Buah Keikhlasan

bi

Suatu hari menjelang berbuka puasa, aku mendengar ceramahnya KH. Zainudin MZ. Beliau menceritakan sebuah kisah menarik.

Ada seorang santri, sebut saja namanya Ali. Dia adalah murid dari seorang kyai kampung, namanya Kyai Hasan. Suatu hari, Ali berniat untuk bersilaturahmi ke rumah gurunya. Di tengah perjalanan, ia melawati ladang miliknya dan melihat singkong yang ia tanam sudah cukup besar. Tanpa pikir panjang lagi, ia gali dan ambil singkong tersebut sebagai hadiah untuk gurunya.

Setelah sampai di rumah Kyai Hasan, ia disambut baik. Sebagai oleh-oleh, Ali pun menyerahkan singkong yang telah ia gali dari kebun miliknya kepada Kyai Hasan dan diterimanya dengan baik pula. Ali menyerahkan bingkisan itu dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih sedikitpun. Mereka pun ngobrol macam-macam. Ketika akan pulang, sang Kyai masuk ke dalam rumah dan berbincang sejenak dengan istrinya.

“Bu, Ali sudah berbaik hati memberi kita singkong. Mau dikasih apa dia sebagai balasannya?” kata Kyai Hasan pada istrinya. Sang kyai memang termasuk orang sederhana. Istrinya menjawab, “Kita tidak punya apa-apa kecuali kambing pemberian saudagar kaya kemaren sore. Bagaimana sebaiknya?”

“Mm… daripada kambing tersebut disini tidak ada yang mengurus, bagaimana kalau kita serahkan saja kepada Ali?” kata Kyai Hasan mengusulkan. Tanpa pikir panjang, sang istri yang taat pada suami tersebut langsung menyetujui. Keduanya adalah sosok manusia yang selalu merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah dan tidak menginginkan harta berlebihan. Hidupnya sederhana tapi berkah.

Ketika akan pulang, sang Kyai menyerahkan kambing itu kepada Ali. Mulanya Ali bingung dan terkejut. Singkong yang ia berikan benar-benar ikhlas, bukan untuk minta balasan dari sang Kyai. Tapi karena Kyai sudah memutuskan, ia pun menerimanya dengan senang hati.

Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang teman, sebut saja namanya Marwin. Si Marwin bertanya perihal kambing yang dibawa oleh Ali. Dan Ali pun menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

Timbul keinginan dalam hati Marwin untuk mendapatkan kambing juga seperti milik Ali. Tekadnya sudah bulat untuk merencanakan sesuatu. Ia pun akan pergi juga ke rumah gurunya, Kyai Hasan seperti apa yang dilakukan oleh Ali. Marwin berpikir, jika si Ali saja yang memberi singkong diberi balasan kambing oleh pak Kyai, pasti kalo dia memberi lebih dari itu ia juga akan mendapat lebih dari apa yang sudah didapatkan Ali. Saat itu juga, tanpa menunggu waktu lagi, Marwin langsung pergi ke pasar, membeli buah durian terbaik kesukaan sang Kyai.

Sesampainya di rumah Kyai, Marwin pun disambut baik. Ia menyerahkan buah durian tersebut sebagai oleh-oleh buat sang kyai. Tentu saja sang kyai sangat senang diberi buah kesukaannya. Dalam hati, Marwin berharap mendapatkan lebih dari yang ia berikan. Setelah ngobrol dengan Kyai, tiba saatnya pulang. Sang Kyai kembali masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada istrinya.

“Bu, adakah sesuatu yang bisa kita berikan untuk Marwin. Dia sudah datang membawa oleh-oleh untuk kita. Nggak enak kalo pulang dibiarkan begitu saja tanpa membawa apa-apa?”

Istrinya menjawab, “Pak, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Kambing tadi sudah diserahkan sama Ali. Yang tersisa ya cuma singkong ini”

“Baiklah, daripada tidak sama sekali, kita berikan saja singkong ini sama Marwin sebagai ganti oleh-oleh yang ia berikan”. Sang istri pun langsung setuju.

Akhirnya singkong pemberian Ali itu diserahkan kepada Marwin. Dalam hati, Marwin sangat kecewa, pemberiaannya dibalas tidak dengan sesuatu yang ia harapkan. Namun bagaimana lagi, ia pun menerima singkong tersebut dengan senyum getir.

Demikianlah buah dari keikhlasan dan ketidakikhlasan yang kita lakukan. Ternyata keikhlasan benar-benar mendatangkan hal-hal baik, lebih dari yang kita kira. Sementara ketidak-ikhlasan justru sebaliknya. Maka bersiap-siaplah untuk kecewa jika pemberian yang kita lakukan kepada orang lain tidak disertai dengan keikhlasan hati.  Semoga kita bisa belajar dari kisah ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s