Tuhan Gak Perlu Dibela

Apa yang ada dibenak anda ketika membaca judul tulisan di atas? Mungkin ada yang marah, kesel, geram dan sejenisnya. Mungkin ada juga yang menuduh bahwa judul tulisan ini melecehkan salah satu agama. Waduh, sepertinya rada kontroversial bahkan cenderung provokatif ya? Salah-salah, saya bisa dituduh sebagai orang kafir bahkan atheis sekalian. He..he.. Tapi sabar dulu, temans. Jangan menduga-duga, jangan mengira-ngira. Lebih baik baca sampai tuntas tulisan ini, setelah itu marilah kita renungkan bersama-sama.

tuhantakperludibelaJudul tulisan tersebut serupa dengan judul sebuah buku yang ditulis KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yakni “Tuhan Tidak Perlu Dibela” yang diterbitkan oleh LkiS (1999). Isi bukunya sendiri berisi kritik mendasar terhadap pengetahuan, pemikiran, dan gerakan yang ditampilkan oleh komunitas Muslim yang saat itu lebih senang menampilkan sosok sektarianisme. Lebih lanjut, buku ini mencerminkan sikap Gus Dur untuk mengedepankan semangat kebersamaan, keadilan, dan kemanusiaan serta demokratisasi dalam menyikapi berbagai perkembangan dalam kehidupan sosial politik di Indonesia. Intinya, buku ini mengajak kita untuk menampilkan sikap arif dalam hidup untuk tidak banyak mencela pemahaman agama orang lain, sekaligus menghormatinya dalam kerangka demokrasi dan hak asasi manusia.

Namun, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang buku ini. Yang menarik perhatian saya adalah judul buku yang cenderung kontroversial itu. Memang, selama ini Gus Dur cenderung “menyimpang” dari tata nilai kehidupan umum di masyarakat. Judul tulisan tersebut membuat saya berpikir dan merenung lebih jauh, apakah Gus Dur telah benar-benar murtad?

Hingga akhirnya (setelah memahami dengan hati yang lapang, tentunya), mendadak saya tertawa sendiri. Judul buku yang ditulis Gus Dur itu ternyata tidak salah. Bahkan, saya berani menjamin bahwa judul buku itu 100 persen benar. Judul tulisan di atas bukan mencerminkan pelecehan terhadap suatu agama tertentu. Bukan pula ucapan seorang yang kafir atau cenderung atheis. Bukan, tetapi justru merupakan sebuah ungkapan hati yang tulus dari seorang hamba di hadapan Tuhannya. Gus Dur sepertinya sengaja membalik logika berpikir kita selama ini. Cenderung kontroversial, tetapi setelah dipikir-pikir, ucapannya (atau yang dia tulis) ternyata masuk akal juga.

Coba renungkan, temans. Judul tulisan ini ternyata sejalan dengan akidah tauhid yang kita pegang selama ini. Bahkan sudah diajarkan ketika masih duduk di bangku sekolah masa kanak-kanak dulu. Kita diajarkan bahwa Tuhan Maha Segalanya. Andaikan semua manusia di muka bumi ini tunduk beribadah kepada-Nya, maka hal ini tidak akan menambah kesempurnaan Tuhan yang memang telah sempurna. Begitu juga sebaliknya. Andaikan semua manusia itu membangkang alias tidak patuh kepada-Nya, maka hal itu tidak akan menurunkan derajat kesempurnaan-Nya sedikit pun. Karena Dia adalah Tuhan, Maha dari Segala Maha. Pemiliki Segala Sesuatu. Maka sudah sepantasnya kalau Dia tidak perlu dibela atau tidak memerlukan pembelaan kita sebagai makhluk-Nya. Yang perlu dibela sebenarnya adalah kita, manusia. Tuhan tidak memerlukan hal itu karena Dia Maha Sempurna.

Logikanya gini. Anda adalah seorang manusia (termasuk juga saya, hehehe..). Jika banyak orang yang memuji anda, patuh pada anda, maka secara otomatis gengsi anda naik. Anda benar-benar dikagumi. Tetapi disaat lain, ketika semua orang mencela anda, menjelekkan anda, tidak patuh lagi kepada anda, maka anda baru saja kehilangan gengsi anda di mata mereka. Begitu bukan? Dan Tuhan bukanlah manusia. Jika Dia perlu pembelaan, berarti dia bukan tuhan tetapi manusia juga seperti kita. Tuhan sudah Maha Sempurna, dan tidak memerlukan pembelaan makhluk-Nya sedikit pun.

Lalu bagaimana jika agama kita, nama Tuhan kita dihina, dicacimaki dan sejenisnya? Apakah kita hanya diam saja hanya gara-gara kalimat “Tuhan Gak Perlu Dibela”? Mmm… tentu tidak. Mungkin orang yang melakukan hal ini adalah dikarenakan belum memahami benar hakikat agama yang kita anut. Lebih baik kita beri pemahaman dengan cara yang baik (ma’ruf), bukan dengan cara radikal, seperti kekerasan yang membabi buta. Agama diciptakan bukan untuk sebuah kekacauan, tetapi justru untuk kebaikan umatnya (rahmatan lil ‘alamin). Namun, jika setelah diberi pengertian, mereka masih saja ‘membandel’, maka serahkan segalanya kepada Sang Pemilik Segala, Tuhan Yang Maha Esa. Karena hanya Dialah yang membolak-balikkan hati manusia.

sholluLebih lanjut, semua ibadah yang kita lakukan bukanlah bertujuan untuk menaikkan derajat kesempurnaan Tuhan, tetapi sebenarnya untuk kita sendiri. Tuhan, hakikatnya bukan memerlukan kita untuk menyembah-Nya, tetapi manusialah yang perlu untuk menyembah-Nya. Semua amal ibadah kita akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan. Makanya ada surga dan neraka yang sengaja dipersiapkan untuk umat manusia di akhirat kelak. Manifestasi ibadah yang kita lakukan hendaknya merupakan sebuah bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Semacam ungkapan terima kasih kepada sang Maha Pencipta karena telah diberi nikmat yang begitu banyak. Maka tidaklah salah jika ada ungkapan yang mengatakan kalau ibadah bukanlah sebuah kewajiban, tetapi merupakan sebuah kebutuhan yang harus kita prioritaskan, seperti halnya kebutuhan primer manusia. Maka tak jarang dalam kisah-kisah sufistik, begitu banyak para sufi yang rela meninggalkan “dunia” hanya untuk menikmati kelezatan beribadah kepada-Nya.

Sekali lagi, kita hanyalah manusia, makhluk yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna. Dia tak perlu dibela karena Dia Maha Kuasa. Pembelaan yang kita lakukan kepada-Nya hanyalah merupakan suatu bentuk manifestasi ibadah yang akan kembali untuk diri kita sendiri. Maka masih pantaskah kita angkuh dan membanggakan diri, padahal sebenarnya kita bukanlah apa-apa. Wallahu A’lam Bishshowwab.

Allrigts reserved (c) 2009

Indramayu, 5 Januari 2009

sumber gambar:

http://rindupulang.blogspot.com

http://aboutmiracle.wordpress.com

8 comments on “Tuhan Gak Perlu Dibela

  1. Omong gus dur, didengerin omm…
    sekarang didepan anda, sesorang memaki tuhanmu, menghina tuhanmu.. apakah hanya diam saja ? saya rasa tidak, anda akan membantah atau mengucapkan sesuatu. Bukan kah itu sebuah pembelaan ?
    Salam hangat,

    >>>pH: Itu termasuk pembelaan, Pak! Dan ‘pahala’ nya akan kembali ke masing-masing. Terima kasih atas share-nya, Pak. Senang bisa berdiskusi… ^^b

  2. nice book…….. saya dah baca… buah fikiran Gus Dur yang jenius… butuh obyektifitas yang tinggi untuk memahami isinya….

    >>>pH: Gus Dur emang gitu deh! ^^b

  3. Saya sebenarnya hampir menangis sebelum membaca tulisan Anda karena menemukan secara tidak sengaja banyak sekali perdebatan kotor di Facebook perihal perbedaan agama. Dan waktu saya katakan kotor, maksudnya benar-benar kotor..
    Saya ngga habis pikir kenapa ada yang menganggap Tuhan kita berbeda satu dengan yang lain? Saya betul2 yakin dan percaya yang menciptakan bumi besarta isinya dan juga manusia adalah Tuhan yang satu, Tuhan yang sama. Dan DIA yang luar biasa itu pasti punya maksud menciptakan manusia yang sangat beragam yaitu untuk menyatakan kemahakuasaanNya, untuk segala tujuan baik!
    Bukan untuk saling menyakiti…
    Gus Dur benar; sangat benar; Tuhan tidak perlu dibela, Tuhanlah yang membela kita yang benar2 layak dibela menurut kacamata Tuhan dan bukan kacamata kita sendiri.
    Seperti apa yang patut dibela?
    Kembali ke diri kita masing2 dan bukannya kembali kepada orang lain..
    Saya sendiri seorang Kristiani, tetapi saya memiliki sahabat2 dengan kepercayaan berbeda juga yang benar2 mengasihi saya dan saya kasihi, yang bertahan bersama saya di saat2 sulit dan saya tidak akan menukarnya dengan ideologis bodoh yang mengatakan bahwa mereka salah dan saya benar hanya karena ‘tuhan saya bilang begitu’!
    Dan bila ada yang menghina ‘Tuhan saya’ di depan mata saya, demi Tuhan yang maha perkasa itu saya tidak layak untuk membelanya karena saya tidak lebih besar dari Dia yang maha besar, kecuali saya ingin membela kepercayaan diri saya sendiri dengan alasan yang mungkin saja tergelincir kepada pembenaran diri sendiri -licin dan sangat berbahaya sekali hal-hal seperti itu..
    Saya hanya akan berkata, “Tidak mungkin yang menciptakan kita berbeda. Tuhan ku dan Tuhan mu sama, hanya kita belum mengetahui hingga akhirnya siapa sesungguhnya Dia. Tunggu saja dan nantikan Dia yang pastinya semua agama percaya akan datang kembali mengadili semua umat manusia. Disitu kita akan mengenali Dia dan disitu kita akan mengetahuinya.”

    >>>pH: terima kasih telah berbagi, mbak! ^^b

  4. dan saya seorang Hindu yang sangat mengagumi sosok Almarhum Gus Dur…semoga kelak ada banyak Gus Dur – Gus Dur yang lain di Negara Indonesia yang kita cintai ini yang penuh keanekaragaman

    >>>pH: Iya…

  5. kalau Tuhan tidak perlu dibela. maka Gus Dur pun juga tidak perlu untuk dibela.
    kalau Tuhan tidak perlu dibela dengan alasan Andaikan semua manusia itu membangkang alias tidak patuh kepada-Nya, maka hal itu tidak akan menurunkan derajat kesempurnaan-Nya sedikit pun. perhatikan dengan baik (maaf kalaupun harus berkata kotor, karna ini sebuah contoh). jika suatu saat ada orang mengatakan anjing, monyet kepada kita, lalu bagaimanakah perasaan kita. dan kita tidak perlu marah, karena sampai kapanpun saya yakin walaupun semua orang mengatakan seperti itu, kita tidak akan pernah menjadi seperti itu. lalu buat apa harus marah…….. toh kita juga tidak akan pernah menjadi anjing. betul tidak……

    pembelaan kita kepada Tuhan merupakan bentuk pengabdian kita kepadaNya yang telah menciptakan dan memberi kehidupan kepada kita. seorang budak yang telah dihukum oleh rajanya bukan karena kerajaannya akan hancur jika budak itu tidak taat, tetapi karena budak itu telah membangkang kepada rajanya.
    emang benar kita tidak lebih kuasa daripada Allah. bagi Allah sangat mudah menghukum orang yang membangkang kepadaNya. tapi Allah ingin melihat perjuangan dan keyakinan hambanya kepada agamanya dan Tuhannya.

    *terimakasih*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s