Dari Kecam Menuju Peradaban

Suatu waktu, dalam peringatan Tahun Baru Hijriyah 1431 H, Pak Quraish Shihab menjelaskan tentang makna dibalik hijrahnya Rasulullah Saw ke Madinah. Menurut beliau, “Hijrah” artinya berpindah dari sesuatu/tempat yang buruk/baik menuju ke sesuatu/tempat yang baik/lebih baik, karena kita tidak menyukai sesuatu/tempat tersebut. Sebelum hijrah ke Madinah, hijrah pertama yang dilakukan oleh umat muslim adalah ke negeri Habsyi (Etiophia) dan di sana mereka diterima baik oleh Raja Najashi yang beragama nasrani.  Barulah kemudian, nabi memerintahkan umat muslim untuk hijrah ke Madinah. Mengapa dipilih Madinah? Hal ini tak lain karena benih-benih Islam telah ada di negeri ini. Banyak orang yang sudah mendengar tentang kenabian Rasulullah dan beriman kepadanya. Maka logikanya, mengembangkan Islam di daerah yang penduduknya menerima keimanan tersebut tentu lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan negeri yang penduduknya ingkar dan susah diatur.

Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, negeri itu bernama Yatsrib yang berarti ‘kecam’. Negeri itu adalah negeri yang sangat buruk karena banyak terjadi wabah penyakit. Ditambah lagi para penduduknya sering mengecam satu sama lain, saling mencaci maki, mengkritik, menjatuhkan, saling curiga dan permusuhan antar suku dan kabilah. Namun setelah Rasulullah hijrah, negeri tersebut beliau ganti namanya menjadi Madinah Al Munawaroh yang berarti kota/peradaban yang diterangi cahaya. Terbukti, akhirnya Madinah menjadi negeri yang penuh peradaban dan dijadikan salah satu model masyarakat yang ideal. Tentu kita sering mendengar. ada ungkapan “masyarakat madani” yang sejahtera, saling berkasih sayang, saling menghormati satu sama lain. Hal ini tidak lain terkait erat dengan hijrah Nabi ke Madinah. Ada pula “Piagam Madinah” yang mengatur hubungan orang Islam dengan orang bukan Islam (dalam hal ini Yahudi dam orang kafir) yang menjadi undang-undang kenegaraan. Hikmahnya, jika ingin menjadikan suatu negeri yang penuh peradaban tinggi, maka penduduknya janganlah saling kecam-mengecam, mencaci maki, permusuhan, saling kritik yang tidak membangun dan sejenisnya. Tinggalkan saling bantah-membantah, taatlah pada pemimpin, patuhlah kepada ulama.

Peristiwa hijrahnya Madinah tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah sendirian, tetapi melibatkan banyak pihak. Setelah banyak kaum muslim muhajirin yang hijrah terlebih dahulu ke Madinah, maka tibalah saatnya Rasulullah juga untuk berhijrah. Dikisahkan dengan penuh dramatis dalam sejarah-sejarah kenabian, hijrah nabi ternyata melibatkan banyak orang yang membantu. Sebagai contoh, beliau berangkat hijrah bersama dengan Abu Bakar As Shiddiq. Beliau menunggang unta yang dibeli dari Abu Bakar, padahal abu bakar sendiri telah merelakan untanya untuk diberikan kepada Rasulullah. Namun Rasulullah tidak mau menerima begitu saja pemberian ini. Beliau ingin membelinya dari Abu Bakar. Hikmahnya, jika ingin hijrah ke arah yang (lebih) baik, harus rela berkorban, jangan menunggu hadiah dari orang. Ada juga Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bertugas menggantikan nabi, tidur di kamar dengan selimut hijaunya. Padahal saat itu, nabi telah dikepung oleh kafir Quraisy yang akan membunuhnya. Ali tahu bahwa menjadi pengganti nabi, tidur di kamarnya resikonya sangat berat, yakni dibunuh. Namun rupanya Ali telah siap untuk berjuang, meskipun nyawa taruhannya. Ada juga orang yang bertugas menjadi penunjuk jalan, namanya Abdullah bin Uraitid, seorang musyrik suku Quraisy. Meskipun bukan beragama Islam, tetapi dia membantu hijrah nabi. Ada yang bertugas untuk menghapus jejak kendaraan nabi agar tidak diketahui oleh orang. Orang yang bertugas membawakan makanan kepada Nabi ketika bersembunyi di Gua Tsur adalah seorang perempuan yang tengah hamil tua bernama Asma’ binti Abu Bakar. Bisa dibayangkan, dalam hamil tua, dia harus mendaki bukit untuk mencapai gua tsur. Dikisahkan juga ada hewan burung merpati dan laba-laba yang membuat sarang di gua ketika nabi bersembunyi. Tujuannya adalah kamuflase, agar keberadaan nabi tidak diketahui oleh musuh yang hendak membunuhnya. Hal ini membuktikan, untuk hijrah dari keadaan yang jelek menuju perbaikan diperlukan banyak pihak yang berperan. Ada golongan tua, golongan muda, laki-laki, perempuan, muslim bahkan bukan muslim pun turut membantu hijrah nabi. Dalam konteks bernegara, maka untuk menciptakan negeri yang penuh peradaban tinggi maka semua pihak harus berperan aktif terlibat dalam proses pembangunan peradaban.

Inilah beberapa alasan yang menjadikan Shahabat Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan tahun dalam Kalender Hijriyah. Sebuah peristiwa besar dan penting dalam sejarah yang mengantarkan umat muslim berhijrah menuju negeri yang akhirnya memiliki peradaban yang tinggi, Madinah. Dari kecam menuju peradaban. Dari gelap menuju cahaya.

Indramayu, 25 Desember 2009

All Rights reserved © 2009

By Ibnu Atoirahman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s