Lelaki di Masjid itu

masjid-bogorSuatu sore menjelang Maghrib, aku pergi ke Masjid Raya Kota Bogor. Seperti biasa, menjelang maghrib ini, suasana masjid pasti sangat ramai, karena banyak orang yang akan menunaikan shalat berjamaah. Tepat ketika akan melaksanakan shalat berjamaah, seorang lelaki dengan baju koko lusuh, peci hitam hampir usang serta membawa sebuah tas datang menghampiriku. Lelaki tersebut menanyakan berbagai hal dan kujawab apa adanya. Setelah cukup puas bertanya, dia pun bercerita tentang pengalamannya. Dengan muka sendu dan sayu, dia bercerita bahwa dirinya berencana untuk pulang ke Tasikmalaya setelah mengaji di Banten. Namun malang tak dapat ditolak, ketika naik bus di Merak, dompet yang ada dalam tasnya di copet oleh orang. Yang tak kalah kagetnya, ia berencana pulang dengan berjalan kaki karena memang tak punya ongkos. Mesjid ini hanyalah tempat persinggahannya, sebelum melanjutkan perjalanan. Mungkin setengah bulan lagi baru sampai di kampung, katanya. Masya Allah, mendengar ceritanya aku begitu sedih dan prihatin. Namun pada saat itu, aku tidak mempunyai uang untuk menolongnya sekedar menambah ongkos. Aku hanya bisa berdoa, semoga lelaki tersebut diberi kesabaran dan keselamatan sampai tujuan. Shalat maghrib berjamaah pun akhirnya berlangsung dengan khusyu’. Kisah tentang lelaki di mesjid itu tidak pernah kudengar lagi.

Beberapa bulan kemudian, ketika aku kembali berniat untuk shalat berjamaah ashar di masjid tersebut, tanpa sengaja aku bertemu dengan lelaki tersebut. Loh, ternyata dia masih ada di sekitar Bogor? Karena merasa tidak yakin, kuurungkan niatku untuk menyapanya. Kebetulan waktu ashar masih belum tiba. Aku mengambil tempat di teras masjid untuk melepaskan kelelahan sambil membaca buku.

Tanpa diduga sebelumnya, lelaki yang pernah kutemui beberapa waktu yang lalu itu menghampiriku. Hampir saja kusapa dirinya, namun sepertinya ia lupa. Kembali ia bertanya banyak hal yang kujawab apa adanya. Sejurus kemudian, ia pun kembali menceritakan pengalamannya, persis seperti yang pernah ia ceritakan kepadaku beberapa bulan yang lalu. Masih dengan mimik sedih dan lusuh. Benar, ternyata dia tidak mengenaliku lagi. Lelaki itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku sudah mendengar ceritanya beberapa bulan yang lalu. Alasan yang dikemukakannya persis sama dengan alasan sebelumnya, yaitu ingin pulang kampung karena dompetnya baru saja dicopet orang. Namun aku tidak berani mengatakan kepadanya bahwa sebenarnya dulu kita pernah bertemu. Aku jadi penasaran, siapakah sebenarnya lelaki yang ketemui di masjid ini?

Bogor, 7 September 2004

All rights reserved © 2004

NB : Selamat HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional) bukan “Hardik, Nas!” ^O^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s