Wayang Filosofis

wayang2Saya bukanlah orang yang suka banget pada wayang, salah satu kesenian bangsa indonesia yang tidak boleh tidak harus dilestarikan. Hal ini dikarenakan kendala bahasa yang kerapkali menyulitkan saya untuk memahaminya secara lebih jauh. Meskipun saya berasal dari jawa (barat), tidak serta merta bisa memahami bahasa pengantar dalam dunia perwayangan tersebut. Namun demikian, saya tahu kalo dunia pewayangan bukan sekedar tontonan biasa. Jika diperhatikan secara lebih serius, akan terkandung sejuta nilai filosopis yang begitu tinggi. Sebuah lakon sederhana yang sarat makna.

Belum jelas asal muasal dunia perwayangan di Indonesia. Kalo gak salah, beberapa daerah di Indonesia selain di jawa memiliki pertunjukan yang juga mirip wayang. Bahkan, negeri tetangga juga memiliki kesenian serupa, seperti misalnya wayang cina (yang lebih mirip pertunjukan boneka tangan) dan wayang thailand (yang dimainkan bersama orangnya dalam suatu panggung). Kalo di jawa sendiri, ada dua macam wayang yakni wayang golek (jawa barat) dan wayang kulit (jawa tengah/jawa timur).

Sekali lagi, wayang mengandung nilai filosofis yang tinggi. Tidak percaya? Lihat saja tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan yang beragam. Mulai dari yang paling baik, licik, sampai dengan yang paling jahat. Mulai dari yang paling serius cenderung kaku sampai yang paling lucu cenderung fleksibel. Demikian juga jalan ceritanya, biasanya menampilkan ‘pertempuran’ antara hal yang baik dan buruk dengan kesimpulan akhir bahwa ‘kebaikan akan selalu menang melawan keburukan’. Kisah-kisan ini biasanya diambil dari kisah Mahabarata atau Ramayana, dua legenda masyhur dalam agama hindu. Maka akrablah kita dengan kisah pertempuran antara Pandawa (baik) dan Kurawa (buruk). Atau kisah percintaan suci antara Rama dan Shinta.

wayang21Ketika wali songo menyebarkan ajaran islam, terjadilah akulturasi kebudayaan antara islam dan hindu. Dengan cerdik, salah satu anggota wali songo (katanya sih, Sunan Kalijaga) menggunakan media wayang dalam berdakwah. Lakon-lakon kisah dalam dua kitab legenda tersebut pun kemudian diadaptasi sambil diselingi muatan dakwah islam. Pada saat itu, mayoritas masyarakat kita (khususnya di jawa) masih menganut agama hindu dari kerajaan majapahit. Bahkan tidak jarang pula mereka masih mewarisi ajaran nenek moyang dahulu yakni menganut kepercayaan macam animisme dan dinamisme.

Ajaran-ajaran moral islam ditanamkan dalam lakon pertunjukkan wayang tersebut. Misalkan saja, seorang tokoh wayang (yang berwatak baik) menggunakan senjata andalan untuk melawan musuh yakni ‘kalimatusada’ yang ternyata berasal dari ‘kalimat syahadat’. Contoh lain, lagu pengiring lakon wayang jaman dulu adalah Lir-ilir, yang berisi petuah bijak bagi pemeluk islam (dianalogikan dengan ‘bocah angon’) untuk menjalankan Rukun Islam (disimbolkan dengan ‘buah belimbing’ yang berujung lima). Tidak hanya itu, agar lebih menarik, tokoh dunia pewayangan pun ditambah diantaranya adalah tokoh-tokoh yang berwatak lucu yang kemudian dikenal sebagai tokoh punakawan.

punakawan2Yang menarik perhatian saya adalah tokoh punakawan itu. Mereka adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Melihat tingkah pola mereka, bukan tidak mungkin kita akan tertawa ngakak saking lucunya. Tapi jangan salah loh, kelucuan yang mereka ciptakan ternyata masih mengandung nilai filosofis juga. Dan anda mungkin kaget jika nama-nama mereka ternyata berasal dari bahasa arab. Jika dirangkaikan, nilai filosofis itu akan benar-benar muncul.

Mm.. bagaimana mungkin? Ternyata, saya juga baru tau loh, asal-usul nama mereka dari sebuah buku. Keempat tokoh tersebut berasal dari kata Syimar (=Semar), Khairan (=Gareng), Fatruki (=Petruk) dan Bagho (=Bagong). Kalo kata-kata tersebut digabung jadilah “Syimar Khairan, Fatruki Bagho” yang berarti “Sebarkan kebaikan, jauhi kejelekan”. Wah..wah bener-bener mengandung nilai filosofis yang tinggi, bukan?

Yang perlu diingat, ternyata kita juga adalah wayang-wayang dalam peran lakon kehidupan. Tidak tanggung-tanggung, jumlah tokohnya sampai mendekati angka 6 milyar (mungkin lebih), dengan watak dan karakteristik yang beragam. Jalan ceritanya pun bermacam-macam dan biasanya juga merupakan pergulatan antara hal baik (putih) dan buruk (hitam). Menjadi lebih kompleks karena ada ‘daerah abu-abu’ yang berada diantara keduanya. Ada suka, ada duka. Ada kisah penuh ketegangan ada juga yang lucu. Demikianlah, karena semuanya memang telah direncanakan oleh Sang Dalang Yang Memainkan Jalan Cerita Kehidupan. Jalan ceritanya terserah pada Sang Dalang. Hingga akhirnya kita pun bercermin, memainkan tokoh wayang apakah kita dalam lakon kehidupan selama ini?

Indramayu, 22 April 2009
All Rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Sumber gambar:

http:/entry-indonesia.com

http://wayangku.files.wordpress.com

Iklan

5 comments on “Wayang Filosofis

  1. Saya wong jowo malah baru tau arti dari punakawan ini..hatur nuhun pak! kalo boleh saya minta ijin juga untuk memakai gambar wayang2.jpg pak..buat tambahan foto di facebook

    >>>pH: Injih, pak! Punakawan memang ruarrr biasa. Gambar wayang niku kulo pendet saking om Google. Buat pemilik asli-nya kami mengucapkan terima kasih..

  2. ternyata filosofi wayang yang diadaptasi oleh Sunan Kalijaga sangan dalam ya. Cara efektif menyebarkan Islam lewat seni dan budaya.

    >>>pH: Yuupp, bener bangeed.. ^^b

  3. kadang saya bertanya dalam hati sendiri, apakah “syimar khairan fatruki bagho” merupakan ulah bahasa “utak atik mathuk” ?
    (si badranaya = badrun naya = ulat padhang)

    >>>pH: Wallahu a’lam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s