Psikologi Gerak Newton

NewtonNewton, siapa yang gak kenal orang ini? Namanya sudah sering kita baca di buku-buku fisika zaman kita masih sekolah dulu. Bahkan Michael H. Hart pernah menempatkannya sebagai orang nomor 2 dari 100 orang paling berpengaruh setelah Nabi Muhammad Saw. Sir Isaac Newton adalah salah satu ahli fisika, matematika, juga agamawan (nasrani). Newton sebenarnya lebih dikenal mula-mula gara-gara konsep tentang gravitasi. Suatu konsep yang menjelaskan bahwa dua benda ternyata memiliki gaya tarik-menarik. Hanya gara-gara kejatuhan sebuah apel,  ia akhirnya bisa merumuskan Teori Gravitasi. Makanya, dalam Da Vinci Code karya Dan Brown, Langdon bisa membuka kunci rahasia berdasarkan kejadian yang pernah dialami Sir Isaac Newton dengan kata kunci APPLE. Hehehe…

Selain Hukum Gravitasi yang dikemukakan Newton, ada juga Hukum tentang Gerak. Temen-temen pasti udah hafal betul tentang hal ini bukan? Bahasan tentang gerak merupakan bahasan pertama dalam Mata pelajaran Fisika. Masih inget bukan? Nah, kali ini, saya akan bercerita tentang Hukum Newton tentang Gerak ini. Sebenarnya, dalam secara  di lapangan, hukum yang dikemukakan oleh Newton tidak sesuai dengan keadaan real. Karena kerangka acuannya adalah benda yang diam. Padahal dalam kenyataannya, bumi kan berputar. Hukum Newton dibantah abis-abisan setelah ditemukannya Teori Relativitas Einstein. Makanya, hukum-hukum Newton dinamakan Fisika Klasik dan postulat-postulat Einstin masuk dalam Fisika Modern. Namun demikian, kita tidak akan bisa mempelajari semua hal dalam fisika modern tanpa memahami terlebih dahulu fisika klasiknya. Memang benar, bumi bulat dan ber-rotasi (dan ver-revolusi) dan hal itu menyebabkan semua hukum fisika berubah. Namun hukum newton tentang gerak dapat dijadikan dasar pemahaman awal sebelum membahas fisika lebih lanjut.

troliPada kesempatan ini, saya tidak akan membahas Hukum Newton secara lebih mendetail. Apalagi pake acara hitung-hitungan rumit ala físika dan matemátika. Saya mencoba melakukan pendekatan lain, yakni mengaitkan hukum-hukum físika itu dalam kaitannya dengan ilmu psikologi. Menarik bukan? Ternyata hukum gerak Newton pun bisa kita aplikasikan pada sikap dan tindakan kita sebagai manusia.

Newton mengemukakan tiga hukumnya tentang gerak sebagai berikut:

  1. Sebuah benda diam (kecepatannya nol) atau bergerak dengan kecepatan konstan akan tetap berada dalam keadaannya kecuali ada gaya dari luar yang bekerja pada benda tersebut.
  2. Perubahan gerak terhadap suatu benda akan berhubungan langsung dengan gaya yang menggerakka benda tersebut.
  3. suatu gaya sebenarnya adalah salah satu segi kerja timbal balik antara dua benda.

Gaya suatu benda kita ibaratkan sebagai sebuah tindakan (sikap) kita. Maka penerapan Hukum Newton tentang Gerak adalah sebagai berikut.

  1. Jika kita tidak bersikap apa-apa hanya diam saja, maka akan selamanya seperti itu. Sampai suatu saat kita bertindak bersikap untuk merubah keadaan dengan sikap kita. Begitu jika kita bersikap hal yang sama (itu-itu saja) maka hal ini pun akan tetap seperti itu. Sampai kita mengerjakan suatu sikap berubah untuk sesuatu yang lebih baik. Orang yang sudah bergerak pun akan tetap seperti itu, sampai dia punya tindakan pembaharuan yang merubah keadaannya menjadi lebih baik. Orang yang bergerak, kemudian berhenti bergerak, maka justru akan membuatnya berhenti. Tidak ada hal yang bisa dilakukan. Berubah bergerak menuju sesuatu yang lebih baik.
  2. Tindakan yang kita lakukan sebanding dengan keinginan percepatan yang kita lakukan pada tindakan tersebut. Semakin besar keinginan kita untuk berubah, maka semakin akan semakin mempercepat tindakan kita untuk segera dilakukan. Tindakan tersebut juga behubungan dengan massa, yakni seberapa besar tindakan yang akan kita lakukan. Jika massa tindakan kita besar dan punya keinginan yang tinggi untuk melakukan sebuah perubahan, maka dipastikan kita akan segera melakukan tindakan besar tersebut.
  3. ingat, setiap tindakan yang kita lakukan akan memberikan dampak yang besarnya sama pada kita sendiri. Jika kita bersikap baik pada orang lain, maka orang lain pun akan baik pada kita. Jika kita menghormati orang lain, orang pun tak segan untuk menghormati kita. Menanamkan kebaikan pada orang, akan memberikan hasil serupa sebesar kebaikan yang kita tanamkan pada orang lain. Ada aksi ada reaksi. Begitu juga sebaliknya. Sikap buruk yang kita lakukan pada orang akan memberikan aksi serupa dalam diri kita, sebesar sikap yang kita berikan pada mereka. Jadi, bersikaplah positif. Kebaikan akan memberikan kebaikan pula. Kejahatan yang kita lakukan akan menghasilkan kejahatan pula pada diri kita. Besarnya juga sama.

Indramayu, 1 Juli 2009

All rights reserved © 2009

Sumber gambar:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s