Ujian (Sekolah) Hayat

Apa jadinya jika anda seorang pelajar yang sebentar lagi akan menempuh ujian tiba-tiba disibukkan oleh hal lain yang juga tidak boleh ditinggalkan? Apakah anda akan tetap ikut ujian sekolah dan mengabaikan urusan rumah tangga ataukah tetap mematuhi perintah orang tua menjaga adik bayi yang masih kecil dengan konsekuensi tidak mengikuti ujian sekolah? Padahal kedua hal itu sama-sama penting.


hayat1Inilah yang dipikirkan oleh Hayat, seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja diserahi tugas mengurus rumah tangga oleh ibunya gara-gara sang ayah mendadak masuk rumah sakit. Padahal hari itu, ada satu yang tak kalah pentingnya yakni mengikuti ujian negara yang menentukan apakah ia akan lulus sekolah atau mengulangnya tahun depan. Sungguh pilihan yang sulit, bukan?


Kisah ini saya ambil dari sebuah film Iran dengan judul yang sama. Sebuah kisah dengan tema sederhana (bahkan terkesan sepele), tetapi sungguh memukai perhatian saya untuk tidak melewatkan setiap adegan yang ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh Gholam Reza Ramezani ini. Menyaksikan film ini kita akan dibawa pada suasana capek dan lelah (hehehe…) namun penuh kelucuan yang tidak dibuat-buat.


Alkisah, hari itu adalah hari yang paling sibuk bagi Hayat. Bagaimana tidak, ia harus menghadapi ujian sekolah tetapi tiba-tiba saja ia disuruh menggantikan ibunya mengurus rumah tangga. Padahal ia belum belajar apapun untuk mempersiapkan ujian sekolahnya. Hatinya bergejolak, apakah ia akan bisa mengikuti ujian sekolah hari itu? Namun, semangatnya begitu tinggi untuk tetap mengikuti ujian bagaimanapun caranya. Terlebih lagi ada ucapan salah satu temannya yang mengejek bahwa ia tidak akan lulus sekolah gara-gara tidak mengikuti ujian. Jalan satu-satunya adalah bergerak cepat untuk menyelesaikan tugas rumah tangga yang menumpuk agar bisa mengikuti ujian sekolah.


hayat3Maka mulailah ia untuk mengerjakannya satu persatu: mengambil air dari sumur, memerah susu sapi, mengantarkan susu pada salah seorang tetangga. Semuanya ia jalani sambil tak lepas menjaga si bayi. Tak jarang ia terlibat adu mulut dengan adik keduanya yang agak susah disuruh menjaga adik bungsunya, walaupun akhirnya mau juga (walaupun setengah-setengah). Waktu ujian sekolah hampir tiba. Belajar dari buku sudah tidak akan sempat lagi dilakukan. Namun beruntung Hayat dianugerahi otak yang cerdas. Setiap kejadian yang ia lakukan, ia hubungkan dengan materi pelajaran. Seperti misalnya menghitung jumlah kaleng susu sapi dengan kaidah perkalian. Dari sini, ia sudah belajar pelajaran matematika meski tanpa sadar.


Setelah semua pekerjaan rumah tangga hampir selesai dilakukan dengan sangat berat, tinggal satu permasalahan lagi. Menjaga si adik bayi. Berulang kali ia memohon pada pihak sekolah agar mengizinkanya ujian sambil membawa adik bayinya. Namun, pihak sekolah melarang dengan alasan akan membuat keributan. Mereka menyarankan agar si adik bayi dititipkan. Terlihatlah adegan yang memperlihatkan betapa repotnya Hayat menitipkan adik bayi kepada salah seorang tetangga dan saudaranya. Namun sepertinya mereka sibuk masing-masing. Wal hasil, adik bayi masih tetap dalam gendongannya. Ia terus berpikir keras, bagaimana caranya. Sementara itu waktu terus berjalan mendekati waktu ujian tiba.


hayat2Ia sempet nekat meninggalkan bayi di rumah dalam keadaan terkunci, tetapi akhirnya tidak tega membiarkan adiknya ditinggal sendirian. Sekali lagi, ia meminta pihak sekolah untuk memberinya keringanan tentang hal ini. Namun tetap tidak bisa. Ujian telah dimulai. Semua siswa mengerjakan soal-soalnya masing-masing. Sementara itu, Hayat masih disibukkan memikirkan cara bagaimana menjaga adik sambil tetap mengikuti ujian. Hingga akhirnya sebuah ide muncul seketika yang membuat aku tergelak lucu.


Meskipun telat, akhirnya Hayat pun diperbolehkan mengikuti ujian oleh pengawas. Teman bangku di depannya disuruh menarik sebuah tali yang sengaja dia persiapkan. Ternyata tali itu adalah tali kekang sebuah ayunan yang berisi adik yang ia tempatkan pada halaman belakang sekolah. Sang teman ternyata disuruhnya mengayun bayi. Hehehe… Hebat kan idenya? Semua aman terkendali.


hayatNamun, kejadian ini tidak berlangsung lama. Ternyata adiknya menangis. Hayat pun akhirnya pasrah dengan semua hal yang sudah ia lakukan. Ia merasa lelah menjalani semua dianggapnya sia-sia. Dalam benaknya, ia rela dikeluarkan dari ruang ujian akibat tindakan nekatnya dan mengulang ujian tahun depan. Namun sikap bijak pengawas sekolah akhirnya menyelamatkannya. Si pengawas lah yang akhirnya menjaga si adik bayi agar tidak menangis. Dan hayat pun melanjutkan tugasnya mengerjakan soal-soal ujian sekolah meskipun dengan waktu yang tinggal sedikit. Setidaknya, ia tidak akan mengulangnya tahun depan. Syukurlah, semua bernafas lega…


Huihh… menurutku film ini kereen banget. TOP BGT dah! Bagaimana tidak, sebuah kisah sederhana yang akhirnya membuat saya berfikir lebih jauh. Film ini seakan memberi pesan moral bahwa ujian bukan hanya ada di sekolah, tetapi juga ada dalam kehidupan. Seperti yang dialami Hayat (= artinya ‘Hidup’), ia baru saja menjalani ujian dua kali: ujian sekolah dan ujian di keluarganya. Dengan semangat dan kerja keras yang tinggi, Hayat telah membuktikan bahwa ia pun bisa lulus dari kedua ujian tersebut. Kepasrahan menjadi jalan terakhir yang menyelamatkannya untuk tetap menjadi pemenang setelah gigih berusaha sekuat tenaga. Sungguh, saya sangat terinspirasi. Sebuah kisah sangat sederhana (kalo tidak boleh disebut sepele), tetapi sungguh sangat menggugah. Anda harus nonton!


Indramayu, 23 April 2009
All Rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s