Bukan Dongeng Jin Lampu

bud-jila

Aku punya sebuah pertanyaan menarik. Seandainya kita diberikan sebuah permintaan yang langsung dikabulkan oleh Allah, namun setelahnya permintaan-permintaan kita tidak akan dikabulkan lagi. Apa yang akan kita minta? Yupp, permintaannya cuma satu doang. Nggak ada yang lain, tetapi pasti permintaan itu dikabulkan. Pasti!

Oke. Apa?? Baiklah, kita minta kaya. Ada juga yang minta duit banyak, terus… yang lain? Upps, ada juga yang minta istri cakep (he..he..), minta rumah mewah, minta mobil segudang?

Eits..eits.. Pikirkan baik-baik temans, karena permintaan ini cuma satu dan menyangkut nasib kita. Iya, nasib kita bukan hanya di dunia ini tapi juga di akhirat kelak loh. Makanya pikirkan baik-baik.

Baiklah, sebagian dari kita minta diampuni dosanya, minta masuk surga, minta bahagia dunia akhirat. Terus ada lagi..? Ada juga yang minta keridloan Allah saja. Oke..oke.. Boleh juga.

Tapi sebentar, coba perhatikan baik-baik. Jika kita minta hal-hal tersebut di atas, berarti yang bahagia hanya kita sendirian saja. Bagaimana dengan orang tua kita, istri/suami kita kelak, saudara-saudara kita. Pasti mereka tidak akan memperoleh kebahagiaan seperti yang kita miliki. Malah, ujung-ujungnya kita juga jadi tidak merasa bahagia karena tidak bisa menikmati kebahagiaan bersama mereka. Wah, gawat juga. Padahal kan permintaannya hanya satu (bukan tiga, seperti dalam dongeng-dongeng jin lampu, hi..hi..). Aduh, susah juga nih!

Pak Syafi’i Antonio pernah berkata bahwa Imam Ibnu Jarir menerangkan: “Mintalah untuk diberi pemimpin yang arif, adil dan bijaksana!”.
Lho?!? Apa urusannya dengan kita? Apa gunanya buat kita? Bukannya itu malah mendoakan orang lain. Berarti… kita telah menyia-nyiakan satu permintaan berharga dalam hidup. Ah, nyesel deh!
bounce Tapi , eits.. tunggu dulu, gaiz. Jangan sewot dulu dong. Dengarkan penjelasan berikut. Memiliki seorang pemimpin yang arif, adil dan bijaksana berarti mempersiapkan kebahagiaan bagi setiap orang termasuk kita-kita. Lho kok bisa? Ya iya lah… Hanya pemimpin yang seperti itulah yang akan membawa kemaslahatan bagi negerinya. Makanya, pemimpin tersebut begitu hati-hati dalam mengemban tanggung jawab yang (sangat) besar ini. Implikasinya adalah segala hal yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak ia utamakan terlebih dulu. Ia harus rela membagi waktunya bukan hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, tetapi juga untuk kepentingan ummatnya. Sungguh, betapa berat tanggung jawab seorang pemimpin.

Seorang pemimpin yang arif, adil dan bijaksana itu merasa bahwa jabatan yang ia emban bukan merupakan anugerah Tuhan yang bisa dinikmati sendirian, tetapi justru merupakan suatu amanah yang telah dipercayakan rakyat dan Tuhan kepadanya. Bukankah kita sering dengar slogan: “suara rakyat adalah suara Tuhan” (katanya sih gitu..).

Temans, kalau kita pikir dengan cermat, pendapat Ibnu Jarir benar juga ya. Masih nggak percaya ? Mari kita tengok fakta sejarah yang memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin yang arif, adil dan bijaksana menjadikan seluruh mahluk merasa bahagia. Negerinya begitu kaya, makmur dan sejahtera. Rakyat patuh pada pimpinan, pemimpin menghormati rakyatnya. Mereka diliputi rahmat dan ampunan Tuhan.

Adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menjadi pemimpin paling berpengaruh di zamannya. Zaman yang ia pimpin adalah masa keemasan yang ditorehkan sejarah Islam dengan tinta emas. Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayyah merupakan khalifah kedelapan dari Daulah Umayyah dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Umar bin Khattab (khalifah kedua dalam Pemerintahan Islam) melalui jalur ibunya. Jabatan yang ia peroleh dianggapnya sebagai amanat yang menuntut sebuah tanggung jawab besar.

Sebenarnya, Umar bin Abdul Aziz tidak berambisi menjadi seorang khalifah. Tapi, tanpa sepengetahuan Umar, khalifah sebelumnya (Sulaiman bin Abdul Malik) yang mulai sakit-sakitan sudah membuat kesepakatan untuk mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Walaupun kepemimpinannya hanya selama dua setengah tahun saja, tapi kebijakan yang ia buat sungguh berjasa bagi kejayaan Islam.
Karena dianugerahi oleh Allah sifat arif, adil dan bijaksana, Umar bin Abdul Aziz memimpin negerinya dengan sangat hati-hati. Sampai-sampai dikisahkan, untuk membicarakan masalah pribadi dengan keluarga, ia harus mematikan lampu minyak yang sedang ia gunakan dengan alasan lampu tersebut dibiayai oleh kas negara. Sedangkan pembicaraannya dengan keluarga adalah masalah pribadi. Jika ia nekat menggunakan lampu minyak tersebut, berarti ia baru saja memakan harta rakyat tanpa sadar. Ia demikian takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak.
Subhanallah. Akibatnya, rakyat begitu percaya pada kepemimpinannya. Mereka merasa tentram dan tenang. Kemakmuran dimana-mana, sampai-sampai dikisahkan, rakyat merasa kesulitan untuk menyalurkan zakat, infaq dan shadaqoh karena sudah tidak ada lagi rakyat yang miskin (bandingkan dengan negeri kita). Rakyatnya begitu taat pada pimpinan, Rasul & Allah Swt. Selain itu kita harus ingat bahwa setiap diri kita adalah seorang pemimpin, minimal untuk diri sendiri, bukan?

Maha suci Allah. Inilah bukti kalau pemimpin yang baik akan melahirkan hal yang baik pula. Terbukti, kalau negeri yang dipimpinnya menjadi baldatun toyyibatun warobbun ghofuur (negeri yang baik dan memperoleh ampunan Tuhannya). Kebahagiaan bukan lagi milik golongan tertentu tetapi menjadi hak seluruh rakyat. Dan kebahagian itu bukan hanya di dunia saja, tetapi insya Allah di akhirat kelak. Wah, jadi luas nih…

So, mulai sekarang.. yuk, kita sempatkanlah sejenak (dalam doa-doa harian kita, terutama abis shalat) untuk memohon kepada Allah agar kita diberikan seorang pemimpin negeri yang arif, adil dan bijaksana.  Jika semua rakyat Indonesia (lebih dari 200 juta loh) bersatu dan berdoa seperti ini, insya Allah akan muncul pemimpin-pemimpin arif, adil dan bijaksana yang menjadi pelita bagi Indonesia di masa sekarang ini. Semoga. Wallahu A’lam Bishshawab.

All rights reserved © 2008
ir-copyraight16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s