Kita bukan Cicak atau Buaya, tapi Burung Garuda

buayaPerseteruan antara dua instansi penting di negeri ini sungguh menyita perhatian publik. Tersebutlah dalam kisah fabel, dua institusi tersebut dianalogikan dengan Buaya dan Cicak. Mula-mula sang Cicak mengusik kenyamanan Sang Buaya gara-gara dianggapnya tidak jujur. Sang Buaya pun marah dan mengancam mengajak bertarung karena Sang Buaya yakin dapat mengalahkan Sang Cicak yang dianggapnya kecil dan tidak berdaya. Cicak pun pasrah karena merasa dirinya memang lemah. Namun berita pertengkaran mereka berdua terdengar di seluruh antero negeri. Semua pun berkomentar dan menganggap pertarungan ini tidak seimbang. Maka mengalirlah berbagai dukungan buat Sang Cicak. Meskipun kecil, ternyata ia didukung oleh hampir sebagian besar penghuni hutan rimba. Maka semangat Sang Cicak yang nyaris punah, kembali menggelora. Tekadnya sudah demikian kuat. Jika pertarungan itu mesti dilanjutkan, ia pun takkan gentar melawan Sang buaya, meskipun ia hanya seekor Cicak kecil.

CicakItulah gambaran yang terjadi dalam sebuah lakon kehidupan di dunia hutan antara Buaya dan Cicak. Huiih, aku tak habis pikir. Kenapa meski ada perseturuan semacam itu jika memang tujuannya adalah sama, yakni untuk mengabdi pada negeri yang sama-sama kita cintai ini. Aku merasa prihatin dengan kondisi negeri ini yang semakin hari semakin memprihatinkan. Sudah sering terkena bencana, ditambah pula para elit politik yang ribut gak karuan, saling pasang urat untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri dengan mengabaikan kepentingan negeri ini. Jika ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam instansi itu (yang seringkali dinamakan oknum), lebih baik gak usah menggeneralisasi atas nama institusinya. Harusnya itu pertarungan antar pribadi bukan pertarungan antar institusi. Sungguh memprihatinkan.

Lebih lanjut, metafora Buaya dan Cicak sungguh tidak cocok. Jika dilihat dari dongeng masa lampau, dua hewan itu sungguh jelek dan tidak baik. Buaya sering dianalogikan sebagai hewan buas yang licik. Untuk memangsa hewan lain, buaya seringkali terlihat pendiam (atau pura-pura mati). Padahal ketika sang mangsa lengah sedikit saja, buaya pasti menerkam dengan sadis. Cicak pun demikian. Konon dalam cerita, cicak merupakan hewan yang pernah memberitahu keberadaan Nabi Muhammad Saw ketika bersembunyi di Gua Tsur. Padahal burung merpati dan laba-laba sengaja membuat saran di gua untuk melindungi keberadaan Rasulullah yang bersembunyi bersama Abu bakar Ash Siddiq. Makanya, dalam kitab-kitab fiqih, kita disunnahkan untuk membunuh cicak terutama pada malam jum’at. Analogi keduanya sungguh tidak tepat jika dipasangkan pada dua institusi tersebut. Instansi Kepolisian memiliki tugas mulia untuk menjaga ketertiban umum. Begitu juga dengan KPK (komisi Pemberantasan Korupsi), sesuai namanya memiliki tugas yang sama mulianya dengan kepolisian. Jika ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam dua instansi itu, janganlah digeneralisir. Jangan menyalahkan institusinya tapi salahkan saja oknum-nya.

garudaHarusnya kita sadar. Kita ini bukan Cicak. Kita juga bukan Buaya. Tapi kita adalah Burung Garuda. Dengan tubuh yang kuat, mata yang tajam, kaki-kaki yang kuat mencengkeram dan sayap yang kukuh untuk terbang menjelajah negeri. Harusnya kita sadar akan hal itu. Semua institusi apapun di negeri ini adalah bagian dari burung Garuda tersebut. Tak perlulah masalah-masalah yang ada kita perbesar karena hanya akan membuat masalah tersebut menjadi semakin rumit untuk dicari penyelesaiannya. Jika ada yang bertengkar, maka alangkah baiknya kita damaikan seperti dalam Al Qur’an: ”Damaikanlah antara dua saudaramu yang berseteru!”. Bukan malah memanas-manasi, membuat suasana menjadi semakin gerah. Mari kita doakan semua pihak yang terlibat dalam pertikaian ini untuk segera sadar dari kekhilafan, agar diberi pikiran yang jernih dalam memutuskan suatu permasalahan dengan hati nurani. Demi keutuhan dan ketentraman bangsa ini. Tidakkah kita tega membiarkan begitu saja jasa para pahlawan yang rela berkorban di masa lampau demi republik ini, hanya demi keuntungan sesaat? Jika mereka masih hidup, sungguh menangis rasanya hati mereka melihat kondisi Indonesia sekarang ini. Dulu, mereka berjuang dengan sekuat tenaga, mengangkat senjata melawan penjajah sampai titik darah penghabisan. Untuk apa? Tidak lain agar Indonesia menjadi bangsa besar yang merdeka! Namun kini, tidak sedikit dari kita juga berjuang untuk melawan bangsa sendiri, saling menyalahkan dan menjatuhkan, konflik berkepanjangan, berperang dengan saudara sendiri, demi untuk kepentingan pribadi. Tidakkah cukup berbagai macam bencana yang melanda negeri ini sebagi suatu peringatan dari Allah agar kita kembali pada jalan kebaikan? Sungguh menyedihkan rasanya melihat itu semua. Ingatlah, setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya pada sebuah pengadilan yang lebih adil di akhirat kelak. Marilah sama-sama kita renungkan. Aku memang bukan siapa-siapa. Bukan pula bagian dari instansi yang berseteru. Aku hanya seorang warga negara Indonesia yang ingin peduli dengan nasib negeri ini. Seorang manusia yang menginginkan kedamaian bagi Indonesia…

Wahai Burung Garuda, bangkitlah! Semoga saja, akan ada damai setelah ini.

Indramayu,  10 November 2009

All rights reserved © 2009

(Sebuah Renungan Memperingati Hari Pahlawan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s