Bahagia atau Celaka?

ba-a-ce

AKU pernah mendengar sebuah kisah tentang tiga orang perwira muslim yang ditangkap oleh musuh Islam dalam sebuah peperangan. Raja kafir itu bermaksud akan membunuh semua tawanan Islam tersebut. Namun, sebelum melakukannya, ia sempat membujuk para perwira muslim itu dengan berbagai tawaran, satu persatu.

Pada lelaki pertama, sang Raja membujuk, ”Jika kau mau pindah ke agama kami, kami akan membebaskanmu”

Perwira itu hanya diam.

”Kami akan memberimu harta kekayaan. Asalkan kamu mau pindah ke agama kami. Niscaya hidupmu akan berbahagia”

Orang yang pertama itu tetap diam. Kemudian ia berkata,

”Tidak akan ada yang bisa menggantikan Islam sebagai agamaku sampai akhir hayatku. Aku bangga dengan keislamanku” katanya dengan mantap.

Karena dianggap membandel, sang Raja akhirnya berkata,

”Baiklah. Jika itu keputusanmu, terimalah akibatnya. Akhirnya sang perwira itu dipancung dihadapan orang banyak termasuk teman-temannya. Sungguh ngeri! Syahidlah lelaki pertama. Namun, ada keanehan yang terjadi. Setelah putus dari badannya, kepala lelaki itu berputar mengelilingi lapangan sambil membaca Qur’an: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku” (QS. Al Fajr: 27-30).

Sang raja merasa aneh dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Namun dia tidak ambil pusing dengan masalah ini.

Tiba giliran lelaki kedua untuk diinterogasi. Pertanyaan dan tawarannya masih sama.

“Maukah kamu berpindah agama? Jika iya, apapun yang kamu inginkan akan kami penuhi.”

Lelaki itu menjawab, “Tidak!”.

“Kami akan memberimu kekayaan. Kamu akan kami angkat sebagai panglima perang kami! Kamu pasti akan bahagia!”kata sang Raja.

“Saya lebih bahagia menjadi seorang muslim daripada harus mengikuti agama anda!”

Tawaran demi tawaran terus ia terima. Namun hal ini tidak menyurutkan keyakinanannya pada Islam.

“Jika kamu memilih Islam, berarti kamu tahu sendiri konsekuensinya, bukan? Belajarlah dari pengalaman. Lihat temanmu sekarang, dia terkapar mati tak bernyawa. Apakah kamu mau seperti itu?”

“Mati dalam Islam lebih aku inginkan daripada hidup dalam kekafiran seperti anda!”

Karena dianggap membandel, ia juga dihukum pancung. Menyusul temannya yang pertama. Syahidlah lelaki kedua. Lagi-lagi keanehan terjadi. Kepala lelaki kedua ini juga berputar mengelilingi lapangan sambil membaca Qur’an, “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat” (Al Haaqqah : 21 – 23). Kepala lelaki kedua itu berkumpul di tempat yang sama dengan kepala lelaki yang pertama.

Tiba giliran lelaki ketiga. Ia pun diinterogasi oleh Raja.

“Lihatlah! Kedua temanmu mati dalam kesia-siaan. Dia tidak mau menerima tawaranku. Padahal kalau dia mau, dia pasti akan bahagia. Dia akan selamat dari kematian. Dia juga akan kami beri kekayaan dan jabatan yang tinggi. Apapun yang dia inginkan akan kami turuti, asalkan mau berpindah ke agama kami. Nah, keputusan ada di tanganmu sekarang. Apakah kamu mau menyusul jejak teman-temanmu, atau menerima tawaran kami?” kata Raja. Sebenarnya sang Raja sudah yakin, lelaki ketiga ini juga pasti akan mengikuti jejak teman-temannya.

Namun, tanpa diduga lelaki itu begitu gugup dan khawatir. Ia sangat ketakutan. Ia belum siap dengan kematian. Terbayang keluarga yang menantinya di rumah. Akhirnya dengan perasaan gemetar, ia menjawab, “Baiklah. Aku menerima tawaran Paduka Raja”

Tentu saja Raja sangat gembira. Ternyata ada juga seorang perwira muslim yang akan berpindah ke agamanya. Terlihat wajah lelaki ketiga itu begitu gembira. Terbayang ia bisa kembali ke keluarganya dalam keadaan selamat. Tidak hanya itu, ia juga akan mendapatkan kekayaan, jabatan dan apapun yang ia minta pasti akan dipenuhi.

Raja langsung memerintahkan kepada Perdana Menteri untuk mengurus upacara penyambutan. Namun Perdana Menteri memberi usul,

“Jangan terlalu buru-buru untuk memutuskan, Paduka”

“Kau lihat sendiri tadi. Lelaki itu sudah mau menerima tawaran kita. Ia mau melepaskan Islam dan pindah ke agama kita.” Kata sang Raja.

“Menurut hamba tidak demikian. Coba pikir sejenak. Jika lelaki itu saja berani berkhianat pada agamanya, berkhianat pada teman-teman sesama pejuang. Apakah tidak mungkin suatu saat nanti ia akan berkhianat juga kepada kita?” kata Perdana Menteri memberi argumentasi.

Akhirnya sang Raja mengangguk-angguk tanda setuju. “Lalu bagaimana sebaiknya?”

“Menurut hamba, lebih baik bunuh saja lelaki itu. Ia tidak berguna, seperti kedua temannya yang kini sudah mati!”

Di luar, lelaki itu sudah begitu gembira. Rantai yang mengikatnya sudah dilepas. Dengan senyum sumringah ia berkata pada Raja, “Apakah aku udah bisa bebas sekarang?”

Raja hanya diam. Sejurus kemudian ia langsung memerintah, “bunuh dia!”

Lelaki ketiga itu begitu kaget. Ia tidak menyangka akan ucapan Raja. Namun nasi telah menjadi bubur. Ia telah melepaskan keislaman bersamaan dengan lepasnya kepala dari badannya. Sama seperti dua kejadian sebelumnya, kepala itu juga berputar mengelilingi lapangan sambil membaca Qur’an. Namun ayat yang dibaca sungguh berbeda, “Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?” (Az Zumar: 19). Dan kepala lelaki yang ketiga ini berhenti di tempat terpisah dari kepala kedua temannya. Ia mati dalam kekufuran.

Huuih! Aku menghela nafas. Membaca kisah tadi membuatku begitu merinding. Rasanya sudah cukup jelas. Bahwa bahagia tidak selalu diukur dengan kebebasan, kekayaan, jabatan atau materi apapun itu. Kebahagiaan hakiki adalah bisa mati dalam keadaan suci. Mati dalam keadaan yang diridloi Ilahi. Aku berdoa, semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita dalam Islam sampai akhir hayat kita. Amien.

All rights reserved (c) 2008

ir-copyraight1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s