Hujan dan Sebuah Tangisan

where_rain_grows_by_x_horizonSalah satu unsur cuaca/iklim adalah presipitasi. Orang awan akan mengenalnya sebagai hujan. Unsur ini merupakan unsur cuaca/iklim yang lebih banyak dikenal di masyarakat, karena terlihat oleh mata. Lalu, bagaimana proses terjadinya hujan? Para ilmuwan meterologi semenjak dulu telah menyusun banyak teori tentang proses terjadinya hujan.

Membicarakan presipitasi pasti tidak akan lepas dari yang namanya siklus hidrologi yakni suatu siklu/daur air dalam berbagai bentuk, meliputi proses penguapan (evaporasi) dari lautan dan badan-badan air di daratan (mis. Sungai, danau, vegetasi dan tanah lembab) ke udara sebagai suatu reservoir uap air, lalu proses pengembunan (kondensasi) ke dalam bentuk awan atau bentuk-bentuk pengembunan lainnya (mis. Embun, frost/ibun putih, kabut), kemudian kembali ke daratan dan lautan sebagai bentuk presipitasi (termasuk hujan).

Al Qur’an sendiri banyak kata kunci yang menerangkan perihal hujan ini. Berikut diantaranya:

  • An Nuur : 43. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
  • Ar Ruum : 48. Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.
  • Al A’raaf : 57. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
  • Al Furqoon : 50. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

Awan itu banyak macamnya. Biasanya diklasifikasi berdasarkan ketinggiannya. Ada yang disebut awan rendah (< 2000 m) contohnya : stratus, stratocumulus dan nimbostratus. Awan menengah (antara 2000 – 6000 m), contohnya: Altocumulus dan altostratus. Dan Awan tinggi ( > 6000 m), contohnya: Cirrus, Cirrostratus, dan Cirrocumulus. Selain itu ada juga awan yang bisa bergerak naik ke atas (berkembang secara vertika), contohnya: cumulus dan cumulonimbus.

Terbentuknya awan tidak selalu menghasilkan hujan. Untuk dapat menghasilkan hujan, butir-butir awan haruslah tumbuh cukup besar sehingga gaya berat meningkat untuk melawan daya angkat (arus udara naik dari permukaan). Jika tidak demikian, awan akan menguap kembali atau hilang tertiup angin sehingga tidak terjadi hujan.

Selain awan yang banyak macamnya, hujan juga demikian. Berikut diantara tipe pembagiannya: hujan konvektif, orografik, siklonik dan frontal. Penjelasan mengenai macam-macam hujan ini dapat dipelajari lebih jauh dalam ilmu meteorologi.

cry___kecil11Dalam sikap dan perilaku manusia, hujan dianalogikan dengan sebuah tangisan. Selain kasat mata, keduanya memiliki proses yang hampir sama. Hujan tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi melalui sebuah proses (baik itu panjang maupun pendek). Begitu juga dengan menangis. Ia tidak serta merta datang begitu saja, tetapi ada proses-proses yang mengawalinya. Kita bisa menyebut hati sedang sedih dengan analogi cuaca mendung (atau bisa juga hujan) dan bahagia dengan analogi cuaca cerah. Jika hati sedang sedih, biasanya disimbolkan dengan mendung atau berawan. Hujan biasanya terjadi karena kesedihan atau kegembiraan yang memuncak. Biasanya ditandai dengan sebuah tangisan. Bayangkan tanah tandus yang tidak mengandung air. Bagaimana rasanya? Sangat panas dan begitu menyesakkan dada. Maka hujan berupa tangisan bisa menjadi semacam oase ditengah padang gersang jiwa kita. Menangis itu perlu loh entah itu pria ataupun wanita. Jangan takut disebut cengeng, karena menangis merupakan proses alamiah seperti juga hujan. Hujan akan menyirami hati kita yang kering kerontang dan akan menumbuhkan bunga-bunga kebaikan. Tapi hujan juga jangan berlebihan, karena nanti bisa-bisa akan mengakibatkan banjir kan? Tentu ini tidak baik bukan? Jadi menangislah sewajarnya.

Indramayu, 13 Maret 2009

All rights reserved (c)2009

By Ibnu Atoirahman

sumber gambar:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s