Pengadilan Senja

peng-se

SEORANG pemuda tengah duduk-duduk santai di depan rumahnya. Tiba-tiba datanglah seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Setelah dipersilahkan masuk, orang asing tersebut memperkenalkan diri, bahwa dia sebenarnya adalah Malaikat Izrail, Pencabut Nyawa Manusia. Betapa kagetnya sang pemuda mendengar pengakuan orang asing itu di depannya. Mulanya ia tidak percaya, namun akhirnya dengan keajaiban-keajaiban yang ditimbulkannya, ia percaya bahwa orang yang dihadapannya benar-benar Malaikat Izrail.

Akhirnya, bertambah takutlah sang pemuda tersebut. Sang pemuda hanya bisa pasrah. Lalu ia menanyakan apakah kedatangan Malaikat Izrail kali ini adalah untuk mencabut nyawanya? Malaikat Izrail menjawab bahwa dirinya belum akan mencabut nyawa sang pemuda kali ini. Betapa bahagianya sang pemuda ketika mendengar jawaban Sang Malaikat. Sebelum pulang, sang pemuda sempat memohon kepada sang malaikat bahwa jika akan mencabut nyawanya, mohon mengirimkan pesan, kabar, tanda atau sejenisnya agar ia dapat bersiap-siap menyambut kematian dengan lebih tenang. Kegembiraan sang pemuda pun bertambah ketika sang malaikat memenuhi permohonannya. Kini ia tidak lagi khawatir akan nasibnya kelak, karena ia bisa “merundingkan kematiannnya” dengan Sang Malaikat Pencabut Nyawa.

Sepeningggal sang malaikat, hidup sang pemuda diisi dengan hura-hura dan kesenangan duniawi. Karena ia yakin, malaikat itu pasti akan memberitahu jika telah tiba ajalnya. Jadi, selama belum ada kabar dari sang malaikat, ia tetap akan menikmati hidup di dunia ini dengan segala macam kesenangan penuh noda dan dosa. Baru nanti jika pesan kematian itu telah datang, ia akan segera bertaubat kepada Sang Pencipta, menyerahkan diri dengan sepenuh hati.

Waktu terus berputar dan berjalan begitu cepatnya. Tahun demi tahun terus berganti. Kini sang pemuda sudah tidak muda lagi. Waktu telah menggerogoti usianya yang kini mulai beranjak senja. Rambutnya yang dulu hitam kini nyaris putih sempurna. Wajahnya yang dulu tampan, kini berubah menjadi keriput dimakan usia. Tubuhnya yang dulu gagah, kini telah menjadi lemah. Tenaganya sudah mulai terkuras habis. Namun hasrat untuk menikmati kesenangan dunia masih saja terus menggema, karena sampai saat ini ia belum menerima pesan kematian dari sang malaikat pencabut nyawa.

Suatu malam, dalam keadaan mabuk ia menyeberang jalan. Segala sesuatu memang telah dituliskan Allah dalam Lauhul Mahfudz. Pemuda yang telah menjadi tua itu akhirnya menemui ajalnya, mati tertabrak mobil yang kebetulan lewat, tanpa pemberitahuan dari sang malaikat. Akhirnya ia pun menemui kematian dengan segunung dosa. Sayup dalam kematiannya, ia masih sempat merutuk. Menyalahkan sang malaikat yang dianggapnya telah ingkar janji.

Zaman sudah berganti. Tibalah kita pada zaman kiamat menuju zaman akhirat. Semua makhluk Allah diadili dengan pengadilan yang seadil-adilnya olah Hakim Yang Maha Adil, termasuk sang pemuda tadi. Setelah ditimbang, keburukannya sudah pasti sangat banyak jika dibandingkan dengan kebaikan yang dilakukannya semasa hidup. Dan ia pun diputuskan masuk ke dalam neraka.

Namun, pemuda itu protes mengingat perjanjian yang telah dilakukannya dengan sang malaikat semasa hidup di dunia. Sang malaikat dianggapnya telah ingkar janji. Pemuda itu menuntut, bahwa perbuatan dosanya adalah gara-gara sang malaikat. Maka sudah sepantasnyalah sang malaikat dipersalahkan dalam masalah ini.

Akhirnya sang malaikat pun diperkenankan mengajukan pledoi (pembelaan) berkaitan dengan masalah ini.

“Wahai fulan, apa yang kiranya membuatmu menuntutku?” sang malaikat bertanya.

scalesj“Dulu, sewaktu masih di dunia, kita pernah bertemu. Saat itulah aku meminta kepadamu agar memberi kabar jika kematianku telah semakin dekat agar aku bisa mempersiapkan diri menghadap Sang Pencipta. Namun setelah lama menunggu, kabar itu pun tidak pernah datang, hingga akhirnya kematian datang menjemputku tanpa pemberitahuan. Engkau telah mengingkari janjimu kepadaku”.

“Maha Suci Allah. Benar aku telah bertemu denganmu. Dan benar pula aku telah berjanji kepadamu akan hal itu. Aku tak pernah lupa akan janjiku padamu. Sungguh, aku sudah sering mengirimkan pesan kematian kepadamu sebelum ajal menjemputmu. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Hanya saja kau tidak menyadarinya”.

“Apa? Benarkah engkau telah mengirimkan pesan-pesan itu? Apa buktinya, karena aku tidak pernah menerimanya? ”

“Kau memang tidak pernah menyadarinya. Ingatlah! Bukankah dulu rambutmu hitam kemudian berubah menjadi putih. Matamu yang dulu tajam lalu berubah menjadi rabun, telingamu pun berubah menjadi tuli. Wajahmu yang dulu tampan, berubah menjadi keriput. Badanmu yang dulu gagah kemudian berubah menjadi lemah. Tenagamu semakin lama semakin habis seiring bertambahnya usiamu. Adakah kau menyadarinya bahwa semua itu adalah pesan-pesan yang kukabarkan kepadamu akan dekatnya kematianmu. Sungguh engkau adalah makhluk yang lalai karena tidak menyadari semua ini. Kau masih saja terlena dengan kehidupan dunia yang fana. Padahal telah banyak kukirimkan kabar kepadamu” kata sang malaikat.

“Jadi itu semua pesan-pesan kematian darimu untukku?”

“Benar dan kau tidak pernah menyadarinya, terlena sampai kematian yang dijanjikan Allah datang kepadamu. Sekali lagi, bukan tanpa pemberitahuan kematian itu datang kepadamu, tetapi kau yang tidak pernah menyadarinya”

Akhirnya pemuda itu hanya bisa menyesali nasib. Semua sudah terlambat dan tidak bisa diulang kembali. Lalu ia dimasukkan ke dalam neraka Allah yang panas membara.

Inilah kisah yang aku adaptasi dari ceramahnya Pak KH. Zainudin MZ yang pernah aku dengar. Subhanallah, Kita tidak perlu mempermasalahkan kisah ini nyata atau hanya sekedar fiksi belaka. Namun dari kisah ini kita telah banyak belajar, bahwa pesan-pesan kematian sebenarnya sudah sering kita dapatkan melalui berbagai tanda. Hanya saja seringkali kita tidak menyadarinya.

Nah, temans. Mulailah sekarang untuk meneliti, sudahkah pesan-pesan kematian itu datang satu persatu kepada kita? Berhentilah sejenak saja. Naikilah mesin waktumu, kembali pada hari-hari yang telah berlalu. Atau pergilah ke masa depan yang tak tentu. Kita akan segera sadar, karena saat itu usiamu telah berkejaran dengan waktu.

All rights reserved (c) 2008

ir-copyraight15

Iklan