Belajar Menjadi Sufi

Nasuh adalah seorang lelaki muda, ia bekerja di panti pijat istana khusus untuk wanita. Karena itu ia mencitrakan dirinya bukan sebagai laki-laki. Namun ketika bekerja memandikan dan memijat para putrid raja ia sering tidak kuasa menahan kodratnya sebagai laki-laki. Ia sering bertaubat, tetapi kelezatan duniawi membuyarkan segala keyakinannya. Suatu saat, ia bertanya kepada seorang arif (sufi) dan meminta doa kepadanya. Sang sufi menjawab, “Semoga Allah menolong anda dalam taubat anda”. Doa sang sufi pun ternyata dikabulkan yang mengantarkan Nasuh pada sebuah peristiwa penting yang mengubah jalan hidupnya. Nasuh tetap bekerja seperti biasa, namun suatu waktu anting-anting putri raja hilang. Semoga orang diperiksa untuk mencari keberadaan anting-anting yang mahal harganya tersebut. Meskipun tidak merasa mengambil benda tersebut, Nasuh luar biasa takut. Pasalnya, dia-lah orang yang selama ini melayani putri. Ia sangat takut dituduh mencuri oleh Sang Raja yang kemudian akan dijatuhi hukuman berat. Maka ketika akan diperiksa, Nasuh tiba-tiba saja pingsan karena begitu takut.

Sebelumnya ia sempat memohon dan berjanji kepada Allah, jika anting-anting tersebut ditemukan dan dirinya dibebaskan dari segala tuduhan, ia akan bertaubat menjadi muslim yang baik. Pada saat itulah datanglah kebaikan ilahiah kepada Nasuh. Ternyata Tuhan mendengar doanya. Anting-anting tersebut akhirnya ditemukan dan Nasuh terbebas dari segala tuduhan. Sejak saat itu, Nasuh menjadi muslim yang kaffah.

Ini adalah salah satu kisah yang aku baca dalam buku ‘Sufisme dan Penyempurnaan Diri’ buah karya seorang penulis bernama A. Reza Arasteh. Buku ini adalah buku terjemahan dari judul aslinya ‘Growth to Selfhood: The Sufi Contribution’. Buku ini diterjemahkan oleh Drs. Ilzamudin Ma’mur MA dan diterbitkan kembali oleh Penerbit Sri Gunting di Indonesia. Aku membacanya sekitar tahun 2001-an yang merupakan hadiah dari seorang teman. Kebetulan masa-masa itu aku lagi nge-fans banget dengan yang namanya sufisme, yang kata sebagian orang terkesan eksklusif. Membaca buku ini seakan aku menemukan dunia lain yang terasa ganjil. Perlu pemikiran ekstra untuk memahami kalimat-kalimat di dalamnya. Ada juga puisi-puisi indah karya-karya Jalaludin Rumi yang menghiasi buku ini.

Ajaran-ajaran sufi kadang tidak dimengerti oleh orang awam kebanyakan. Para sufi (yang kemudian menjelma wali Allah) kadang memiliki kebiasaan diluar adat manusia. Hal ini yang menjadikan beberapa pengikut aliran sufisme mendapat ‘hukuman’ dari publik dan di-cap kafir karena menyimpang dari ajaran Islam. Bagaimana tidak, sebut saja Al Hallaj seorang sufi yang dihukum mati gara-gara menyatakan dirinya adalah “Ana Al Haq” (Aku adalah Kebenaran Kreatif) yang jika diterjemahkan dalam bahasa awam menjadi ‘Aku adalah Allah’. Di Indonesia, aliran semacam ini pernah dipelajari oleh Syekh Siti Jenar, salah satu anggota wali sanga di tanah Jawa. Beliau pun akhirnya bernasib sama dengan Al Hallaj, yakni dihukum mati gara-gara mengakui dirinya adalah Allah.

Lalu, apakah ajaran Sufi ini adalah ajaran yang salah dan menyesatkan? Mm… Menurut KH. Siradjuddin Abbas, Ilmu Tasawuf sebenarnya merupakan ilmu akhlak. Ilmu ini hendaklah dimiliki juga oleh setiap muslim agar ibadah yang mereka lakukan benar-benar sempurna dan ikhlas karena Allah. Kita tahu, tiga ilmu yang wajib dipelajari oleh umat muslim yakni Ilmu Aqidah (berhubungan dengan masalah keyakinan kita terhadap Tuhan), Ilmu Fiqih( yang mengatur tata cara pelaksanaan ibadah kepada Tuhan) dan Ilmu Tasawuf (ilmu akhlak untuk memperbaiki kualitas ibadah kita). Maka dalam ilmu tasawuf (orang yang mendalami ilmu ini dinamakan Sufi) dipelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan hati manusia seperti ikhlas, sabar, tawadlu (rendah hati), qona’ah (merasa cukup dengan apa yang ada), zuhud (tidak berlebihan duniawi), wara’ (hati-hati) dan juga cinta. Intinya, mereka berusaha mencintai Allah dengan sepenuh hati.

Ada orang yang tekun beribadah dengan harapan memperoleh surga-Nya. Ada juga orang yang beribadah karena takutnya pada api neraka. Namun kaum sufi akan beribadah karena rasa cinta kepada-Nya. Andaikan surga dan neraka tidak pernah ada, niscaya para Sufi ini akan tetap beribadah karena cintanya kepada Allah dengan memasrahkan dirinya untuk terus bersama Allah. Saking begitu cintanya kepada Allah, maka yang tampak dimatanya hanyalah Allah, yang didengar hanyalah Allah, yang dilihat hanyalah Allah dan seterusnya. Inilah yang terjadi pada Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Yang mereka lakukan (insya Allah) tidaklah menyimpang, karena pengalaman batiniah dengan Tuhan, sifatnya sangat personal. Hanya saja yang mereka lakukan benar-benar tidak dipahami oleh orang awam kebanyakan seperti kita-kita ini. Yang terjadi adalah perbedaan persepsi dan cara pandang. Maka tak heran, demi menyelamatkan aqidah ummat, mereka pun ‘terpaksa’ dihukum mati. Daya nalar ummat (apalagi bagi masyarakat awam yang masih belum mengenal Islam lebih dalam) tentu akan berbeda dengan mereka yang sudah mengabdikan dirinya di jalan Tuhan dengan penuh ketaqwaan.

Kaum sufi dengan segala ‘keekslusifannya’ sebenarnya hanya menuruti kata hatinya yang bersih. Kadang berusaha menjauhi kaum kebanyakan, selalu menyendiri di gua-gua sepi, berpakaian kumal, berperilaku kadang tidak masuk akal, semuanya tidak lain hanya untuk menjaga hatinya dari segala kejelekan. Namun jangan dikira, seseorang yang bergaul dalam lingkungan masyarakat yang beragam, kemudian tetap tetap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan sepenuh cinta, sesungguhnya telah menjadi seorang Sufi yang sebenarnya dalam sudut pandang yang berbeda. Jika tinggal di gua-gua sepi yang ‘nyaman’ untuk beribadah, tentu hidup berbaur dengan masyarakat heterogen memiliki godaan yang lebih besar. Dan pada saat itulah, keyakinan kita dipertaruhkan. Dalam konteks kekinian, ilmu tasawuf modern seperti yang dijelaskan oleh Pak Yudi Pramuko dalam buku ‘Tasauf Modern Aa Gym – Siti Nurhaliza Apa Adanya’ memiliki ciri-ciri:

  • Tidak ingin hidupnya berprestasi biasa-biasa aja, tetapi ingin mengukir prestasi puncak di dunia
  • Tidak menarik diri dari pergaulan umum
  • Tidak ingin hidup miskin secara finansial juga miskin gagasan, miskin jasa, miskin amal shaleh dan miskin cita-cita besar
  • Tidak ingin jauh dari Allah Swt
  • Tidak ingin kikir ilmu, kikir harta, kikir waktu, kikir tenaga dan kikir ide

Indramayu, 2 Desember 2009

All Rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s