diam-diam membekas dalam hati dan ingatanku, perlahan. Marsela. Juanito. Randu. Juga tentang anjing mereka, Lon dan Royo.

Sebuah novel apik karya Shabrina Ws terbitan Qanita ini kiranya cocok menemani bincang-bincang kita hari ini. Baiklah. Kita mulai dari covernya. Cukup cantik dan menarik dengan warna kuning sebagai latar dan hiasan bunga di atasnya. Lalu, di bagian tengah dan bawah, kita akan melihat seekor burung dan sebuah sangkar yang kosong. Always be in Your Heart. Pulang ke hatimu.

Baca lebih lanjut

Wow, Matematika Alam Semesta!

matematika alam semestaBeberapa pekan terakhir ini, saya hobi banget nulis status facebook dengan tema matematika. Status sederhana yang kadang nyleneh seputar dunia matematika. Seperti misalnya, (1) Habis Genap terbitlah Ganjil; (2) Karena tercacah-cacah, bilangan itu pun mulai lagi dari nol; (3) Asli, dia memang nomor satu; (4), Negatif, Nol, Positif. Sudah kuputuskan, pikiranku sudah bulat; dan (5) Ada yang Real, ada yang Imajiner. Hidup ini benar-benar bilangan Kompleks. Hehe. Seru kan? Saya hanya ingin mengenalkan jenis-jenis bilangan (matematika) dengan cara tak biasa. Mengekspresikannya dengan cara seperti menulis fiksi (super) mini, kegemaran saya akhir-akhir ini.

Tapi jangan dikira saya ahli matematika lho. Hoho. Tidak, saya biasa saja. Mungkin belum. Nilai-nilai matematika zaman SD sampai kuliah pun tidak terlalu istimewa, tapi cukup lumayan lah. Namun entah mengapa, tiba-tiba saya jatuh cinta dengan dunia yang satu ini. Meski lemah dalam hitungan aritmetika, saya paling suka jika mendapat soal kalkulus yang berkaitan dengan diferensial dan integral. Kadang sampai terbawa mimpi segala untuk bisa menyelesaikannya. Hehe. Pendek kata, saya suka dunia matematika dengan alasan yang entah apa. Baca lebih lanjut

Membaca Bisikan dari Langit

bisikan dari langitHampir saja penduduk bumi gempar. Saya pertama kali mendengar berita ini dari internet, lalu berita ini pun menyebar di berbagai media, tak terkecuali di televisi. Sebuah asteroid yang diberi nama 2012 DA14 akan melintasi pada jarak terdekat dengan bumi pada tanggal 16 Februari 2013. Wow!

Baiklah. Berdasarkan infomasi yang saya dapat dari internet, ternyata peristiwa semacam ini memang sering terjadi. Apalagi yang berkecimpung dalam dunia astronomi, pasti sudah tidak aneh menyaksikan peristiwa semacam ini. Asteroid, meteor, planet dan benda-benda langit lainnya seringkali berseliweran di sekitar (bumi) kita. Jika beruntung, -karena posisi yang sangat dekat, misalnya- kita dapat juga menyaksikan mereka baik dengan bantuan teropong/teleskop atau mata telanjang biasa.

Salah satunya adalah Asteroid 2012 DA14 yang kita bicarakan kali ini. Asteroid ini punya waktu revolusi yang hampir sama dengan revolusi bumi (mengelilingi matahari) yaitu 366,24 hari. Revolusi bumi sendiri adalah 365,24 hari. Bentuk orbit asteroid ini juga hampir sama bulatnya dengan bumi. Hanya saja, pusat lingkaran kedua orbit ini tidak saling berimpit. Baca lebih lanjut

“Dear Love, Kamukah Jodohku?”

dear-loveApa yang harus ia katakan kepada pagi yang gelisah selepas subuh. Batin Ustadz Ahmad bergemuruh. Tiba-tiba saja Allah mengirimkan badai untuk menguji hatinya. Tiga hari yang lalu, ia menghadap Abah Yai untuk meminta izin pulang setelah menjalani pendidikan dan pengabdian di pesantren ini. Ia ingat betul, ketika sang ibu menitipkannya di pesantren ini pertama kali nyaris tanpa bekal apapun. Beruntung Abah Yai menerimanya, menjadikannya abdi dalem sampai pendidikan selesai, lalu menunjuknya sebagai ustadz pondok untuk pengabdian. Itu sudah satu dasa warsa. Kini, ia rindu pulang, rindu ibu, rindu pada seseorang yang telah menunggunya di kampung halaman.

“Kowe, ndak usah balik yo, Le!” kata Abah Yai pendek. Ustadz Ahmad tahu, mengabdikan dirinya di jalan Tuhan adalah sebuah tugas mulia. Maka ia hanya tertunduk dalam diam.

Abah Yai melanjutkan, “Ahmad, aku membutuhkanmu. Aku akan menjodohkanmu dengan putri tunggalku untuk melanjutkan perjuangan pesantren ini. Aku sudah semakin sepuh, Le”.

Kalimat Abah Yai seperti guntur yang tiba-tiba menggelegar di telinganya. Ia terkejut. Dan kau tahu, Aisyah, putri tunggal Abah Yai itu istimewa, karena ia seorang penderita autis. Sebagai manusia biasa, ia seharusnya berhak memilih. Terlebih lagi, ada seorang gadis yang telah setia menunggunya di kampung halaman. Fatimah, sahabat masa kecilnya yang santun dengan lesung pipit yang indah. Ia pernah berjanji pada gadis itu, bahwa ketika selesai masa pengabdian di pesantren, ia akan pulang dan melamarnya. Ia ingin hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya. Tapi pantaskah seorang santri hina sepertinya menolak permintaan Abah Yai yang telah memungutnya dari lumpur nestapa?

Baca lebih lanjut

SekePING! Harap untuk Karro di Tanah Borneo

Ping! Sekeping nurani terjerembab di antara lubang-lubang keresahan. Api mulai menjalar membakar hutan pertiwi, mengeraskan hati, menggersangkan jiwa. Kulihat pongo pygmaeus berlari dalam kepanikan. Berteriak-teriak, dengan suara lengkingan yang sungguh menyayat hati. Tempat tinggalnya terampas api. Lalu sebagian dari mereka terbantai dengan leher terpenggal. Darah mengucur, berceceran mengguratkan tulisan nestapa bernama tragedi. Masih kuingat jelas wajah-wajahnya di televisi. Wajah resah, yang kini tanpa nyawa.

Ping! Sekeping geram menggelegak ketika sebagian fakta kita ketahui, pelakunya ternyata bukanlah dari negeri sendiri. Mungkin, ada pula oknum-oknum tak kasat mata, yang demi kepentingan materi rela menggadaikan nasib bangsa sendiri untuk kepentingan pribadi. Lalu, ketika pelaku tertangkap, digiring di meja pesakitan. Ah, tiba-tiba geram semakin memuncak manakala mengetahui, pelakunya hanya dihukum “ringan” atas kejahatan “berat” yang mereka lakukan. Rasanya ingin berteriak, “Pak Hakim, anda salah memvonis!”, tapi suara itu hanya tertahan di kerongkonganku sendiri.

Baca lebih lanjut

By pondokhati Posted in BUKU

Tentang Nama dan Sebuah Cerita

Dia mengenalkanku dengan seorang gadis SMA bermata sipit, Aisyah Putri. Gadis berjilbab yang lincah, aktif dan punya banyak teman. Aku juga berkenalan dengan keempat kakak lelakinya yang gokil. Vince, yang higienis (calon dokter), Harap, si plontos yang nyentrik, Hamka yang suka naik gunung, dan Iid yang jago karate tapi hobi masak. Hehe.. Dari Aisyah, aku mengenal islam dengan lebih mudah. Renyah tapi penuh makna. Khas remaja.

Di lain hari, dia mengenalkanku dengan Dinda. Seorang gadis yang fotonya mirip dirinya. Mengenal Dinda sungguh membuatku terenyuh. Bagaimana tidak, Dinda adalah potret muslimah tegar yang menghadapi kerasnya kehidupan di lingkungan penuh maksiat (daerah lokalisasi). Kemiskinan yang mendera, bapak yang pemabuk dan penjudi, adik-adik yang butuh belaian kasih sayang, kakak lelaki yang menghilang, dan ibu yang akhirnya meninggal karena sakit. Lengkap sudah penderitaan seorang Dinda. Namun, ia tak menyerah. Hingga akhirnya, Tuhan pun mengulurkan tangan untuk menolongnya. Baca lebih lanjut

Benarkah 2012 Akhir Dunia?

Sudah mendekati akhir bulan Desember. Berarti, tak kurang beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2012. Itu jika kita menggunakan hitungan kalender Masehi, kalender yang didasarkan pada perputaran bumi mengelilingi matahari. Waktu memang berjalan cepat sekali tanpa bisa dihentikan. Konon katanya, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, sejam seperti semenit, semenit seperti sedetik, sedetik seperti sekejap mata.

Masih ingatkah anda beberapa tahun silam tentang perdebatan fenomenal akhir dunia yang terjadi pada tanggal 21 bulan 12 tahun 2012? Mengapa? Karena kalender suku Maya di Amerika sudah habis masanya. Mereka menduga, jika kalender telah habis, maka dunia pun akan berakhir. Saking hebohnya berita ini, Hollywood sempat membuat film dengan judul yang sama. Film ini mengisahkan tentang akhir dunia yang mereka sebut ki-a-mat. Hollywood untung besar, film ini laris di pasaran. Sebagian besar orang menonton hanya karena rasa penasaran, bagaimana sih penggambaran proses kejadian hari kiamat di tahun 2012? Anda percaya?

Baca lebih lanjut

Belajar dari Delisa, Gadis Kecil Berwajah Cahaya

Namanya Delisa. Enam tahun usianya. Gadis kecil dari Lhok Nga berwajah cahaya. Ia gadis periang dan baik hati. Impiannya tak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa menghafal bacaan shalat, seperti kakak-kakaknya dulu dan mendapat hadiah terindah berupa kalung yang ummi berikan untuknya. Maka hampir setiap hari ia pun menghafal bacaannya. Memulainya dengan doa iftitah: “… innash-sholaatii wanusukii wamahya-ya wa ma-maati lillaahi robbil ‘aalamiin..” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam). Lalu beralih menghafal pada bacaan ruku’ dan sujud yang sering tertukar karena miripnya.
“Subhaana robbiyal ‘adhiimi wa bihamdi” (Maha suci Tuhanku yang maha besar dengan segala pujiannya)
“Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdi” (Maha suci Tuhanku yang maha tinggi dengan segala pujiannya)
Ya, impiannya cuma satu: bisa menghafal bacaan shalat dengan sempurna.

Dan hari itu pun tiba. Saat dimana ia mulai diuji hafalan shalatnya di sekolah tercinta. Ia pun mulai membaca takbiratul ihram dan doa iftitah. Lalu, tanpa di duga, “Duaarrr….” Bumi terguncang Langit-langit sekolah runtuh. Air menggunung, bergulung-gulung menenggelamkannya.

Baca lebih lanjut

Sketsa Negeri Para Anjing

Lelaki itu berteriak, memanggil. Langkahnya saling beradu mengejar bayangan. Api obor yang dipegangnya meliuk-likuk. Tapi tak ada sahutan. Bayangan itu semakin mempercepat langkahnya menembus kelam.

“Apa kamu tidak kasihan terhadap anak dan istrimu?! Bukan begini cara membahayakan mereka!”

Bayangan di depan tiba-tiba berbalik. Matanya merah berkilat-kilat. “Aku berhak aras hidupku sendiri. Jangan halangi aku!”

Dipandanginya bayangan itu dengan tatapan sedih. Perlahan-lahan bayangan itu berubah; menghitam, dan bulu-bulu tumbuh memenuhi badannya yang kini berkaki empat.

Lolongan anjing semakin jelas dan mengerikan. Bayangan yang telah menjelma anjing itu berlari menuruni bukit., menghambur bersama anjing-anjing lain, memperebutkan bangkai busuk menjijikan. Anjing itu saling berkejaran, berebut, dan menyeret bangkai ke sana kemari. Mereka saling mencakar. Lolongannya menggema memenuhi lembah-lembah. Lalu?

Baca lebih lanjut

Mencari Nay! : Dari Maya Mengejar Nyata

Dunia maya itu penuh misteri. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun kadang, misteri itu mengundang rasa penasaran bagi sebagian orang untuk ditantang. Anda sependapat? Terserah saja. Yang jelas, kali ini aku hanya ingin bahas satu buku menarik yang (lagi-lagi) disumbangkan Mbak Shabrina WS untuk Taman Bacaan Pondok Hati (Indramayu). *makasiiih ya, Mbak. Buku fiksi berjenis novel metro-pop yang katanya sih asik dan seru. Bahasanya ringan, mirip snack yang renyah, gurih dan lezat. “Seperti makan keripik kentang.” Itu kata Shabrina WS. “Seperti makan es krim di musim panas, lumer di lidah, manis di hati, dan bikin cekikikan sembilan centi.” Kalo ini kata Jaladara. Hihi.  Kayak apa sih ceritanya? Jadi penasaran niih…

Buku itu berjudul “Mencari Nay!” karya Mbak Qonita Musa. Benar saja, setelah dibaca dengan seksama dan diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (hehe, emang teks proklamasi ya?), akhirnya bisa kubuktikan kalo ucapan mbak-mbak itu bener juga. Aku serasa menikmati cemilan baru. Buka bungkusnya, dan mulai menikmatinya tanpa jeda. *crauk.crauk. Lengkap bonus celetukan-celetukan lucu dan segar, persis es lemon. *sluruup, minum dulu, ah. Ia hadir mengisi waktuku disela bacaan-bacaan berat dan melelahkan. *hihi, ya iyaa lah. Yang dibaca buku kuliah sih. Kalkulus pula. Wuaah. Meskipun ringan, ternyata bisa bikin kenyang pemburu fiksi islami seperti aku. *haiiyaah. Sekali lagi, seperti meminum es lemon di siang terik sambil ditemani cemilan asik.

Baca lebih lanjut