Finansial Barokah

Apa yang akan anda lakukan ketika mendapat uang (sedikit atau banyak jumlahnya)? Mm..  sebagian besar dari kita tentu akan berfikir bagaimana menghabiskan uang tersebut untuk belanja, beli ini itu, bayar ini itu dan lain-lain. Pendek kata, alokasi terbesar dari uang tersebut tentu adalah belanja. Selain menjadi alokasi terbesar, belanja juga kadang menjadi skala prioritas kita sehari-hari. Maka tak heran, berapapun penghasilan kita, entah itu sangat besar sekalipun, kenapa kok rasanya selalu kurang? Bahkan tidak mungkin malah yang terjadi justru defisit keuangan. Namun di lain pihak, ada juga orang yang penghasilan yang sedikit ternyata tidak merasa kekurangan sekalipun, justru selalu lebih. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Inilah yang diceritakan Pak Syafi’i Antonio, salah satu pakar ekonomi islam yang hebat di Indonesia. Saya paling suka kalo Pak Syafi’i Antonio berceramah. Materi yang beliau kemukakan selalu memberikan pencerahan dan ilmu baru terutama masalah ekonomi berbasis syariah yang mestinya diterapkan di seluruh aspek lembaga finansial di Indonesia. Terbukti kan, bank-bank berbasis syariah relatif lebih ‘tahan’ menghadapi krisis global dibandingkan dengan bank-bank konvensional berbasis ‘bunga’. Berkaitan dengan masalah penghasilan tadi, selain faktor ‘keberkahan’ dari harta yang kita miliki, ternyata perlu kiat-kiat khusus dalam mengelola keuangan kita. Pak Syafi’i mencontohkan sebagai berikut. Misalkan kita memiliki uang sebanyak Rp. 2.000.000. Piramida berikut menggambarkan alokasi keuangan yang kita miliki berdasarkan skala prioritas.

Contoh Alokasi keuangan

Belanja = Rp. 1.500.000
Investasi = Rp.  250.000
ZIS = Rp. 50.000
Bayar Hutang = Rp. 100.000
Tabungan = Rp. 100.000

Pembagian nominal di atas hanya salah satu contoh saja. Besarnya tergantung keinginan anda. Namun yang menjadi perhatian utama adalah skala prioritas pembagian keuangan tersebut. Piramida paling bawah menunjukkan bahwa alokasi tersebut semakin penting dan menjadi skala prioritas utama. Semakin ke atas, skala prioritas menjadi semakin berkurang. Yang jelas, alokasi ‘tabungan darurat’ memang sangat penting kita perhatikan. Walaupun nilainya tidak terlalu besar, tetapi harus ada sebagai bentuk persiapan kita menghadapi masa-masa tak terduga. Membayar hutang juga penting jika kita memilikinya. Perlu alokasi khusus untuk menyicilnya jika tidak sanggup untuk membayar secara penuh.  Dalam kaitannya dengan membayar hutang, Pak Syafi’i Antonio memberikan cara-cara bagaimana membayar hutang, diantaranya:

  1. Menghitung besarnya hutang
  2. Mengklasifikasikannya (apaka termasuk mendesak atau longgar, apakah besar atau kecil)
  3. Menambah pendapatan
  4. Merubah gaya hidup (misalnya dengan berhemat dan skala prioritas dalam belanja)
  5. Belajar dari pengalaman orang yang pernah berhutang
  6. Menggunakan kartu kredit syariah (jika perlu kartu kredit)
  7. Memperbanyak dzikir agar dimudahkan rizqinya oleh Allah dengan membaca: Ar Rozaq, Al Wahab, Al Wasi’I, Al Ghoniy, Al Mughni.

Alokasi untuk Zakat Infaq Shodaqoh (ZIS) juga tak kalah pentingnya. Dari semua harta kita, ada 2,5 % kotoran harta yang harus dikeluarkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Apalagi kalo sudah mencapai nishab (batas) yang diwajibkan untuk berzakat. Kalo belum mencapai nishab, tidak ada salahnya untuk berinfaq shaqadah. Gak ada ruginya kok. Bahkan Allah sudah berjanji untuk senantiasa melipatgandakan harta yang kita sedekahkan kepada orang yang membutuhkannya. Dan inilah yang menyebabkan harta kita menjadi lebih berkah. Nah, tinggal yang terakhir, alokasi untuk investasi dan belanja. Besar dan jumlahnya tergantung anda. Itulah beberapa kiat-kiat khusus mengelola keuangan menurut Pak Syafi’i Antonio. Dalam skala yang lebih besar (misalnya APBD/APBN suatu daerah/negara) alokasi pembagian menurut piramida di atas dapat pula kita terapkan. Dengan demikian, harusnya tidak ada lagi kata ‘defisit’ dalam anggaran keuangan kita. Wah, bener-bener nambah pengetahuan banget kan? Layak untuk kita coba terapkan minimal dalam ruang lingkup rumah tangga. Hehe.. ^_^V

Indramayu, 7 Desember 2009

All Rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

One comment on “Finansial Barokah

  1. Suka banged penjelasannya. Saya udah berapa kali kecele dengan gambar piramida itu. Bahkan beberapa penjelasan tetep gak kena ke saya. Alhamdulillah penjelasan ini oke banget.

    Cuman menurut saya pake gambar piramida ini sensasi doang padahal kan poin utamanya urutan kepentingan. Kalo urutan kan bisa pake nomer aja seperti biasa. Itu sih menurut saya.

    Satu lagi. Kalo untuk infestasi itu apa kah LM, reksadana dll? Soalnya saya nggak kebayang infestasi dg 250rb / bln spt ilustrasi di atas.

    Makasih sebelumnya, ditunggu balasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s