Hajatan Publik itu Bernama PEMILU

logo-pemiluSudahkah anda datang ke TPS hari ini? Bukan ‘Tempat Pembuangan Sampah’, bukan pula ‘Tempat Penitipan Satwa’ (hihihi). Tapi ‘Tempat Pemungutan Suara’. Yuup, bener banget. Pasalnya, hari ini, 9 April 2009 bangsa Indonesia serentak dari Sabang sampe Merauke menyelenggarakan ‘hajatan publik’ yang namanya Pemilihan Umum alias Pemilu. Akhirnya datang juga…

Dulu, orang begitu begitu antusias datang ke TPS buat menyalurkan aspirasinya setiap pemilu tiba. Hajatan besar yang Cuma ada setiap lima tahun sekali. Tapi semenjak ada Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) secara langsung, ajang pemungutan suara macam Pemilihan kepala desa, maka animo masyarakat untuk memilih tidak sebesar dulu. Kenapa? Ada segudang alasan yang menghiasi panggung demokrasi kita. Dan apakah anda sudah menggunakan hak pilih anda? Atau anda justru memilih menjadi Golput alias ‘Golongan Putih’? Mmm…

Bagi saya pribadi semuanya pasti punya alasan. Saya tidak akan buru-buru menyalahkan orang yang’golput’ hanya karena dianggap tidak peduli nasib bangsa sendiri. Ada banyak alasan loh kalo orang memilih untuk menjadi Golput. Misalnya gara-gara tidak terdaftar (ada loh yang gak terdaftar di DPT, tapi ada juga yang dapat dua, walaahh). Ada juga yang terdaftar tapi beda tempat. Dan untuk ikutan milih perlu dana yang besar buat pulang kampung. Hehehe. Ada juga yang udah apatis dengan acara pemilu seperti ini. Mereka udah bosen dengan acara serupa (mulai dari pilkada sampai pemilu dan nanti pilpres), sementara nasib mereka sama-sama saja kayak dulu. Atau mereka apatis, gara-gara terlalu banyak partai dan anggota caleg yang tidak dikenalnya. Nah, kalo yang ini adalah perenungan buat kita bersama. Buat para caleg (yang udah pernah jadi atau baru mulai), harusnya lebih konkrit menyuarakan aspirasi rakyat. Jangan setelah jadi malah menyia-nyiakan amanat rakyat. Dosa besar loh! Malah ada anggota legislatif ketika sudah duduk di kursi ‘empuk’ yang dikerjain malah ngumpulin dana biar balik modal kampanye dulu. Walaaah gawat kan? Mereka seperti terlupa dengan janji yang mereka ucapkan dulu. Waduh! Jangan sampe seperti ini. Buat wakil rakyat yang terpilih nanti, kami hanya bisa berharap agar anda utamakan kepentingan kami, rakyat negeri ini, bukan kepentingan pribadi atau partai-nya sendiri. Karena anda dipilih oleh kami, untuk mengabdi pada negeri.

Waktu pemilu di AS kemaren, ketika salah satu calon presidennya adalah Obama, justru para warga antusias banget untuk milih. Yang golput sangat sedikit. Karena mereka tahu, calonnya bener-bener berkualitas, selain wajah baru dari kaum minoritas.

Oh, ya ngomong-ngomong tentang Golput, Sayidina Ali pun pernah Golput sewaktu pemilihan khalifah pengganti Rasulullah. Alasannya sih karena beliau sibuk mengurusi Rasulullah yang wafat dan keluarganya. Namun, sahabat Ali tetep patuh pada keputusan orang banyak dan membai’at Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah. Nah, ini yang patut dicontoh.

sukseskan-pemilu2009

Buat yang Golput, kudu manut, jangan cemberut, apalagi semaput. Soale gak milih sih, jadi harus ikut.. Nah, buat yang milih, ikuti kata hati, pilihlah dengan teliti, ikhtiar memperbaiki negeri, memilih wakil rakyat yang benar-benar peduli. Sekarang teknis memilihnya beda dengan pemilu sebelumnya. Biasanya kita pemilu atau pilkada pake acara coblos mencoblos, sekarang pake acara contreng mencontreng (alias nulis pake pulpen). Alasannya biar lebih terlihat berpendidikan (ah, masa iya?). Walopun demikian, buat warga yang masih seneng sama mencoblos, diperbolehkan kok. Apalagi selain mencoblos en mencontreng, boleh juga beri tanda silang, coret nama atau tanda centang tidak sempurna. Hal ini untuk mengantisipasi banyaknya surat suara yang tidak sah karena model pemilihannya sekarang benar-benar berbeda.

Bagi saya pribadi semua ini cukup merepotkan. Setiap orang dapet 4 kertas suara, untuk DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD. Bukan itu saja, satu kertas suara yang saya dapat hampir segede kertas koran. Belum lagi ditambah jumlah partai yang banyak banget. Dengan teknis yang benar-benar baru (contreng), maka tidak menutup kemungkinan banyak surat suara yang dianggap tidak sah. Terutama para pemilih yang berusia senja.

Namun dibalik itu semua, seperti yang pernah aku tulis dalam tulisan terdahulu, sebuah ikhtiar perlu dilakukan. Dan, jika hanya ada satu permintaan, maka “mohonlah untuk diberi pemimpin yang arif, adil dan bijaksana” untuk kebahagiaan semua orang (termasuk kita-kita loh) dunia akhirat. Lengkap kan? Jadi, apapun pilihanmu, mo Golput atau menyalurkan aspirasi dengan men-contreng, yang jelas marilah sama-sama berdoa untuk Indonesia yang lebih baik. Negeri yang kita cintai ini…

Sebuah catatan setelah ‘nyontreng’ di TPS

Indramayu,9 April 2009

All rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s