Joe yang Kesepian

Kesepian ada kalanya baik, sebagai bentuk perenungan diri kita. Istilahnya bermuhasabah, menghitung diri, apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Apakah kita sudah melaju di jalan yang benar atau justru sebaliknya. Jika kita merasa tersesat di jalan yang salah, ada baiknya bertanya kepada orang yang tahu, agar perjalanan (hidup) kita selalu berada di jalan yang lurus. Punya masalah, kita juga ‘menyepi’ berusaha mencari penyelesaian yang mungkin bisa kita lakukan. Ya, semacam itu lah. Merasa sepi sejenak untuk sekedar merenungi perjalanan hidup kita di dunia. Dan itu boleh, gak ada yang melarang bukan? Namun ternyata kesepian yang berkepanjangan justru tidak baik loh. Kesepian yang terus menerus dipelihara akan menimbulkan masalah-masalah baru yang mungkin saja lebih parah dari sebelumnya. Seperti Joe, dalam novel remaja karya Uda Melvi Yendra (soale dari Padang sih, hihi). Judulnya “Lonely Joe”.

Kisah Joe ini bermula dari kehidupan bahagia dalam keluarganya. Namun, tiba-tiba saja kebahagiaan itu mendadak lenyap karena Joe harus kehilangan papa-nya karena kanker ganas yang dideritanya. Joe merasa semua kehidupannya telah berakhir. Menurutnya, kehilangan sosok papa berarti kehilangan penopang hidup. Selama ini, dari papa lah semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, seperti mata air yang mengalirkan kesejukan jiwa. Baginya, papa adalah penopang hidupnya dan keluarganya. Maka tatkala papa telah tiada, mereka seperti mendapati tiang penyangga rumah yang tiba-tiba roboh.

Mulanya, Joe yang masih sekolah ini menyalahkan mama yang dianggapnya tidak bisa melakukan apa-apa. Mama dianggapnya tidak siap menggantikan posisi papa sebagai pemberi nafkah keluarga. Tapi saat mama hanya bisa menangisi ketidakberdayaannya, Joe sadar bahwa beban itu harus ia pikul sendirian meskipun masih berstatus pelajar SMA. Dan perenungan-perenungan panjang Joe pun dimulai.

Joe mencari jalan keluar. Ia terus berfikir dan merenung dalam kesendiriannya. Hidup harus terus berjalan. Ia ingin bekerja untuk menggantikan posisi papa sebagai penopang keluarga. Ia pun harus meninggalkan sekolah dan teman-teman dekatnya selama ini demi sebuah harga diri. Kesepian Joe akan identitas-nya ternyata menjadikannya terjerumus pada sisi gelap dan labirin rumit sebuah jaringan mafia narkoba. Gawat! Ia benar-benar terjebak pada pekerjaan yang tidak diketahuinya. Sungguh kasihan Joe. Ia pun berusaha kabur dan kembali. Memilih kabur berarti siap menerima segala konsekuensinya, termasuk duka dan kesedihan yang bertubi. Dan dia memang harus siap, segalanya…

Novel ini seru juga! Novel ini sungguh bercerita tentang realita yang bukan mengada-ada. Dibumbuhi sedikit rasa cinta yang berbeda. Masih ditambah dengan rasa takut, khawatir, suka dan duka yang silih berganti. Di dunia nyata, masih banyak Joe-joe yang mengalami permasalahan seperti ini dengan beragam macam kisah mereka. Hingga akhirnya kita sadar, ketika merasa sepi seorang diri, kita pun bisa belajar dari kisah Joe yang kesepian ini.

Indramayu, 10 Maret 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s