Padang Seribu Malaikat

Semenjak dulu, Afghanistan dikenal dengan negeri seribu duka. Namun dibalik duka yang menyelimuti negeri ini, tersimpan sejuta kegigihan perjuangan. Semangat juang inilah yang diajarkan oleh pembawa islam pertama ke negeri yang akhirnya beribukota di Kabul ini yakni Muhallib bin Abi Shafra. Beliau seorang arab yang dalam usia muda memimpin tentara Khalifah Muawiyah I di tahun 42 H. Tentara inilah yang mengembangan Islam di bumi Afghanistan, mula-mula.

Berbicara tentang Afghanistan, kita akan teringat tentang invasi Amerika Serikat ke negeri ini dalam rangka mencari seseorang yang mereka anggap dalang terorisme dunia, Osama bin Ladin dan kelompoknya Al Qaeda. Akibat invasi ini, menimbulkan banyak warga sipil tidak bersalah yang menjadi korban. Afghanistan berduka. Jauh sebelum peristiwa itu terjadi, berbagai kabilah dari suku-suku Pasthun, Parsi, Uzbek, Paktia dan masih banyak lagi suku lain hidup berdampingan sebelum wilayah tersebut penuh darah dan air mata karena invasi USSR. Walaupun invasi tersebut tidak memberikan hasil yang berarti, namun mental penjajah tertanam kuat pada pemerintah Afghanistan saat itu yang akhirnya berpakaian muslim berotak komunis. Dan kisah ini terjadi pada masa-masa penyerangan Sovyet ke negeri ini.

Kisah yang aku maksud adalah sebuah novel bertema epik penuh perjuangan yang merupakan baian dari Seri Balada Mujahidin. Judulnya ‘Padang Seribu Malaikat’ karya seorang penulis hebat Mbak Izzatul Jannah (nama pena dari Mbak Setiawati Intan Savitri). Membaca novel ini, kita akan dibawa pada suasana peperangan Afghanistan akibat invasi rezim komunis (USSR) di negeri ini sejak tahun 1406 H. Meskipun serangan mereka gagal, tapi benih-benih komunis mulai tercipta di negeri ini dan menciptakan konflik berkepanjangan.

Novel ini berkisah tentang seorang pemuda Indonesia (asal Jakarta )bernama Dani. Ia seorang pemuda yang diberkahi hidayah Allah sehingga memilih jihad di jalan-Nya daripada meneruskan kuliahnya atau menikah. Hehe.. hebat juga ada mujahid asal Indonesia gitu loh! Di Kamp Jawer Provinsi Paktia (30 km dari kota Khust Afganistan), ia harus berperang (terutama) melawan dirinya sendiri, melawan kebiasaan buruknya selama ini yang bergelut dengan urusan keduniawian.  Di medan jihad itulah ia bertemu dengan keajaiban-keajaiban Ilahi, menyaksikan indahnya kematian karena jihad kepada Allah. Ia seperti mencium wewangian kesturi para syuhada, menyaksikan dengan mata kepala sendiri para malaikat (pasukan berbaju putih) yang ikut terjun membantu para mujahidin. Ia juga menyaksikan upaya-upaya sukarelawan dokter non muslim yang berusaha menghancurkan mental dan moral para mujahidin. Di situ pula, ia bertemu dengan Zain, seorang bocah yang berusia belasan tahun yang terpaksa yatim piatu akibat kekejaman komunis. Bertemu juga dengan Alexandra, seorang wartawati Frontier Post Peshawar berkebangsaan Rusia yang beberapa kali ia selamatkan nyawanya dan rupanya mulai menyukainya. Dani terus berjuang tanpa akhir bersama sahabat-sahabatnya. Meski tidak gugur di medan jihad, di akhir cerita Dani terjatuh ke jurang akibat menolong Zain. Entahlah, apakah Dani meninggal atau tidak, biarlah pembaca sendiri yang membayangkan akhir kisah penuh perjuangan ini.

Indramayu, 8 Februari 2010
All Rights reserved © 2010

By Ibnu Atoirahman

One comment on “Padang Seribu Malaikat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s