Laskar Pelangi: Fiksi atau True Story?

Salah satu buku sastra paling populer beberapa tahun belakangan ini adalah novel Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Ini merupakan buku pertama dari tetralogi di samping Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Saya tidak akan membahas keempat buku tersebut secara bersamaan, karena pada tulisan ini saya akan lebih banyak mengungkap tentang buku best seller (sebenarnya rata-rata keempatnya merupakan best seller) yakni Laskar Pelangi.

Selain laris manis dalam bentuk buku (terbukti dari cetak ulang yang berkali-kali), Laskar Pelangi juga telah ditampilkan dalam bentuk layar lebar. Kisahnya menjadi lebih dramatis karena pembaca dapat bisa secara langsung melihat dengan jelas visualisasi dari novel tersebut. Selain menyajikan pemandangan alam Belitung yang indah (yang masih belum banyak terjamah tangan manusia), kita akan terhanyut oleh film yang disutradarai oleh Riri Riza ini. Maka seperti juga bukunya, filmnya pun laris manis bak kacang goreng, ditonton oleh banyak orang. Seperti film Ayat-ayat Cinta, Pak Presiden SBY pun bersama stafnya menyempatkan diri untuk menontonnya. Menonton film ini, sadar atau tidak, audiens akan terhanyut pada kisah sederhana yang mengharu biru ini. Semua rasa menjadi satu, ada sedih, senang, suka, duka, lucu, penuh warna seperti goresan pelangi.

Buku Laskar Pelangi, sebenarnya bukan “murni” novel. Seperti yang dijelaskan sendiri oleh penulisnya kalau Laskar Pelangi sebenarnya merupakan sebuah memoar sebagian kisah hidup penulis beserta teman-temannya semasa kecil yang mereka namakan sebagai Laskar Pelangi. Namun, memoar tersebut disajikan alur (plot) bercerita, sehingga bolehlah kita sebut novel. Ya, sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata (true story) penulisnya. Selain memiliki alur yang jelas, penggambaran tokoh dan setting disajikan oleh Andrea dengan sangat baik. Selain itu, banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa diserap sewaktu membaca buku ini.

anggota-lpLaskar Pelangi mengisahkan tentang sepuluh anak kurang mampu di daerah Belitong yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah Desa Gantong. Namun kemiskinan tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap sekolah. Seperti kehidupan mereka yang serba kekurangan, sekolah mereka pun tak jauh beda. Sangat miris dan memprihatikan. Bahkan sempat akan ditutup jika siswanya kurang dari sepuluh orang. Nama-nama tokoh dalam novel ini terasa begitu nyata, dekat dalam kehidupan kita. Ada Ibu Muslimah dan Pak Harfan, guru dan kepala sekolah mereka. Ada Si Ikal yang suka banget sastra, Kucai sang ketua kelas “seumur hidup”, Lintang Si Jenius, Mahar yang punya Sense of Art yang tinggi, Trapani yang tampan tapi tidak mau lepas dari ibunya, Borek yang punya badan besar dan menganggap dirinya macho, Akiong si anak Hokian, Syahdan yang selalu menjadi “figuran”, dan Sahara, satu-satunya perempuan dalam Laskar Pelangi. Ada juga Hasan, walaupun memiliki keterbelakangan mental, namun dia menjadi tokoh “penyelamat” Laskar Pelangi agar sekolah tidak ditutup karena kekurangan orang. Penulis sendiri menjelma sebagai tokoh Ikal. Selain itu ada tokoh A Ling, sepupu Akiong yang disukai oleh Ikal, juga Flo anak orang kaya yang akhirnya pindah sekolah dan bergabung dengan Laskar Pelangi.

kucai1Kisah Laskar Pelangi sebenarnya sangat sederhana, bahkan terkesan “biasa” saja. Namun karena disajikan dengan baik, dengan penggambaran karakter tokoh yang kuat serta alur cerita yang mengalir lancar, menjadikan kisah ini menarik dan begitu menyentuh kalbu. Sampai-sampai kita terhanyut di dalamnya. Nilai-nilai nilai kesederhanaan, persahabatan, kemanusian, optimisme sangat kuat ditampilkan. Tak jarang kita ikut tertawa dan menangis haru ketika membacanya. Mungkin inilah yang menjadikan novel ini mendapat apresiasi yang begitu besar dari para pembaca dan penonton setelah difilmkan. Para maniak buku dan film benar-benar merasa senang dengan hadirnya Laskar Pelangi.

harun1Dengan kisah sederhana yang dramatis ini, akhirnya banyak orang yang bertanya apakah kisah-kisah –termasuk tokoh-tokoh di dalamnya—dalam Laskar Pelangi benar-benar nyata dalam kehidupan Penulis semasa kecilnya? Pertanyaan ini begitu menggelitik. Sebagian orang mengatakan, kisah tersebut terlalu dilebih-lebihkan oleh penulisnya. Benarkah demikian?

Selain menarik untuk dibicarakan, salah satu televisi swasta sempat menayangkan profil tokoh Laskar Pelangi dalam bentuk yang asli. Mereka sengaja mencari tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut. Mereka mungkin tergelitik juga untuk mengetahui apakah tokoh dalam kisah tersebut ada atau hanya khayalan Penulis semata. Hasil pencarian pun lumayan seru. Sebagian tokoh dalam Laskar Pelangi telah ditemukan. Mereka kini sibuk dengan profesinya masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Berikut diantaranya:

bu-mus1Ibu Muslimah nama aslinya N.A. Musimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Bahkan gara-gara Laskar Pelangi, beliau mendapat penghargaan dari Presiden SBY. Pak Harfan memiliki nama asli K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Lalu si Kucai yang memiliki nama Husaini Rasyid sekarang menjadi anggota DPRD di Belitung, Akiong memiliki nama asli Chau Chin Kiong. Mahar yang memiliki nama asli Akhmad Fajri menjadi guru SMK, Samson punya nama asli Alpino. Harun lengkapnya Muhan Harun. Dan Ikal ya penulisnya sendiri, yakni Andrea Hirata.

ikal-asli-peran2Namun sampai penayangan terakhir, sosok Lintang yang digambarkan sangat jenius tetapi miskin ini masih menjadi misteri dan tidak dikenal oleh tokoh-tokoh asli anggota Laskar Pelangi. Ada tokoh yang mirip tetapi setelah diteliti lebih lanjut ternyata bukan Lintang yang ada dalam Laskar Pelangi. Pencarian masih terus berlanjut, dan tokoh Lintang yang asli tidak juga ditemukan. Sebagian anggota Laskar Pelangi berpendapat kalo tokoh Lintang adalah interpretasi dari Andrea sendiri. Menurut mereka, satu-satunya anak yang pintar sewaktu kecil adalah Andrea sendiri. Namun karena rendah hati, Andrea sengaja menciptakan tokoh baru yang agak berbeda, begitu kata mereka. Ibu muslimah sendiri juga merasa tidak mengenal sosok Lintang dalam novel tersebut. Ketika ditanya tentang hal ini, Andrea berpendapat jika Laskar Pelangi memang sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Namun karena merupakan sebuah novel, tidak berarti semua hal harus diceritakan. Dalam sebuah blog Andrea menjelaskan bahwa tokoh Lintang memang ada, tetapi dia tidak ingin dipublikasikan. Sampai di sini, sosok Lintang masih menjadi misteri. Entahlah, tokoh nyata atau khayalan kah si Lintang ini, hanya Andrea yang tahu.

Selain agar lebih menarik dibaca, mungkinkah hal ini sengaja dilakukan Andrea dalam upaya menginspirasi banyak orang melalui tokoh tersebut? Jika memang demikian, mungkinkah Laskar Pelangi tidak sepenuhnya merupakan kisah nyata, karena di dalamnya dibumbuhi dengan tokoh fiksi alias tokoh khayalan.

Sebuah novel memanglah berbeda dengan berita. Dalam berita, tulisan yang dibuat haruslah sesuai dengan fakta akurat dan kenyataan di lapangan. Dalam novel, tidaklah demikian. Walaupun terinspirasi dari kisah nyata, tidak mutlak harus disajikan fakta akurat di lapangan. Jika demikian, mungkin kisah yang disajikan tidak akan menarik lagi. Bumbu-bumbu fantasi pastilah ada dalam karya novel. Itulah yang disebut seni. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa hampir semua novel (yang didasarkan dari kisah nyata sekalipun) tidak benar-benar murni kisah nyata, walaupun memang terinspirasi dari kisah nyata. Apalagi basic novel sendiri adalah memang karya fiksi. Jadi aku lebih suka menyebut novel-novel seperti ini adalah novel semi-fiksi artinya novel fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata.

Namun demikan, terlepas dari fiksi atau tidak, Laskar Pelangi memang layak dipuji. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Tokoh-tokoh seperti Laskar Pelangi, guru-gurunya, kondisi sekolahnya dan kisah-kisah didalamnya sebenarnya ada di sekitar kita. Bukan hanya di tanah Belitung saja, tetapi ada juga di belahan bumi lain di Indonesia. Laskar Pelangi merupakan sebuah memoar kehidupan yang mengajak kita untuk merenung lebih jauh, terutama tentang betapa krusial-nya kondisi pendidikan kita sekarang ini. Selain itu, semangat kebersamaan, persahabatan, kesederhanaan dan rasa optimisme yang ada dalam novel ini sungguh sangat diperlukan bagi kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Yang jelas, novel dan film ini benar-benar menginspirasi.


Indramayu, 20 Desember 2008

All rights reserved © 2008

ir-copyraight12

sumber gambar : http://abiku2008.multiply.com/

One comment on “Laskar Pelangi: Fiksi atau True Story?

  1. Kalo tetralogi lp itu merupakan novel. Kalo novel meskipun ada penggalan kisah nyatanya tetep aja fiksi. Kan novel jd genrenya fiksi. Karena diacara kick andy,andrea terlanjur menyebut ini memoar yg dipersembahkan utk gurunya. Dan semuanya dikatakan nyata. Maka masyarakat menjadi salah tafsir dan mengganggap ini semua nyata. Padahal ini bukan memoar/autobiografi. Coba anda baca kritikan prof.jacob dikompas yg jg mengkategorikan ini fiksi. Sebenarnya gak ada masalah ini fiksi or fakta. Tp menurut saya larisnya buku ini selain krn esensi ceritanya yg bagus jg karena rekayasa marketingnya yg membuat isu seolah2 ini semua nyata. Padahal ini kan novel. Kalo novel jgn dianggap tlh tjd scr histories. Apalagi dibuku ke4 msh harus ada disclaimer cultural literary non fiction. Ini skrg byk ditanyakan pembaca. Bgmn kalo karya fiksi diklaim non fiksi?.buku lp ceritanya bagus dan menginspirasi. Tp jangan menggunakan rekayasa marketing agar bukunya laris. Kalo begini byk pembaca yg merasa dibohongi. Kalo bukunya bagus pasti byk yg beli jadi gak usah direkayasa

    pH: Tengkiu atas komentarnya. Jadi nambah ilmu nehh.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s