Menjilbabi Hati Kita

hijaab2DULU, pada era tahun 80-an (masa-masa ABG gitu, alias Angkatan Babeh Gue. Hi..hi..), pemerintah Indonesia melarang jilbab dikenakan di sekolah-sekolah umum. Entah apa maksud dibalik larangan tersebut, namun yang jelas, (mungkin) pada waktu itu, kita emang terkenal kompak dan kudu seragam, dari Sabang sampe Merauke dalam segala hal termasuk seragam sekolah. Artinya, ya… gitu deh. Jilbab gak boleh dikenakan sebagai seragam sekolah di sekolah umum.

Seiring berjalannya waktu, aturan tersebut akhirnya mulai memudar, walaupun gak seketat dulu sih. Namun sisa-sisa rezim tersebut masih demikian membekas. Contohnya saja, ketika masih sekolah menengah atas dulu (sekitar tahun 2000), saya melihat, teman-teman yang berjilbab “diuji imannya” oleh pihak sekolah (mungkin atas nama pemerintah) dalam hal pemotretan untuk ujian akhir. Pihak sekolah melarang siswanya untuk mengenakan jilbab saat berfoto. Boleh berjibab, asalkan jilbabnya item trus gak dikancing, cukup dicantolkan ke daun telinga biar keliatan telinga dan lehernya gitu (aturan yang aneh..).

Pihak sekolah beralasan, hal itu dilakukan untuk kebaikan siswa sendiri saat kerja nanti, karena sebagian perusahaan (katanya), gak mau menerima karyawan yang fotonya mengenakan jilbab. Jadinya, ya.. gitu deh. Sebagian siswa yang berjilbab harus merelakan jilbabnya dilepas ketika berfoto hanya untuk kepentingan kerja. Namun sebagian lagi tetap keukeuh pada pendiriannya (dan jumlahnya sangat sedikit). Mereka tetap “ngotot” mengenakan jilbab saat berfoto ria. Mengantisipasi hal tersebut, akhirnya pihak sekolah memperbolehkan mereka asalkan menandatangani surat pernyataan bahwa foto berjilbab tersebut dilakukan atas dasar keinginannya sendiri, dan pihak sekolah tidak akan menanggung resiko akibat perbuatan itu dilain hari.

Tapi Alhamdulillah, semua telah lewat. Sekarang jilbab boleh dipakai oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Terlepas dari kebijakan pemerintah Perancis (sekitar tahun 2003/2004) yang melarang warganya untuk mengenakan jilbab di tempat umum, Indonesia sungguh berbeda. Banyak sekolah-sekolah umum, akhirnya memperbolehkan siswanya untuk berjilbab. Tidak hanya itu, mahasiswi perguruan tinggi swasta atau negeri pun boleh berjilbab meskipun bukan dari jurusan agama Islam. Bahkan di kalangan pegawai negeri sipil atau perusahaan tertentu, jilbab adalah pakaian dinas wajib yang dipakai pada hari tertentu pula. Yang jelas, saat ini, jilbab sudah membahana di seluruh pelosok negeri. Melihat fenomena ini, sebagai seorang muslim, aku patut bangga dan berbahagia. Lautan jilbab sudah dengan mudah kita temui dimana saja.

lautan-jilbab2Hanya saja, ada sedikit perasaan yang mengganjal di hati ketika melihat saudara-saudaraku para muslimah yang berjilbab tersebut. Menyusuri lorong demi lorong fenomena jilbab yang akhir-akhir ini lagi mem-booming, cukup menarik perhatian. Disamping bahagia, aku juga jadi merasa sedih karena budaya jilbab di masyarakat kita akhirnya dianggap sepele. Karena sudah dianggap biasa (artinya gak aneh lagi kalo liat orang berjilbab), jilbab sudah seperti pakaian yang bisa dipakai dan dilepas kapan saja dan begitu saja. Hanya sedikit sekali muslimah yang memaknai jilbab dengan arti sebenarnya: memandang jilbab sebagai kewajiban.

Kadang, mereka memakai jilbab hanya untuk tujuan-tujuan tertentu saja, misalnya biar dibilang lebih cantik, lagi nge-tren, ngikutin mode dll. Bahkan ada juga yang berjilbab dengan tujuan untuk mutihin kulit atawa nutupin ketombe. Astaghfirullah! Makanya, jilbab hanya sebatas pakaian “dinas” untuk pergi ke acara hajatan, ketika berangkat sekolah, berangkat kerja atau kalo ada pengajian. Selain dari rutinitas tersebut, ya mereka kembali seperti biasa. Mereka membiarkan dirinya tidak berjilbab, bahkan ketika keluar rumah untuk keperluan tertentu. Jadi jangan heran kalo seringkali kita lihat, siswi-siswi yang berjilbab ketika ke sekolah eh.. ternyata lepas jilbab ketika udah ada di sekitar rumahnya.

model-jilbab2

Yang lebih memprihatinkan, model jilbab yang mereka kenakan pun semakin bervariasi. Ada yang jilbab dengan ukuran mini terus dihiasi gambar-gambar lucu kayak kartun Donal Bebek, Winny The Pooh atau Mickey Mouse. Ada juga jilbab serba ketat yang dibuat dengan cara mengaitkan ujung jilbab ke leher dilengkapi dengan pakaian super ketat dan terkesan kekecilan. Bahkan yang lebih aneh, ada juga yang berjilbab tapi rambutnya masih terjuntai ke bawah dengan bebasnya. Atau ada juga yang berjilbab tetapi bagian lehernya masih terlihat. Padahal Allah sudah berfirman dalam Al Qur’an yang menyuruh muslimah untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh termasuk menutupkan jilbabnya sampai ke dada dengan tidak memperlihatkan perhiasan sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an yakni Surat Al Ahzab : 59 dan An Nur : 31.

Semua fenomena itu belum seberapa! Ini yang lebih parah dan kadang menyakitkan hati. Ada sebagian dari muslimah yang berjilbab itu gak bisa menjaga pergaulan terutama dengan lawan jenisnya. Mereka asik berpacaran seolah tanpa dosa. Bahkan saling bergandeng tangan dengan lelaki yang jelas bukan muhrimnya. Astaghfirullah! Banyak juga yang jilbaban tapi seringkali nonton konser musik metal bahkan ikutan dugem alias dunia gemerlap. Kalo gak gitu, gak bisa dibilang gaul. “Walaupun berjilbab, kita kudu tetap gaul dong!”, gitu kira-kira kata mereka. Aku benar-benar terhenyak.

Fenomena apakah ini, temans? Benarkah makna jilbab sudah terdegradasi? Kalau begitu, benar sabda Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa suatu saat jumlah muslim sangat banyak, namun mereka tidak lebih seperti buih di lautan saja.

Saudaraku kaum muslimah, marilah sama-sama kita merenungi apa yang salah dengan semua ini? Ibarat sebuah barang berharga yang dibungkus plastik, demikianlah muslimah yang berjilbab. Alangkah lebih senangnya jika seluruh muslimah telah berjilbab baik secara fisik maupun hati: kapan pun, dimana pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Mereka adalah orang-orang yang telah mengerti benar hakikat berjilbab (aku lebih suka menyebutnya berhijab), sehingga mampu menjaga dirinya dengan sepenuh hati.

So, bravo en salut buat seluruh muslimah yang sampai detik ini masih terus konsisten menjilbabi fisiknya dan juga hatinya. Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang benar. Semoga kaum muslimah Indonesia senantiasa berbahagia untuk mengenakan jilbab dengan niat yang benar. Wallahu A’lam Bisshowab.

Indramayu, 7 Maret 2009

All rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Sumber Gambar:

http://www.gusmus.net/fileuser/Image/lautan%20jilbab.jpg

http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/hijaab.jpg

http://globallyact.files.wordpress.com/2008/12/6a00d8341c2f5553ef00e54f15bf188833-800wi.jpg

5 comments on “Menjilbabi Hati Kita

  1. ya, banyak yang berjilbab tapi pakai baju ketat, pendek, dsb. Mereka ada yang ikut-ikutan trend, sok, dsb, tapi tak memahami bagaimana sebenarnya menutup aurat yang sesuai syar’i. kebodohan masih melanda saudara-saudara kita, ayo kita bantu memberi pencerahan !

    >>>pH: smoga Allah menolong kita semua…

  2. assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh

    melihat gambar2nya jadi senyam-senyum sendiri dan berpikir, saya termasuk kategori yg mana ya? semoga risau dan pikir tentang jilbab ini ga hanya terjadi pada segelintir orang aja ya. mohon doa agar kami para pengguna hijab bisa istiqamah untuk menghijabi hati kami juga.. insya Allah

    >>>pH: Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuh. Mm… Kami semua berdoa untukmu. Tetep istiqomah, ya…

  3. terima kasih renungan-nya…aq mungkin salah satu dari banyaknya orang yang tidak benar2 memakai jilbab karena makna. Insya Alloh dalam waktu dekat bisa berjilbab dengan lebih baik lagi. salam kenal

    >>>pH: Sama-sama, mbak. Kita saling mengingatkan ya.. Senang berkenalan dengan, mbak ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s