Detektif-nya Agatha Christie

Apakah anda suka dengan adegan seseorang yang tergeletak di kamar dengan sebuah pisau tertancap di dadanya tanpa ada yang tahu penyebab kematiannya? Atau anda suka memecahkan teka-teki rumit yang membutuhkan daya nalar lebih untuk menyelesaikannya? Atau anda menyukai hal-hal misteri untuk segera dipecahkan? Jika iya, berarti anda memang menyukai hal-hal yang berbau detektif. Banyak banget loh buku tentang detektif dari penulis-penulis terkenal macam Sir Arthur Conan Doyle, Stephen King, Edgar Allan Poe, Charles Dickens dan Agatha Christie. Nama yang disebutkan terakhir ini akan kita bahas sedikit dalam tulisan ini.

Sebenarnya banyak banget karya Agatha Christie dan semuanya rata-rata berkisah tentang hal-hal yang berbau-bau detektif atau peristiwa misterius yang menggelitik logika berpikir kita. Membaca karya-karya Agatha Chistie seolah mengajak kita untuk berfikir dan terus berfikir dengan berbagai macam logika-logika yang diciptakannya dalam menyelesaikan suatu kasus. Kadang penyelesaian akhir dari kisah-kisah tersebut sungguh jauh dari pemikiran kita. Itulah hebatnya Agatha Christie yang pernah dijuluki ‘Queen of Crime’. Kita akan dibuat penasaran dengan jalan cerita yang rumit dan melelahkan. Ending ceritanya kadang-kadang benar-benar tak terduga hingga tanpa sadar kita akan bilang, “Kok bisa sih kepikiran kayak gitu?”

Memang belum banyak buku-buku Agatha Christie yang mampir di Pondok Hati. Baru beberapa buku saja yang pernah saya baca. Perkenalan pertama dengan Agatha Christie saya dapatkan dari sebuah buku dengan judul ‘Si Mata Biru’. Saya menemukannya di pinggir jalan, di sebuah pedagang emper jalan yang menjual buku-buku bekas. Bukunya pun udah lama banget alias buku tua. Tapi masih bisa terbaca dengan baik. Tertarik dengan kepopuleran namanya, saya pun memberanikan diri untuk membaca karyanya. Buku ‘Si Mata Biru’ mengisahkan tentang seorang yang bernama Elinor Carlisle (yang bermata biru) yang diduga membunuh seseorang gara-gara masalah warisan. Jalan ceritanya sungguh menarik. Setiap bab selalu ditampilkan ‘suspense’ yang sayang untuk dilewatkan. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, penyelesaian Agatha Christie dalam buku ini sungguh mencengangkan. Ternyata pembunuhnya bukanlah Elinor tetapi seorang suster yang meracunnya. Fakta ini diungkap oleh seorang detektif (Hercule Poirot) melalui sebuah petunjuk yakni bunga mawar. Belakangan saya tahu, buku ‘Si Mata Biru’ ini berganti judul menjadi ‘Mawar tak Berduri’. Pokoke keren bangeet.

Selain ‘Si Mata Biru’, ada tiga buku lain karya Agatha Christie yang pernah saya baca yakni ‘Destination Unknown (Menuju Negeri Antah Berantah), Postern of Fate (Gerbang Nasib), dan They Came to Bagdad (Mereka Datang ke Bagdad)’. Jalan cerita ketiganya tentu saja berbeda namun masih menyuguhkan misteri yang menarik untuk dipecahkan. Dalam buku Destination Unknown (Menuju Negeri Antah Berantah) dikisahkan tentang seseorang yang bernama Hilary Craven yang sudah bosan hidup dan putus asa. Namun suatu kesempatan, ia ditawari untuk menyamar menjadi almarhum seorang ilmuwan nuklir yang tiba-tiba saja lenyap tanpa bekas. Hilary yang sudah putus asa mengira dengan menerima tawaran itu ia telah mendapat cara bunuh diri yang lebih baik daripada minum pil tidur. Tujuan misinya adalah untuk mencari keberadaan ‘suami palsu’ nya yang menghilang. Namun ketika ia telah bertemu dengan ‘suami pura-puranya’ di Maroko tepatnya disebuah laboratorium yang amat modern, semangat hidupnya kembali muncul. Laboratorium itu merupakan tempat berkumpulnya para ilmuwan yang tanpa sadar dipaksa untuk melakukan penelitian untuk suatu ambisi pemiliknya untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Ternyata ilmuwan-ilmuwan itu dijadikan objek jual beli manusia-manusia ber-otak pintar.

Dalam buku ‘Postern of Fate (Gerbang Nasib)’ ceritanya lain lagi. Bermula dari seorang wanita bernama Tuppence yang membaca sebuah buku lama kenangannya di masa kecil. Namun buku yang ia baca ditandai dengan tanda-tanda yang aneh. Siapa sangka tanda-tanda yang dicantumkan dalam buku-buku yang ia baca tersebut membawanya pada sebuah petunjuk teka-teki masa lalu. Kita akan dibawa pda sebuah misteri pembunuhan di masa lampau. Ceritanya cukup menegangkan disamping kita pun harus berfikir ekstra keras untuk sama-sama memecahkan teka-teki yang mereka ciptakan.

‘They Came to Bagdad (Mereka Datang ke Bagdad)’ merupakan buku keempat yang pernah saya baca. Kisahnya tentang seorang wanita bernama Victoria Jones seorang juru ketik steno yang suka bertingkah, berbohong dan pekerjaannya tak pernah beres. Ia menyadari hal itu dan menganggap kehidupan kantor sangat tidak cocok dengannya. Begitu menganggur sekali, ia pun menangkap sebuah kesempatan yang ditawarkan kepadanya untuk terbang ke Bagdad. Ia ingi mengenal dunia secara lebih luas sekaligus mengejar seorang pemuda baik berwajahg tampan yang pernah dikenalnya. Nyatanya, sampai di sana ia malah terjebak dengan sebuah organisasi misterius dan menyaksikan pembunuhan yang terencana. Ia pun terseret pada puasaran arus intrik internasional yang mencekam. Dan sekali lagi, tanpa terduga siapa sangka justru pemuda tampan itulah yang menjadi dalang semua peristiwa yang dialaminya selama ini. Sungguh tak terduga bukan?

Indramayu, 2 Desember 2009
All Rights reserved © 2009
By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s