Ayat-ayat Cinta: Antara Novel dan Filmnya

aac

PENDAHULUAN

Beberapa waktu yang lalu, antusiasme orang untuk ke bioskop begitu besar. Ketika melewati sebuah salah satu bioskop di kawasan Cirebon aku melihat begitu banyak orang mengantri. Jika sebelumnya bioskop yang hanya dijelali oleh para ABG dan sejenisnya, kali ini, semua lapisan masyarakat mulai dari remaja, muda mudi sampai bapak ibunya pun ikut mengantri. Bahkan, beberapa “aktivis Islam” yang biasanya ogah nonton di bioskop, kali ini mereka pun tak mau kalah ikut mengantri demi tujuan yang sama: ingin menonton film fenomenal yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang. Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta, sebuah film karya Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel laris dengan judul yang sama karya Habiburahman El Shirazy. Bahkan, Pak Presiden SBY beserta staffnya disela waktu sibuknya menyempatkan diri untuk menontonnya. Sungguh luar biasa.

Membicarakan film Ayat-ayat Cinta, pasti tidak lepas dari membicarakan bukunya. Aku berfikir, yang menjadikan film ini begitu fenomenal adalah selain dari rasa penasaran para pembaca novel, juga sepertinya ada semacam kerinduan audiens (baik pembaca novel maupun bukan) yang menginginkan suasana baru akibat kejenuhan film-film yang disajikan bertema itu-itu saja. Menjadi lebih menarik ketika ada sebuah film yang menawarkan tema unik yang dikemas dalam nuansa islami. Dengan timing yang tepat, tentu saja momen ini menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Selanjutnya, apa komentar orang-orang setelah menonton film itu? Ah, aku tidak akan membicarakan komentar orang dulu. Aku akan ‘membedah’ Ayat-ayat Cinta menurut versiku sendiri. Maka, melalui tulisan ini, aku akan membandingkan Ayat-ayat Cinta antara novel dan filmnya.

NOVEL AYAT-AYAT CINTA

gambar51Harus kuakui, kalau buku ini adalah salah satu buku yang menginspirasi hidupku. Bahkan tidak berlebihan pula jika kukakatan bahwa buku ini menjadi titik balik diriku setelah kejatuhan yang pernah kualami. Setidaknya aku mendapatkan spirit baru setelahnya. Maka, tidaklah berlebihan jika buku ini termasuk ke dalam novel pembangun jiwa, seperti yang tercantum dalam tulisan di cover-nya.

Kisah dibalik proses membaca buku tersebut pun cukup dramatis aku alami. Sebelum membacanya, sebenarnya aku sudah tahu ada novel itu. Banyak yang berkomentar kalo novel itu bagus. Entahlah, karena aku sendiri belum membacanya. Sampai suatu ketika, tukang jual ketoprak / es buah terlihat sedang membaca buku itu (hi..hi. hebat banget kan?). Aku lihat dan membaca buku tersebut sekilas, berbincang sebentar dengan penjual itu. Katanya novel itu bagus dibaca buat orang yang belum nikah. kalo dia mah udah telat katanya (walapun dia tetap membacanya juga). Entah karena “promosi” atau apa, aku pun seperti tertarik untuk membacanya. Hingga akhirnya, ketika ada kesempatan, aku pun membaca novel fenomenal itu.

Menurutku, Ayat-ayat Cinta merupakan sebuah buku yang lengkap. Aku sependapat dengan sebuah komentar yang mengatakan jika novel karya Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy) ini bukan sekedar novel islami, tetapi juga novel politik, budaya, fikih, sejarah,ekonomi dll. Pokoke lengkap banget deh. Sebelum menjadi buku, novel ini sempat menjadi cerita bersambung yang dimuat di koran Republika. Gaya penceritaan sendiri sangat sederhana, jauh dari kesan sastra yang berat. Namun itulah kelebihannya. Orang-orang awam yang kurang mengenal sastra (kebanyakan sastra sulit dicerna terutama oleh orang awam) justru dapat mengikuti alur ceritanya yang memang disajikan dengan jelas.

Entah karena aku sedang ‘jatuh’ atau memang novel itu dasarnya memang bagus, maka setelah selesai membacanya, tanpa sadar aku bergumam, “Luar Biasa!”. Novel ini mengisahkan tentang seseorang yang bernama Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah S2 di Al Azhar Mesir. Novel ini menyajikan banyak sesuatu yang berharga dalam kehidupan selain ceritanya yang seru karena tidak bisa ditebak. Bagiku novel ini bagus banget. Banyak hal yang bisa aku petik dari novel ini, diantaranya adalah :

1. Jadilah selalu orang baik (dengan bertaqwa kepada Allah Swt) karena pasti kau akan mendapatkan kebaikan pula (ini yang penting).

2. Untuk menggapai sesuatu haruslah serius dan penuh perjuangan, pasti akan tercapai dan Allah akan selalu menolong kita.

3. Kita tidak hidup sendirian, maka dari itu bangunlah ukhuwah (persaudaraan) diantara sesama manusia, berbakti kepada ortu, hormat kepada guru, sayang pada saudara, hormat pada tetangga dll, karena hal ini akan berguna suatu saat kelak.

4. Jangan pacaran! (he..he.. ini yang seru). Allah akan memilihkan jodoh yang baik buat orang yang menjaga dirinya dari hal yang satu ini… ^_^

5. Buatlah rencana-rencana melalui peta hidup kita beberapa tahun mendatang. Manusia memang berencana tapi Allah yang menentukan.

6. Kesedihan yang kita alami bukan sesuatu yang buruk karena mungkin dari situ kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan ini.

7. Belajarlah ilmu agama karena ini adalah wajib buatmu. Belajar juga ilmu bahasa karena ini penting buatmu. Lengkapi juga dengan ilmu yang lain.

8. Hidup itu adalah rahasia Allah, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita. Kita hanya menjalaninya saja dengan berikhtiar dan berdoa, lalu kemudian bertawakal.

9. Jadilah penulis yang disiplin! (untuk yang berkeinginan menjadi seorang penulis)

10. dan lain-lain (abis banyak banget sih… kalo mau tau lagi, baca aja sendiri ya, hi.hii… )

Satu-satunya kelemahan dalam novel ini adalah tokoh utamanya yang sepertinya tidak punya kelemahan. Gitu kata orang. Tapi Anis Sirsaeba mengatakan kalo mencari sosok Fahri di Indonesia memang agak sulit. Kalo di Mesir sendiri, kita tidak terlalu sulit untuk menemui “fahri-fahri” semacam ini. Entahlah. Yang jelas, novel ini sungguh merupakan kado terindah khususnya buatku pribadi untuk memandang bahwa kehidupan memang harus dilanjutkan. Kehidupan yang lebih baik, tentunya..

FILM AYAT-AYAT CINTA

aac2Jika novelnya mendapat apresiasi yang begitu besar dari pembaca (terbukti dari cetak ulang berkali-kali dan mendapat endorsmen (komentar) yang banyak dari pembaca buku tersebut), lalu bagaimana dengan filmnya? Mungkin karena rasa penasaran yang sangat tinggi (terutama dari para pembaca) dan kejenuhan tema film yang ada sekarang ini yang hanya mengusung tema cinta picisan dan horor belaka, maka kehadiran film Ayat-ayat Cinta seolah menjadi oase di tengah padang gersang jiwa. Mendengar opening music dalam film ini sungguh membuatku merinding, seolah kita akan segera masuk ke ruang terdalam jiwa dengan nuansa yang berbeda. Dan benar saja, seperti pandai memanfaatkan momen dan kesempatan, film Ayat-ayat Cinta besutan sutradara muda Hanung Bramantyo ini benar-benar menjadi film fenomenal seperti juga bukunya. Di mana-mana orang pada ngomongin film itu. Ternyata pengaruh media sungguh luar biasa. Film dan novelnya menjadi heboh dan sangat fenomenal.

Tadinya, film ini mengambil syuting di Mesir. Tapi karena mahalnya biaya produksi di sana, maka syuting film dipindahkan ke India. Kebetulan India juga punya sungai-sungai dan pemandangan yang indah yang bisa disamarkan menjadi Mesir seperti pada setting kisah ini.

Lalu, bagaimana komentarku tentang film ini? Mm.. Jika dibandingkan dengan film indonesia pada umumnya, film ini sungguh sangat bagus. Sangat jarang ada film model gini (ya… bisa dihitung jari deh, film-film yang aku acungin jempol). Namun jika dibandingkan dengan novelnya, aku sedikit kecewa. Dalam film, ada beberapa karakter yang berbeda jika dibandingkan dari novelnya. Trus, yang dijual dari film ini lebih banyak masalah cinta. Porsi religiusitas, motivasi dan ilmu pengetahuan terbilang cukup kecil. Padahal, jujur saja, hatiku gerimis ketika membaca novel itu gara-gara nilai religiusitas dan motivasinya yang sangat tinggi.

Aku sangat kagum dengan tokoh Fahri yang begitu bersemangat menuntut ilmu, sampai bersusah payah segala meski cuaca sangat tidak bersahabat. Aku benar-benar termotivasi, minimal untuk menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Dan sayangnya itu tidak kutemukan di film ini. Mungkin sang sutradara ingin menjadikan tokoh Fahri lebih “manusiawi” dengan karakter Indonesia-nya.

Aku kagum dengan tokoh Aisha di novel karena selain kaya ia juga rendah hati. Selain itu juga, ia juga lemah lembut, cerdas dan tidak selalu memandang kekayaan adalah segalanya. Lagi-lagi aku juga tidak menemukan karakter ini dalam film . Entah sengaja atau tidak, menurutku karakter Aisha telah berubah, bukan sosok Aisha yang “aku kenal” di dalam novel.

Porsi pemandangan Mesir juga sangat sedikit. Piramid hanya numpang lewat. Kemegahan Al Azhar, salah satu universitas tertua juga tidak terlihat. Padahal, sebagai penonton (yang sudah membaca bukunya) aku ingin setting latarnya menjadi bisa divisualisasikan dengan jelas. Namun aku harus maklum, karena syuting film ternyata bukan dilakukan di Mesir. Dan ini menjadi semacam kelemahan tersendiri.

Lebih lanjut, aku kecewa dengan jalan cerita di film ini yang sudah diubah dari cerita aslinya di novel. Jika dalam novel, tokoh Maria belum sempat merasakan hidup bersama Fahri dan Aisha sebagai satu keluarga karena keburu meninggal dunia, maka di film ini mereka sempat hidup bersama. Poligami benar-benar dieksploitasi habis-habisan di film ini. Padahal, penulisnya sendiri bilang kalo poligami hanya merupakan rukhsoh atau keringanan dari Allah kepada hamba-Nya dan bukan merupakan suatu keharusan. Mungkin inilah yang menjadikan dasar Kang Abik segera “mewafatkan” tokoh Maria sebelum sempat hidup bersama. Dan bagiku, kisah seperti ini menjadi lebih dramatis dan penuh misteri. Lagi-lagi, mungkin sang sutradara ingin membuat tokohnya jadi lebih “manusiawi”. Mungkin juga ingin sang sutradara ingin mengangkat lebih jauh tema poligami yang cenderung kontroversial ini.

Tokoh Saiful digambarkan sebagai teman seangkatan dengan Fahri. Padahal dalam novel, semua teman kostnya adalah adik kelas. Trus, dari novel aku lihat kalo Fahri adalah sosok yang sangat religius, sangat jarang berdua-duaan dengan lawan jenisnya. Tapi di film, tokoh Maria dengan bebasnya main ke rumah kost Fahri.

Film memang berbeda dengan novel. Ada banyak pertimbangan dan kepentingan yang bermain dalam film ini. Seperti yang dikemukakan oleh Hanung sendiri ada 3 kepentingan yang bermain dalam film ini, yakni kepentingan “pengikut” Kang Abik (alias pembaca novel), kepentingan umat islam pada umumnya dan kepentingan produser. Produser tentu pengen filmnya laris manis ditonton oleh banyak orang. Pembaca pengen filmnya sama persis dengan imajinasinya ketika membaca bukunya. Dan ummat Islam sendiri punya kepentingan untuk menilai apakah film ini layak atau tidak disebut sebagai film Islam. Karena banyaknya kepentingan tersebut mengakibatkan film ini menjadi cukup berbeda dengan novelnya.

Terlepas dari semua kekurangan itu, film ini cukup bagus jika dibandingkan dengan film bertema cinta lainnya di Indonesia yang lebih mengueksploitasi kevulgaran. Satu lagi, film ini masih bisa membuatku hatiku gerimis kok, salah satunya adalah adegan ketika orang tua Fahri di kampung halaman yang menangis bahagia mendengar anaknya bebas. Bagiku, ini cukup mengharu biru. Bagaimana dengan teman-teman?


Indramayu, 24 Maret 2008

All rights reserved © 2008

ir-copyraight13


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s