Dalam Hening, Menggapai Bening

renungKetika tidak ada lagi yang bisa diajak untuk bicara, merenunglah. Karena dengan merenung, jiwamu akan tetap hidup, mengembara ke alam imajinasi, yang lepas dari dimensi ruang dan waktu. Hingga akhirnya kau tersadar, bahwa dirimu masih ada, masih hidup dan belum benar-benar mati. Merenung bagiku lebih dari sekedar hidup itu sendiri tetapi sebuah perjuangan untuk tetap hidup. Merenungi kehidupan, demikian aku menyebutnya. Dan kali ini, aku benar-benar ingin merenung, walau sejenak saja. Merenungi perjalanan hidup seorang manusia bernama diriku dalam menapaki titian kehidupan. Maka terdamparlah diriku pada sebuah pertanyaan, “Apa saja yang telah kudapatkan selama ini?”

Namun pertanyaan ini tiba-tiba menjadi salah dimataku. Karena ternyata, hidup bukan sekedar untuk mendapatkan dan menerima sesuatu. Tetapi lebih dari itu untuk memberikan segala yang kita miliki, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Ya, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan semua orang. Kalimat penyemangat yang membuat luluh jiwaku, lagi-lagi kudapatkan dari ‘Laskar Pelangi’. Mengutip ucapan Pak Harfan dalam salah satu adegannya, “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukannya menerima sebanyak-banyaknya”.

Ah, aku benar-benar terhenyak! Sudah berapa banyak yang aku berikan untuk orang lain, minimal untuk orang tua sendiri yang kasihnya sepanjang jalan, tak lekang dimakan zaman. Lebih lanjut, berapa banyak yang sudah aku berikan untuk umat, agama, bangsa dan negeri ini? Sungguh, kali ini aku tidak sekedar merenung, tapi telah berubah menjadi gerimis lalu menderas menyirami hati yang gersang. Karena aku tahu, jawaban atas pertanyaanku: ‘Belum apa-apa’. Kalaupun ada, itu sangatlah sediikiiit sekali dibandingkan segala nikmat yang telah Allah berikan kepadaku.

Namun demikian, aku tetap berharap, semoga usahaku yang sedikit itu dapat menjadi berkah dalam kehidupanku. Sebuah karya kecil untuk negeri, melalui proses panjang membaca dengan hati. Bukan sekedar membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan. Dan belajar dari ‘buku kehidupan’, takkan pernah ada habisnya. Karena pengalaman masa lalu merupakan sebuah pelajaran berharga untuk menapaki kehidupan yang (lebih) baik. Aku juga memohon kepada Allah, agar Dia bersedia meminjamkan tangan-Nya padaku untuk senantiasa menuliskan kebaikan. Semoga saja, akan ada bening hati setelah ini, dalam heningku di sore ini…

***

islandKupandangi langit temaram, sore ini. Ternyata, senja akan segera menjelang. Ah, rasanya begitu singkat perjalanan ini. Masih terngiang betapa hancurnya diriku dicabik duka. Rasanya seperti terjerembab di lembah terdalam lorong kelam jiwa. Terpenjara alur pikiran liar yang menakutkan. Terbelenggu hawa nafsu yang terus memburu.

Sekali lagi, kupandangi kelam masa lalu. Masih bersama temaram senja, sore ini. Kusadar, duka tak selamanya luka. Kadang, justru pedih-lah yang mengantar kita ke gerbang bahagia. Ternyata, keberkahan hidup adalah lebih utama. Karena dari sanalah, kita temukan arti hidup yang lebih bermakna…

 

Sebuah renungan hati

4th anniversary of PONDOK HATI (Reading Park)

Indramayu, 16 April 2009

2 comments on “Dalam Hening, Menggapai Bening

  1. TIDAK mengapa kalau kakimu sakit, asalkan hatimu tidak sakit. karena kalau kakimu sakit, engkau hanya tidak dapat berjalan, tapi kalau hatimu sakit, engkau akan hilang kebahagiaan.
    ________________________________

    Untuk hati kita tenang jangan hasad dengki dengan orang. Jangan berdendam dengan orang. Orang buat jahat dengan kita lupakan saja dan doakan mereka. Nanti hati rasa lapang.
    ________________________________

    Orang yang selalu jiwanya tidak tenang ialah orang pemarah, pendendam, rasa tidak cukup, hasad dengki, memikirkan masa depan yang belum terjadi, tidak sabar, lupa tentang qadha dan qadar dari Allah, tidak percaya dengan orang.
    ________________________________

    Jika sesuatu yang kita kehendaki belum dapat susah hati kita. Setelah dapat bimbang kehilangannya, kemudian apa yang didapat itu rasa tidak cukup, lebih-lebih lagi apa yang dapat itu tidak sebanyak orang lain dapat. Timbul pula tamak memburunya. Sampai bilakah hendak mendapat ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan ketenangan dan kebahagiaan itu sesuatu perkara yang tiada nilainya.
    __________________________________

    Kalaulah terpaksa memilih salah satu daripada dua perkara, jika ditinggalkan dosa kurang berkemajuan, jika membuat dosa pesat kemajuan, orang mukmin memilih biarlah kurang kemajuan asalkan dosa dapat ditinggalkan.
    __________________________________________________________

    Tanda kita mementingkan diri sendiri ialah tidak berniat membela fakir miskin, dan orang yang teraniaya.
    __________________________________________________________

    Usah bangga dan sombong karena kejayaan yang kamu perolehi karena ianya bukan kepunyaan kamu tetapi adalah milik Allah.
    __________________________________________________________

    [Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi]

    >>>pH: Subhanallah… terima kasih atas petuah bijak- nya, kawan.. aku merasa tercerahkan! Terima kasih juga atas kunjungannya… ^_^

  2. janganlah melihat sepatu yang kita pakai,,tapi lihatlah sejauh mana kaki kita melangkah,,,,hanya perjuangan, doa, sabar dan ikhlas yang kita butuhkan,,,mudah2an apa yg kita lakukan bermafaat bagi manusia,,,amiinn

    >>>pH: terima kasiiiih… kata-kata yang sangat bagus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s