Global Warning about Global Warming

so-earth1

SEBENARNYA, ISU perubahan iklim sudah lama sekali menjadi wacana internasional. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) –sebuah instansi yang terus memantau keberadaan iklim di bumi– sebenarnya sudah menyuarakan semenjak lama bahwa iklim di bumi yang kita tempati ini sudah berubah. Maksudnya, bumi menjadi lebih panas. Isu ini sudah saya dengar, bahkan semenjak saya masih kuliah dulu. Bahkan saya sudah sering membaca hasil-hasil diskusi ilmiah tentang masalah ini yang biasanya tertuang dalam laporan-laporan ilmiah. Namun, isu itu tidak menjadi heboh seperti sekarang ini. Semuanya berjalan biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Isu itu hanya berkembang sebagai wacana saja. Nah, baru-baru ini isu tentang perubahan iklim tersebut mulai diangkat lagi, bahkan menjadi isu paling populer saat ini. Dimana-mana orang teriak : “Iklim sudah berubah! Bumi yang kita tempati ini menjadi semakin panas”. Dalam istilah kerennya, ada yang namanya Global Warming alias Pemanasan Global.

hutanMengapa isu ini menjadi lebih populer saat ini, tak lain karena begitu banyak fenomena-fenomena cuaca yang tidak lazim terjadi saat ini. Tengok saja, di Indonesia misalnya, bencana demi bencana lebih sering terjadi di negeri ini. Mulai dari banjir (baik itu banjir bandang, banjir “kiriman” ataupun banjir karena pasang naik air laut), kekeringan, kekurangan air bersih, kebakaran hutan, dampak siklon tropis, angin puting beliung, gempa, tsunami, gunung meletus dan lain sebagainya. Langsung maupun tidak langsung, rentetan peristiwa tersebut sangat dimungkinkan ada hubungannya dengan si “Climate Change” ini. Dampak yang dirasakan terutama oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) adalah prakiraan cuaca menjadi tidak jelas, musim hujan dan musim kemarau susah untuk dibedakan dan lain sebagainya.

Ngomong-ngomong, tahukah anda, apa sebenarnya Pemanasan Global itu?

Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu permukaan bumi karena beberapa hal. Yang paling signifikan adalah peningkatan gas rumah kaca di atmosfer bumi kita. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang berfungsi salah satunya untuk menghangatkan bumi. Sinar matahari yang datang ke bumi (sebagian besar berupa gelombang pendek) akan dipantulkan kembali oleh bumi (sebagian besar berupa gelombang panjang) ke angkasa. Oleh gas-gas rumah kaca inilah –biasanya terdiri dari H20, C02, CH4, N20– ada yang dipantulkan lagi ke bumi, sehingga suhu di bumi menjadi cukup hangat.

Secara alamiah, gas rumah kaca ini memiliki peran yang sangat penting. Jika tidak ada gas rumah kaca ini, maka suhu bumi akan menjadi semakin dingin. Tentu bumi tidak layak lagi sebagai tempat tinggal makhluk hidup terutama manusia. Namun yang menjadi permasalahan adalah dalam beberapa tahun terakhir ini, gas-gas rumah kaca –terutama C02– di atmosfer jumlahnya menjadi sangat banyak, melebihi ambang batas kewajaran.

warming11Akibat dari semua itu adalah gelombang panjang yang dipancarkan bumi sebagian besar dipantulkan kembali oleh selubung gas-gas tersebut di atmosfer, sedikit sekali yang diteruskan ke angkasa. Akibatnya, suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Dalam 25 tahun terakhir, suhu global bumi meningkat menjadi 3,6 °C. Jika dilihat sekilas, memang peningkatanya cukup kecil, hanya sekitar 0,5 – 1 °C. Tetapi peningkatan suhu sebesar 1 °C itu adalah skala global. Jika dikonversi pada skala meso peningkatan suhu ini bisa mencapai 5 – 15 °C. Misalkan, sebuah daerah memiliki suhu rata-rata 15°C. Akibat pemanasan global, suhu rata-rata meningkat bisa mencapai 20-30 °C. Bayangkan, sebelumnya daerah tersebut memiliki iklim dingin dan sejuk, tiba-tiba berubah menjadi daerah yang beriklim panas. Inilah yang disebut perubahan iklim.

Dampak mikronya, tanaman khas yang tumbuh di daerah tersebut (yang lebih suka suhu dingin dan sejuk) banyak yang mati, atau tidak berbuah lagi. Dampak makronya, es di kutub jadi mencair. Akibatnya, permukaan air laut pun meningkat. Hal ini berbahaya untuk pulau-pulau kecil karena mereka bisa saja akan tenggelam. Karena terjadi perbedaan tekanan udara yang mencolok, angin-angin semacam puting beliung akan lebih sering terjadi di beberapa daerah. Musim kemarau dan musim hujan menjadi semakin sulit ditentukan periodenya. Kadang-kadang, ketika sebenarnya sudah masuk musim kemarau, ternyata masih saja turun hujan. Sebaliknya pada musim penghujan, air kadang-kadang sulit dicari karena hujan tak kunjung datang. Intinya, kondisi alam ini benar-benar telah berubah dan prakiraan cuaca yang pada dasarnya sudah sulit dilakukan akan menjadi semakin sulit untuk diprediksi dikemudian hari.

pabrik1 Apa yang menyebabkan peningkatan lapisan gas rumah kaca? Tidak lain adalah akumulasi gas-gas terutama CO2 di atmosfer yang disebabkan karena penggunaan bahan bakar fosil yang semakin banyak melalui industri, kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Peningkatan ini tidak dimbangi dengan peningkatan jumlah hutan sebagai penyerap CO2. Hutan banyak ditebang untuk berbagai kepentingan misalnya untuk pemukiman, bisnis kayu ilegal bahkan banyak hutan yang sengaja dibakar untuk pembukaan lahan pertanian. Otomatis, pohon-pohon yang berfungsi untuk menyerap CO2 ini jadi semakin langka. Jumlah CO2 di atmosfer menjadi semakin banyak. Lengkap sudah penderitaan bumi kita ini yang menjadi semakin panas.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan yang paling banyak. Namun ironisnya, Indonesia juga masuk Guiness Book of Record sebagai negara yang menghancurkan hutan paling cepat. Tentu hal ini bukan sebuah prestasi yang patut dibanggakan bukan? Sebuah tayangan di salah satu stasiun TV memperlihatkan banyak data bahwa dalam 100 tahun terakhir ini, permukaan laut naik 1 meter, curah hujan meningkat 1 % yang memungkinkan badai lebih sering terjadi, air bersih berkurang 10 – 30 % di daerah tropis, sekitar 14 % kematian balita disebabkan karena polusi udara. Ini semua adalah dampak dari Climate Change: Global Warming. Jangan salahkan iklim yang sudah berubah, tapi salahkan diri kita yang telah merubahnya.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 3-14 Desember 2007, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konvensi Perubahan Iklim yang digagas PBB di Nusa Dua Bali. Sebelumnya ada Protokol Kyoto yang merupakan konvensi yang disepakati oleh 176 negara tahun 1997 di Jepang dimana sebanyak 36 negara adalah negara industri di Uni Eropa. Dalam konvensi tersebut, mereka bertekad untuk mengurangi emisi negara mereka hingga 5% tahun 2012. Protokol ini akan habis masa berlakunya tahun 2012 nanti. Konvensi di Bali ini menjadi sangat penting karena menjadi peta jalan melalui “Bali Road Map” untuk menghasilkan protokol-protokol berikutnya seperti di Polandia (2008) dan Denmark (2009) untuk menggantikan Protokol Kyoto.

Dalam Bali Road Map tersebut dibahas, berapa banyak negara-negara maju tersebut bisa mengurangi emisinya (melalui REDD, Reduction Emission from Degradation and Deforestation) dan mereka diharapkan memberikan kompensasi dana kepada negara-negara berkembang yang masih memiliki hutan –seperti Indonesia– semacam Carbon Trading atau perdagangan karbon. Hutan terbukti efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seperti yang dijelaskan tadi. Sebagai langkah awal, Indonesia melalui Ibu Ani Yudhoyono bersama ibu-ibu lain dari seluruh Indonesia rame-rame mengadakan gerakan tanam dan pelihara pohon tanggal 1 Desember 2007 yang lalu. Ini adalah langkah konkrit Indonesia dalam menyelamatkan bumi ini, karena banyak hutannya dibabat secara ilegal.

Saat ini, penyumbang emisi terbesar adalah Amerika Serikat, China dan India. Hampir semua negara kalam konvensi Bali ini mau meratifikasi Protokol Kyoto dan berkomitmen untuk mengurangi emisinya di tahun-tahun mendatang. Hanya Amerika Serikat (AS) yang masih tetap ngotot tidak mau meratifikasi. Padahal negara tersebut paling banyak menyebabkan bumi ini panas melalui emisi dari industri. Bahkan Australia yang nota bene temen dekat AS, sudah mau meratifikasi protokol Kyoto. Mungkin karena Perdana Menterinya baru yaitu Kevin Rudd menggantikan Jhon Howard.

Akhirnya, AS menjadi satu-satunya negara yang “membangkang” dan “mengacaukan” jalannya konvensi karena keputusan masih sulit dibuat. Walaupun konvensi di Bali ini belum bisa diambil keputusan –karena sifatnya hanya mediator atau jalan menuju protokol baru– tetapi sikap alot AS benar-benar memperlihatkan sikap yang tidak bertanggungjawab. Negara tersebut adalah penyumbang emisi terbesar, maka sudah sepantasnya dia yang paling bertanggung jawab akan akan nasib bumi yang semakin panas ini..

Semoga saja, pasca kepemimpinan George W Bush nanti, AS menjadi semakin melunak dan mau meratifikasi protokol Kyoto seperti rekannya Australia dan negara Uni eropa pada umumnya. Ya, semoga saja.

Indramayu, 16 Desember 2007
All Rights reserved © 2007

ir-copyraight1

Sumber tulisan :
Berita Metro TV
Koran Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s