Perkawinan Sains dan Sastra

Apa jadinya jika Sains alias ilmu-ilmu eksakta macam Fisika, Matematika, Kimia atau Biologi ‘menikah’ dengan seni Sastra? Mm.. sepertinya menarik juga. Saya jadi tersenyum geli membayangkan Sains yang cool akan bersanding mesra dengan seni Sastra yang eksotis.
Dan hal ini benar-benar terjadi. Akhirnya mereka pun menikah. Malah sudah punya ‘momongan’ lagi. Dialah yang kita sebut sebagai Fiksi Ilmiah.

Banyak buku-buku, tulisan-tulisan yang bersifat ilmiah, yang mengandung ilmu pengetahuan. Namun buku-buku tersebut seringkali sulit untuk dipelajari dan dikonsumsi secara umum oleh masyarakat. Alasannya memang agak terdengar klise yaitu malas, tetapi itulah fakta yang terjadi di masyarakat kita. Selain itu, sebagai masyarakat awam seringkali kita merasa tidak mengerti dengan tulisan-tulisan ilmiah. Salah satu altenatif yang mungkin bisa membantu adalah dengan pengadaan buku-buku fiksi ilmiah.

jules_verne_et_les_polesJika kita membicarakan tentang fiksi ilmiah, kita tidak akan lepas dari satu tokoh yang disebut sebagai Bapak Fiksi Ilmiah yaitu Jules Verne. Melalui tulisannya yang berupa novel, 20.000 Mil di Bawah Permukaan Laut, beliau memproyeksikan penggunaan kapal selam sebelum ditemukan oleh manusia dan memprediksi penggunaan listrik sebagai sumber tenaga, 100 tahun sebelum listrik itu sendiri ditemukan. Dalam novelnya, Perjalanan ke Bulan, Jules Verne juga memprediksi usaha manusia untuk melakukan perjalanan ke bulan, sebelum adanya misi Apollo dilaksanakan. Penulis lain yang juga seorang astronom Perancis, Camille Flammarion, telah menulis novel yang berjudul Lumen tentang perjalanan yang lebih cepat dari cahaya, 30 tahun sebelum Einstein mengemukakan postulatnya tentang relativitas. Tulisan-tulisan tersebut dianggap sebagai karangan yang mengada-ada dan mustahil terwujud pada zamannya. Namun seriring berjalannya waktu justru karya-karya tersebut menjadi inspirasi bagi orang lain sehingga tidak lagi disebut mustahil.

Salah seorang nama penulis fiksi ilmiah produktif masa kini adalah Michael Crichcton. Melaui novel-novelnya, Jurrasic Park, Lost Word, Sphere dan Time Line kita bisa melihat adanya unsur ilmiah yang mendominasi karya tersebut di samping alur cerita yang mengasyikkan, sehingga memang pantas novel-novel tersebut seringkali menjadi best seller internasional, bahkan sudah dibuat filmnya.

supernovaDi Indonesia, tidak banyak penulis fiksi dijalur fiksi ilmiah. Sedikitnya ada dua tokoh yang menjadi ikon fiksi ilmiah saat ini dan hebatnya keduanya adalah perempuan yaitu Dewi “Dee” Lestari dan Eliza V. Handayani. Dewi terkenal lewat novel perdananya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh, sedangkan Eliza V. Handayani yang disebut-sebut Taufik Ismail seperti Fansuri zaman kini, tampil dengan novel fantastisnya, Area X : Hymne Angkasa Raya. Mengapa kedua novel tersebut menarik, tak lain adalah karena selain menyajikan alur cerita yang cukup mengasyikkan, kedua novel ini juga secara tidak langsung menyampaikan pesan-pesan ilmiah yang disajikan dengan baik. Membaca novel-novel tersebut tidak ubahnya seperti membaca pengetahuan dari sudut pandang yang lain. Kata–kata seperti solar plexus, gelombang soliton, avatar, teori chaos yang seringkali muncul dalam perdebatan ilmiah ditampilkan dengan apik oleh Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Bambang Sugiarto menganggap novel Dewi ini merupakan sebuah petualangan intelektual yang menerabas segala sekat disipliner antara fisika, psikologi, religi, mitos dan fiksi. Sedangkan, Helvy Tiana Rosa, seorang penulis dan pengamat sastra menganggap bahwa karya Eliza benar-benar menakjubkan. Kita yang seringkali pusing mempelajari astronomi, justru akan merasa penasaran setelah membaca novel ini.

area_xAda benang merah yang bisa ditarik dari kedua novel tersebut yaitu kepuasan. Pertama, pembaca merasa puas karena bisa menikmati karya sastra dalam hal ini fiksi yang menjadi hobinya. Kedua, pembaca merasa puas karena memperoleh pengetahuan baru tentang sesuatu yang bersifat ilmiah tanpa sadar. Hal ini tentu saja, akan menambah pengetahuannya. Dua contoh novel di atas membuktikan bahwa masalah ilmiah tidak sesulit yang dibayangkan oleh masyarakat umum/awam tetapi menjadi sesuatu yang lebih mudah untuk dipahami melalui karya sastra (fiksi ilmiah). Informasi ilmiah juga menjadi lebih luas cakupannya, tidak hanya dinikmati oleh kalangan intern kampus atau kaum terpelajar semata.

Sebagai insan ilmiah, para mahasiswa atau kaum intelektual lainnya terutama yang berada di jalur sains, sebenarnya telah memiliki modal yang banyak terkait dengan masalah ilmiah dan eksakta ini. Hanya saja perlu sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan ilmiah tersebut untuk bisa dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas. Karya sastra terutama fiksi ilmiah ini agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu sarana alternatif dalam pencapaian maksud dan tujuan tersebut.

Nah, bagaimana pendapat teman-teman?

Indramayu, 11 November 2005

All rights reserved © 2005

ir-copyraight16

Sumber bacaan:

– Dapur Kreatifitas Para Juara, DAR!Mizan

– Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, Trudee books

– Internet

2 comments on “Perkawinan Sains dan Sastra

  1. Merinding ngebacanya. Karya-karya yang aku garap kayaknya ga ada lebih-lebihnya dibanding karya-karya ketiga penulis di atas. Karyaku juga fiksi ilmiah, sih, tapi tidak “mencerahkan”. Musti belajar lagi, nih….

    >>>pH: wah, hebat bisa bikin novel. Judulnya apa? Selamat ya. Tetep seumangat!! ^_^V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s