[Cerpen] Sandaran Jiwa

cincinHatiku resah didera gelisah. Otakku kaku didera rindu. Rasa apakah ini yang membuat diriku seperti seorang pesakitan. Dicabik gelisah dan rindu yang datang beruntunan. Oh, cinta. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Rasanya tidak nyaman jika tidak kuungkapkam rasa ini. Kuingin seluruh semesta tahu, jika ada seseorang, di sudut ruangan sempit ini sedang merasakan trance, tengah dimabuk asmara. Hanya sosok itu yg terbayang dibenakku. Sebuah sosok yang mengingatkan diriku akan sebuah ketegaran jiwa, kehalusan budi dan sebuah kesederhanaan yang bersahaja. Rasanya, ingin sekali aku bertemu dengan dirinya sekali lagi, lagi dan lagi. Sekedar menggenapkan ruang rindu yang kosong di salah satu lorong jiwaku. Oh, sungguh. Penyiksaan terasa begitu indah. Dan aku nekat keluar rumah, nongkrong di depan halaman rumah seperti orang ‘aneh’. Memandang langit, memandang bintang. Semoga saja ada yang jatuh dan mengisi lubang di hatiku. Memandang lukisan wajahnya yang tersusun dari rangkaian bintang-bintang yang disebut rasi. Aku benar-benar tak sabar menunggu pagi yang mengantarkanku pada sebuah keputusan penting. Ya, karena cinta tak bisa menunggu lagi: aku akan melamarnya esok hari.

***

Keesokan harinya semua telah kupersiapkan dengan matang. Baju rapi telah kupakai. Stelan kemeja kotak-kotak dengan celana beludru berwarna gelap. Meskipun tidak mewah, namun cukup sopan. Aku janjian bertemu dengannya di sebuah tempat di taman kota. Untuk kemudian aku akan mengajaknya pergi makan, atau entah apalah itu. Dan ketika timing-nya tepat, akan kupersembahkan cincin yang telah kubeli jauh hari sebelumnya, special hanya untuk dirinya. Sebelumnya akan kubacakan sedikit puisi yang telah kutulis semalaman, seperti pada film-film. Dan akhirnya, kukatakan: “Maukah engkau menikah denganku?” Mm… sepertinya menarik dan… romantis. Hehe.. Aku jadi geli sendiri membayangkannya.

Dari kejauhan, kulihat wanita yang akan kutemui ini seperti kebingungan mencariku. Ia berjilbab biru muda, dengan stelan baju putih dan rok biru dongker yang longgar. Perpaduan yang sempurna, menurutku. Lalu setelah melihat sosokku, ia pun datang menghampiri. Aku tersenyum padanya, dan menanyakan kabar sebagai pembuka. Ia hanya tersenyum dan menjawab pertanyaanku dengan samar. Namun ada yang berbeda dengan dirinya di minggu pagi ini. Entahlah. Setelahnya, waktu berjalan seolah melambat.

Kini, wanita itu tepat berada di depanku. Wajahnya perpaduan antara sedih, sendu atau apalah itu (seperti sedang ada sesuatu yang dipikirkannya), dan aku seperti tidak berani untuk mengungkapkan sesuatu. Semua kata-kata yang telah kususun semalaman mendadak buyar entah kemana. Dan aku seperti terlupa dengan maksud dan tujuanku, hari ini. Wanita berwajah sendu, yang kini tengah berada di hadapanku. Seolah membagi pedihnya yang selama ini hanya ia simpan sendiri bersama sang waktu. Gurat kekalutan itu begitu kasar, terlukis jelas taman kotadi wajahnya. Kecantikannya tidak bisa membohongi dunia bahwa dirinya memang terluka. Ah, apa yang mesti kukatakan padanya? Pada segenggam waktu yang hanya bisa di lalui dalam diam. Kebekuan ini harus segera diakhiri. Namun, rasanya bibirku kelu. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa terlontar dari bibirku.

Aku bergemuruh  melawan kegalauan yang tiba-tiba menjelma. Dan ia pun luruh, dalam tangisan yang tak bisa kuartikan maknanya. Oh, Tuhan? Apa yang tengah terjadi. Aku menjadi begitu bingung, takut, merasa bersalah dan sejenisnya. Apa yang terjadi denganmu cinta? Apa ini salahku? Belum sempat kuutarakan maksudku, dirimu mendadak duka. Apakah engkau telah tahu maksud dan tujuanku? Bukankah niatku baik untuk menggenapkan separuh agama bersamamu. Apakah… apakah.. begitu banyak pertanyaan yang menggelayuti pikiranku. Ingin kupeluk segala resah gundahmu dan kurelakan bahuku menjadi sandaran jiwamu. Menangislah sepuasmu, andai itu bisa menjadi pengobat lukamu. Aku sendiri tak pernah tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi padamu? Ku biarkan mutiara-mutiara beningmu membasahi pundakku. Ah, bagilah pedihmu denganku andai kau tak kuat menahannya. Bagilah, walau hanya sedikit saja. Pikiranku pun melayang jauh.

Setelah beberapa saat lamanya isak tangisnya pun reda. Dan aku seperti tersadar dari ketersesatanku. Dia masih tetap di depanku, dengan tanpa menyandar pada bahuku. Ternyata, semua hanya anganku saja  yang tersesat pada ruang waktu yang tak kasat mata. Lalu, ibarat mendung menjelma hujan, hingga akhirnya selesai hujan, muncullah mentari dibalik kelabunya awan. Wanita itu tersenyum, ya hanya senyum tanpa kata. Dan aku pun berusaha membalas senyumnya, juga tanpa berani berkata-kata. Ada apa denganmu, cinta? Ah, aku tak bisa menduga-duga.

Sejurus kemudian ia pun berkata, “Terima Kasih”.

Aku hanya tersenyum menguatkannya. Ingin kutahan dirinya lebih lama dengan sejuta tanya yang membuat diriku dicekam rasa penasaran. Tapi itu urung kulakukan karena ia segera memohon diri untuk pergi.

“Maafkanlah, aku harus segera pergi. Sekali lagi, terima kasih”, katanya masih dengan senyum.

Dan aku hanya terpaku tak mengerti. Membiarkannya pergi begitu saja. Aku terbengong-bengong seperti orang liinglung. Hingga akhirnya aku kembali sadar bahwa ternyata aku masih di sini. Apa yang telah terjadi denganku, mimpikah aku ataukah ini memang nyata? Saat kukejar dirinya, angin telah mengantarkannya menjauh dariku. Aku benar-benar terlambat untuk mengejarnya kembali. Sungguh terlambat bagiku, walau hanya sekedar ingin menanyakan, “Ada apa denganmu, Cinta?”. Itu saja.

Indramayu, 29 November 2009

Allrights reserved © 2009

Cerpen by: Ibnu Atoirahman

Iklan

2 comments on “[Cerpen] Sandaran Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s