[Cerpen] Terbanglah ke Galaksi!

bumi

“Harus kuakhiri hidup ini” katanya. Seorang wanita dengan wajah kuyu ingin segera mengakhiri hidupnya. Masalah demi masalah kian mengejarnya tanpa henti hingga bebannya demikian berat. Diambilnya tali tambang yang baru saja dibelinya dari warung di ujung jalan. Tekadnya telah demikian bulat untuk menjemput kematian.

“Mengapa aku harus hidup dengan keadaan seperti ini. Aku sudah tidak kuat. Aku sudah sangat lemah”, demikian batinnya bergemuruh. “Mengapa semua terjadi hanya pada diriku?..Mengapa?” Wanita itu bertanya pada dinding, kursi, meja, langit-langit. Apa saja..siapa saja. Namun semuanya hanya bisa diam, menatapnya dengan hati yang pedih. Satu lagi nyawa akan melayang, hari ini. Mereka sebenarnya sudah bosan menyaksikan kematian.

Tali tambang itu segera ia gantungkan pada langit-langit rumahnya. Pintu sudah ia kunci, tirai jendela sudah ia tutup rapat-rapat. Rumah telah lama sepi, tak ada siapapun kecuali dirinya. Dia harus menghadap Tuhan, untuk meminta penjelasan dari-Nya. Mengapa semua bisa terjadi pada dirinya, padahal dia sudah tidak kuat. Bukankah Tuhan tidak akan membebankan masalah di atas kemampuan manusia ? Mengapa… Suasana semakin sunyi dan suram. Semua benda membisu dan menunduk, seolah ikut merasakan akan dekatnya ajal seorang anak manusia.

“Lelaki itu memang pengecut” batinnya masih saja bergemuruh. Tali pengekang sudah digantungkannya dengan kuat. Ia yakin akan kekuatan tali itu. Sekali tarik pasti bisa membuat leher tergantung dan masalah selesai. Itu saja. Kini, ia menggeser kursi untuk tempatnya naik. Kursi plastik yang murah. Dengan mata terpejam, dia pegang tali itu.

“Tuhan, aku harus menghadap-Mu saat ini, menjelaskan segalanya. Sungguh Engkau benar-benar tidak adil pada diriku”. Waktu seolah melambat…

”Tapi, bagaimana rasanya kematian? Sakitkah…? Ah, pasti tidak lebih sakit dibandingkan harus tetap hidup dengan keadaan seperti ini. Menanggung semuanya seorang diri”.

Semua masih melambat. Slide-slide kehidupan yang ia jalani kembali terputar dalam memori otaknya. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga menjadi wanita muda seperti sekarang ini. Mulanya semua berjalan lancar, penuh kegembiraan, namun tiba-tiba saja lelaki itu datang dan menawarkan sebuah kegembiraan. Memang, mulanya kami bahagia. Tapi tiba-tiba saja…Ah, peristiwa di malam itu takkan pernah kulupakan. Lelaki bejat itu telah menodaiku. Kesucianku telah terenggut. Aku telah hitam kini. Hitam, sehitam-hitamnya. Semuanya harus kuakhiri hari ini. Mengingat masalah-masalah itu, aku jadi semakin sedih dan tersiksa. Ya, penderitaan ini harus kuakhiri, hari ini. Batinnya terus bergemuruh.

Lama ia berfikir, hingga berada pada satu persimpangan besar jalan hidupnya. Benarkah kematian adalah akhir dari segalanya? Akhir dari semua masalah yang menghantuinya saat ini… Ah, tiba-tiba ada sebuah keraguan menyelinap dalam dalam jiwanya yang rapuh, justru di saat-saat detik terakhir menjelang ajalnya. Tiba-tiba saja ia terjatuh dalam kelemahan di lantai. Fisiknya terkulai lemah, namun justru inilah yang di tunggu oleh benda-benda bisu di sekitarnya. Mereka semua bergembira karena wanita tadi tidak jadi mengakhiri hidupnya. Wanita itu masih duduk terdiam di lantai. Nafasnya memburu. Ia kembali berfikir dan terus berfikir. Sebuah suara datang tiba-tiba dalam lubuk hatinya.

“Apa jadinya jika kau terus-terusan begini, diam dalam kehampaan ditengah-tengah gunungan masalah. Apakah dengan kematian, kau akan terbebas dari masalah? Tidak. Justru itulah awal dari masalah yang sebenarnya, masalah yang lebih besar dari yang kau hadapi saai ini. Beranikah dirimu menghadap Tuhan dengan segunung dosa? Beranikah dirimu mempertanggungjawabkan kematianmu pada Tuhan? Mengakhiri hidup berarti mengakhiri mimpi-mimpi yang selama ini kau bangun. Menghentikan cita-cita yang selama ini kau cipta. Sanggupkah kau menghadapi segalanya?”. Diam. Dijawab diam.

“Tidak, aku tidak akan sanggup”, wanita itu akhirnya menjawab lirih. “Lalu apa yang mesti kulakukan?” katanya pada suara itu. “Apakah aku harus diam saja menghadapi segalanya, menunggu waktu?”, katanya masih dalam sepi.

“Tidak. Diam bukanlah sebuah jawaban. Diam adalah suatu ketidakpastian. Yang masti kau lakukan adalah berdiri, lalu melangkah dan bergerak sambil tanamkan keyakinan bahwa badai pasti berlalu. Tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya. Jalani saja apa adanya. Bicarakan masalahmu dengan orang di sekitarmu, mintalah pendapat mereka. Dan yang lebih utama : mohonlah ampun kepada-Nya, saja! Serahkanlah segalanya kepada Allah semata. Bersabarlah dengan apa yang ada. Pasti badai akan segera berlalu”. Lalu suara itu hillang begitu saja. Wanita itu terdiam. Lalu menangis dalam kebisuan. Lama dalam sunyi…

1141Bruk!! Tiba-tiba terdengar suara jatuh. Sebuah buku baru saja terjatuh ke lantai dari atas meja. Wanita itu pun bangkit hendak memungutnya, namun ia sempat membaca sebuah tulisan dari buku yang tengah terbuka. Dibacanya tulisan Leila S. Chudori itu dalam hati : “Dalam keadaan pedih dan terpuruk, Nadira, terbanglah ke galaksi itu dan tinggalkan bumi ini. Maka di atas sana bumi ini akan terlihat begitu kecil, hingga kau akan heran mengapa kau harus menangisinya. Setelah itu, kembalilah ke bumi, tariklah nafas yang panjang dan kemudian selesaikan persoalan itu!”

Allrights reserved (c) 2006

Sumber Bacaan:

Buku Hidup Tanpa Masalah, DAR! Mizan Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s