Strategi Sandal dan Kyai

Seorang santri ditugaskan untuk mengantar seorang kyai yang pada saat itu memang punya keperluan. Zaman itu belum ada yang namanya kendaraan bermotor. Kendaraan yang efektif Cuma sepeda onthel (sekarang ini harganya jadi mahal karena merupakan barang antik. Hehe..). Maka berangkatlah santri bersama sang kyai. Santri yang mengayuh sepeda sementara sang kyai duduk membonceng di belakang kemudi. Agar suasana gak bosan, maka sang kyai pun bercerita macam-macam. Santri hanya sesekali menanggapi sambil tersenyum. Ia merupakan sosok santri yang sangat menghormati gurunya. Maklum saja, dikalangan pesantren kyai merupakan sosok yang dihormati, berkarisma dan berwibawa. Jarang banget ada santri yang berani berbicara atau menyela ucapan gurunya.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja santri tersebut merasa ingin ‘buang angin’. Usut punya usut, ini gara-gara ia terlalu banyak makan ubi di pondok bareng sama temen sekamernya. Keinginan itu ia tahan demi menghormati sosok penting yang sedang diboncengnya. Dengan sekuat tenaga ia mengayuh sepeda agar cepat sampai. Namun ternyata, sang kyai tidak juga menghentikan sepedanya. Mulanya ia masih bisa tahan. Semakin lama ia semakin kacau karena sudah tidak tahan untuk menahan ‘buang angin’ nya lebih lama lagi. Mukanya jadi pucat demi menahan ‘buang angin’ semenjak tadi. Untuk pak kyai gak tahu. Ia terus berpikir gimana caranya agar bisa ‘buang angin’ dengan aman tanpa diketahui sang kyai sehingga ia tidak merasa malu. Sang kyai merasa sepedanya dikayuh dengan kencang. Namun ia juga enggan untuk menanyakan ada apa. Akhirnya, santri pun mempunyai ide cemerlang yang tiba-tiba terlintas dalam benakknya.

“Waah, sandalku jatuuh. Maaf, kyai. Saya akan ambil dulu” kata santri itu yang memang menjatuhkan sandal dengan sengaja.

“Yo wis, berhenti dulu. Ambil sendalmu yang jatuh” kata kyai.

“Alhamdulillaaaah…” ucap sang santri tanpa sadar dengan suara keras setengah berlari menuju tempat jatuhnya sandal. Sang kyai pun bingung, sandal jatuh kok malah seneng banget. Namun itulah strategi santri untuk ‘buang angin’ dengan aman. Ia pun mengambil sandal dan mengakhiri penderitaannya selama ini. Hehe…

Setelah kembali menuju sepedanya, sang kyai tanpa sadar juga bilang, “Syukurlah, akhirnya bisa lega sekarang. Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi sampai, kok!”. Santri pun kaget dan jadi malu sendiri. Mungkinkah Pak kyai tahu keinginannya sejak tadi. (Bingung mode: On) …

Indramayu, 24 Januari 2010

All Rights reserved © 2010

By Ibnu Atoirahman

One comment on “Strategi Sandal dan Kyai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s