Berdagang dengan Allah

camelac

Pernahkah anda melakukan transaksi jual beli? Wah, kalo itu mah sering. Tapi bagaimana kalo jual beli tersebut dilakukan ‘langsung’ dengan Allah? Kisah yang pernah aku baca ini sungguh menarik.

Meskipun anak Rasulullah, tidak menjadikan Fatimah memperoleh kelimpahan materi seperti layaknya pemimpin atau raja dunia pada umumnya. Perihidup Rasulullah dan keluarganya sangatlah sederhana. Pun, ketika Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Mereka yang dikaruniai anak-anak (Hasan dan Husain), tetap hidup dalam kesederhanaan, bahkan bisa dibilang seringkali serba kekurangan dalam materi.

Hingga pada suatu hari, gak ada lagi makanan di rumah mereka. Padahal mereka belum makan sama sekali dalam beberapa hari terakhir ini. Satu-satunya harta yang masih tersisa adalah sebuah selimut milik Fatimah. Maka Fatimah menyuruh suaminya untuk menjual selimut tersebut dengan harapan bisa membeli makanan, terutama untuk anak-anak mereka.

Ali pun berangkat ke pasar. Akhirnya, ia berhasil menjual selimut tersebut dengan harga 6 dirham (uang perak). Namun di tengah jalan, ia tidak tega melihat seorang fakir miskin yang menurutnya keadaannya lebih menyedihkan dibandingkan keadaan keluarganya. Karena kasihan, ia pun menyedekahkan uang 6 dirham tersebut kepadanya. Akhirnya ia berniat pulang.

Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang. Orang tersebut menawarkan seekor unta kepada Ali.

“Wahai Bapaknya Hasan, maukah engkau membeli untaku?”

“Bagaimana aku dapat membeli untamu sedangkan uangku saja tidak punya”

“Belilah dengan cara kredit”

“Baiklah. Berapa harganya?”

“100 dirham”

Maka Ali kembali pun kembali ke pasar, bermaksud untuk menjual unta itu kembali. Di tengah jalan ia bertemu dengan orang kedua.

“Wahai Bapaknya Husain, apakah engkau berniat menjual untamu?”

“Benar”

“Berapa akan engkau jual?”

“100 dirham”

“Baiklah akan aku beli dengan memberi untung kepadamu 60 dirham. Jadi aku beli unta ini dengan harga 160 dirham”

“Baiklah.”

Ketika dalam perjalanan pulang, ia kembali bertemu orang pertama, pemilik unta.

“Wahai Bapaknya Hasan, apakah engkau sudah menjual unta itu?”

“Iya, kujual dengan harga 160 dirham”

“Baiklah, itu keuntunganmu. Sekarang bisakah engkau membayar unta itu padaku?”

Ali pun menyerahkan uang 100 dirham kepada orang tersebut.

Sampai di rumah, Fatimah begitu heran karena Ali memperoleh uang begitu banyak, 60 dirham. Padahal ia yakin, harga selimutnya tidak semahal itu. Ali pun menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Aku berdagang dengan Allah. Dengan modal 6 dirham, Dia memberinya 60 dirham. Aku memperoleh keuntungan sepuluh kali lipat.” Mereka pun bersyukur tak terkira kepada Allah.

Ali pun akhirnya mendatangi Rasulullah. Ia bermaksud menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Tanpa diduga, Rasulullah telah mengetahui apa yang baru saja terjadi dengan Ali.

“Wahai Ali, ketahuilah! Orang yang menjual unta itu adalah Jibril, sedangkan yang membelinya adalah Mikail dan unta itu adalah kendaraan Fatimah pada hari kiamat” kata Rasulullah. “Bersyukurlah engkau kepada Allah, atas pemberian-Nya kepadamu, dan memujilah kepada-Nya atas nikmat yg telah diberikan-Nya. Allah Maha Mengetahui”. Ali benar-benar bersyukur atas karunia-Nya. Ia merasa sangat bahagia…

All rights reserved (c) 2008

ir-copyraight11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s