Jangan Meminta Umur Panjang

um-pan

COBA tanyakan sekali lagi pada diri kita dan orang-orang sekeliling kita. Maukah kita memiliki umur yang panjang?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, aku ingin memberitahukan sebuah informasi yang pernah aku baca dari sebuah surat kabar (Kompas, 22 Juli 2007) bahwa perempuan Jepang dalam 22 tahun terakhir ini sampai tahun 2006 telah mencatat rekor sebagai perempuan usia terpanjang di dunia. Rata-rata usia mereka adalah 85,81 tahun. Perempuan Hongkong berada di urutan kedua yakni 84,6 tahun disusul perempuang Swiss dan Spanyol dengan usia rata-rata 83,9 tahun.

Sementara untuk pria, Jepang menduduki peringkat kedua dengan rata-rata usia 79 tahun, kalah dari pria Eslandia sekitar 79,4 tahun. Kita tahu, orang-orang yang mempunyai usia terpanjang tersebut pastilah memiliki pola hidup diet yang ketat dan memiliki standar perawatan medis yang tinggi.

Tinggal pertanyaannya yang harus dijawab, maukah kita memiliki usia yang panjang seperti orang-orang di atas? Jika jawabannya iya, lantas apa yang akan kita lakukan dengan usia sepanjang itu?

Orang Indonesia rata-rata memiliki usia hidup 60-70 tahun. Jika kita merujuk pada Rasulullah, usia manusia akhir zaman ini rata-rata hanya 63 tahun saja. Selebihnya hanya merupakan “bonus” dari Allah Swt. Umat Nabi Muhammad memang rata-rata memiliki umur yang pendek jika dibandingkan umur umat-umat terdahulu. Dalam sejarah, kita tahu umur Nabi Adam AS 930 tahun, umur Nabi Nuh AS 950 tahun dan umur Nabi Ibrahim 175 tahun.

Kembali ke masalah tadi. Apa yang akan kita lakukan dengan umur yang panjang ini? Sebagian dari kita mungkin akan menjawab, “Saya tentu akan melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti pesta, tamasya dll! Pokoke yang penting heppi lah”. Apakah selamanya akan seperti ini?

Lalu, setelah kontrak usia kita habis, mau apa kita? Masih bisakah kita merasakan kesenangan seperti kesenangan yang pernah kita rasakan ketika hidup di dunia? Jawabnya belum tentu. Karena usia adalah titipan/amanah dari-Nya, untuk dapat dipergunakan sebaiknya-baiknya oleh kita.

Sebagai manusia, kita memiliki batas kontrak waktu yang telah ditentukan oleh-Nya, dan tugas kita di dunia ini adalah melaksanakan apa yang telah dituangkan dalam surat kontrak tersebut yakni “beribadah kepada Allah” (ada di Surat Adz Dzariaat : 56).

Tentu kita sudah sama-sama tahu, ibadah bukan sekedar masalah ubudiyah yang menyangkut shalat, zakat, puasa atau haji, tapi lebih dari itu segala kegiatan (apapun itu) yang kita niatkan hanya untuk Allah, akan dimaknai sebagai bentuk ibadah pula.

Bekerja keras untuk memberikan nafkah keluarga, walaupun seperti terlihat mengejar materi/duniawi, tetapi apabila dikerjakan dengan niat mengharapkan keridloan Allah, pasti akan memiliki nilai lebih yang berpahala. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Sepanjang itu sesuai syariat dan diniatkan untuk beribadah, tentu memiliki nilai lebih di mata-Nya.

Bukanlah hal yang jelek jika kita memohon kepada Allah agar kita selalu diberikan umur yang panjang, walaupun sebenarnya semua telah digariskan. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana kualitas dari umur kita bukan sekedar kuantitas-nya belaka. Maka dari itu, aku lebih cenderung untuk memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita umur yang berkah (bukan sekedar umur yang panjang). Karena dalam umur yang berkah, kita akan mengisinya dengan hal-hal yang bemanfaat, berguna dan bernilai ibadah. Tidak peduli kalau ternyata umur kita pendek, hal ini tidak masalah karena kualitas umur kita benar-benar bermakna dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini.

Banyak ulama yang berkata, memohon umur yang panjang memiliki dua persepsi. Pendapat pertama, umur kita memang benar-benar dipanjangkan oleh Allah secara kuantitatif. Misalnya, sebelumnya telah digariskan bahwa seseorang berumur 60 tahun. Kemudian karena suatu hal, umurnya bertambah menjadi 65 tahun. Ada hadist yang mengatakan bahwa banyak silaturahmi akan memperpanjang umur kita. Ini mungkin bisa dijadikan salah satu contohnya.

Pendapat kedua, ulama yang mengatakan bahwa umur kita tetap sama seperti yang telah tertuang dalam “kontrak”, namun kualitasnya bertambah. Yang sebelumnya orang tersebut perilakunya tidak baik, karena suatu hal (rahmat Allah), ia berubah menjadi baik. Yang sebelumnya sudah baik malah menjadi semakin baik. Intinya, keberkahan yang ia dapatkan dalam umur. Inilah yang aku maksud.

Imam Ibnu Athoillah As Sukandari pernah berkata, banyak umur yang panjang masanya, akan tetapi sedikit manfaatnya. Dan kadang-kadang umur yang sedikit masanya, (tetapi) banyak manfaatnya.

Tidak ada jaminan umur yang panjang akan menjadikan diri kita lebih baik. Malah banyak juga yang memiliki umur panjang, namun diisi dengan kegiatan yang tidak berguna seperti hura-hura dan pesta pora yang tidak bermakna. Tentu bukan pahala yang didapat, tetapi umur yang panjang tersebut hanya digunakan untuk menumpuk dosa. Umur yang panjang tidak ia gunakan untuk mempersiapkan bekal perjalanan panjang kita menuju kehidupan akhirat: the true life. Sungguh tragis.

Maka pilihan kematian jika menemui kondisi seperti ini adalah lebih baik daripada kehidupan yang diisi dengan dosa. Aku bukan mengatakan bahwa kematian lebih baik dari kehidupan, tetapi lebih melihat pada aspek kemanfaatan umur kita. Imam Ali pernah berdoa : Ya Allah jika kehidupan lebih baik untukku maka hidupkanlah aku dengan mengisinya pada ketaatan kepada-Mu, tetapi jika kematian lebih baik untukku, maka matikanlah aku.

Banyak orang mengatakan, hidup di dunia hanya sekali dan selanjutnya kita akan berlayar menuju negeri akhirat. Maka sudah selayaknyalah batas kontrak umur kita yang singkat ini, harus kita manfaatkan untuk menjalani tugas ibadah dari Sang Maha Pencipta. Seperti yang pernah dikatakan Syekh Abdullah Ba’alawy, mengenai panjangnya umur seorang manusia apabila digunakan untuk berbakti, mentaati serta mengikuti ajaran agama, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya adalah yang disukai. Malahan, kita pun dituntut berdoa seperti itu, sebagaimana Sabda Rasulullah; “Sebaik-baik orang diantara kamu sekalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya”.

Jadi, masihkah kita bersikeras hanya menginginkan umur yang panjang? Yang jelas, lebih baik memohon umur yang berkah. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam umur kita. Amien.

Allrights reserved (c) 2008

ir-copyraight17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s