Tawashow di Pesantren

Suatu hari menjelang Idul Adha ada seorang lelaki datang menghadap Kyai Bisri. Dia bermaksud melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi. Namun sebelumnya dia berkonsultasi dulu dengan Kiai Bisri, apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Menurut ketentuan fiqih, kurban satu ekor sapi hanya untuk tujuh orang saja. Padahal kelurganya ada delapan orang. Orang tersebut ingin di akhirat nanti satu keluarga bisa satu kendaraan ketika melintasi Shirathal Mustaqim, tidak terpencar-pencar. Mendengar penuturan tersebut, Kyai Bisri langsung menjawab tegas sesuai hokum syariat, “Tidak bisa. Kurban sapi/kerbau hanya berlaku untuk tujuh orang”. Kemudian orang tersebut menawar, “Pak Kyai, apa tidak ada keringanan. Anak saya yang terakhir ini baru tiga bulan”. Dengan menjelaskan dasar hukumnya, Kyai Bisri tetap menjawab, tidak bisa. Dan itu memang benar, hukum memang tidak bisa ditawar-tawar.

Merasa tidak puas, orang itu pun mengadukan persoalannya kepada Kyai Wahab di Tambak Beras. Mendengar persoalan yang diadukan tadi, Kyai Wahab menjawab dengan ringan, “Bisa. Sapi itu bisa digunakan untuk delapan orang. Cuma karena anakmu yang terakhir itu masih kecil, maka perlu ada tambahan”. Mendengar jawaban Kyai Wahab, sungguh gembira lelaki tadi. Kyai Wahab menambahkan, “Agar anakmu yang masih kecil tersebut bisa naik ke punggung sapi, harus pake tangga. Sampeyan sediakan seekor kambing agar anak sampeyan bisa naik ke punggung sapi”.

“Ah, kalo Cuma seekor kambing saya sanggup menambah. Dua ekor pun saya sanggup asal kita bisa bersama-sama , Kyai” kata lelaki tersebut. Akhirnya, orang tersebut menyerahkan seekor sapi dan seekor kambing kepada Kiai Wahab untuk kurban mereka di hari raya.

Hahaha… membaca kisah di atas saya langsung ketawa. Ada-ada saja. Satu persoalan bisa diselesaikan dengan dua pendapat yang berbeda dan keduanya sama-sama benar. Namun karena orang yang bertanya itu termasuk lugu, maka jawabannya pun harus disesuaikan dengan keluguannya dengan tidak menyalahi hukum syariat. Kisah di atas hanyalah satu dari 51 kisah yang saya kutip dari buku “Tawashow di Pesantren” yang disusun oleh Akhmad Fikri AF. Buku ini keren banget, bukan sekedar buku tentang kisah-kisah lucu seperti kebanyakan humor-humor pada umumnya. Tapi lebih menekankan pada aspek humanisme dengan segudang cerita di dalamnya. Seperti kutipan dibukunya juga, kata ‘tawashow’ (jika diambil dari bahasa Arab) bisa juga berarti saling menasehati dalam kebaikan. Dan buku ini berusaha menasehati kita-kita dengan kisah-kisah sederhana dengan tidak mengesampingkan sense of humor di dalamnya. Kisah-kisah khas pesantren di dalam buku ini merupakan kisah-kisah nyata yang pernah terjadi sebelumnya, yang disadari atau tidak mengandung kejenakaan sekaligus sarat makna dan pengetahuan (agama). Sangat cocok bagi anda yang membutuhkan bacaan ringan, tapi penuh ajaran moral tentang kehidupan…

Indramayu, 25 November 2009
All Rights reserved © 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s