Tarawih itu Santai

Ramadhan telah menggema di seluruh penjuru negeri ini. Berbagai macam kegiatan telah dipersiapkan untuk menyambutnya. Mulai dari ritual ibadah macam puasa, tarawih, tadarus qur’an, ceramah agama, dzikir dan doa sampai kegiatan sosial seperti bazaar murah, bakti sosial atau donor darah. Yang jelas, semua berlomba-lomba untuk menuai kebaikan. Jika Rajab merupakan bulan menanam, Sya’ban bulan memelihara, maka pantaslah jika Ramadhan disebut sebagai bulan untuk memanen pahala yang berlipat ganda.

ramadhanSalah satu ibadah khas selain puasa di bulan Ramadhan adalah Shalat Tarawih, Qiyamullail (ibadah malam) sunnah muakkad yang biasa dilakukan oleh umat muslim di malam bulan Ramadhan. Ada berbagai macam versi dalam menjalankan shalat Tarawih. Ada yang melaksanakannya dengan 8 rakaat ditambah 3 witir. Sebagian lainnya menjalankan shalat Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir (menurut pendapat 4 madzhab). Bahkan ada pula yang melaksanakan shalat Tarawih sampai 36 rakaat dan 3 witir (sebagian pengikut madzhab Maliki). Caranya pun bermacam-macam, ada yang dilakukan secara berjamaah di masjid/musholla dan ada juga yang dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Berapa pun jumlah rakaat shalat Tarawih dan tata cara pelaksanaannya, hendaknya tidaklah menjadi perselisihan antar golongan, karena bukan itu inti dari pelaksanaan Tarawih.

Tarawih berasal dari bahasa arab yang secara harfiyah berarti istirahat/santai. Dinamai demikian karena dalam shalat ini terdapat waktu istirahat di sela-sela rakaat Tarawih. Misalnya, setelah dua kali salam, jama’ah biasanya menenangkan diri dengan berdzikir atau kegiatan lainnya. Artinya tidak langsung melaksanakan rakaat berikutnya. Mereka seolah-olah beristirahat/bersantai dalam rangkaian shalat. Oleh karena itu, shalat ini dinamai dengan shalat Tarawih. {baca juga: Pahala Keutamaan Tarawih]

tarawihNamun kenyataan di masyarakat tidaklah demikian. Tidak sedikit orang-orang yang melakukan shalat Tarawih dengan cepat dan terkesan buru-buru. Terlebih pada jama’ah yang melaksanakan shalat Tarawih dengan jumlah rakaat lebih banyak. Padahal, kekhusu’an dalam shalat mutlak diperlukan, agar kualitas shalat kita benar-benar baik. Dalam bulan Ramadhan ini, kita memang harus berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Tentu semakin banyak jumlah rakaat dalam shalat sunnah, akan lebih baik. Dan alangkah lebih baiknya shalat tersebut dilakukan dengan tidak terburu-buru (seperti arti kata Tarawih itu sendiri). Jadi mutu shalat kita tidak terjebak oleh kuantitas belaka tetapi lebih ke arah perbaikan kualitas ibadah. Salut buat mereka yang shalat Tarawih dengan jumlah rakaat terbanyak namun tetap dilakukan dengan penuh khusu’ dan tuma’ninah. Wallahu A’lam Bishshowwab.

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH RAMADHAN 1430 H

SMOGA ALLAH MENERIMA IBADAH KITA. AMIIN…

Indramayu, 22 Agustus 2009
All rights reserved © 2009
By Ibnu Atoirahman

Renungan di hari pertama puasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s