[Cerpen] Badai Hati

Pikiranku masih digelayuti rasa penasaran dengan wanita yang kutemui. Nadia, sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah sosok yang lembut, bersahaja dan ketegaran jiwa. Sepanjang pertemuanku, belum pernah kulihat dirinya menangis, sampai tadi siang. Memang aku baru bertemu dia dua kali. Pertama, aku bertemu dengan dia tanpa sengaja disebuah tempat makan. Ia sedang bersama keluarganya untuk menghadiri sebuah pernikahan saudaranya. Waktu itu kami sempat ngobrol meskipun tidak banyak dan sempat bertukar nomor telepon. Dan kedua adalah tadi siang. Itu pun setelah kita janjian di telepon untuk bertemu. Aku yang memintanya. Makanya aku begitu bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah semua yang kulakukan itu salah? Ataukah ada hal-hal lain yang membuatnya merasa sedih. Maka segera saja kuambil kembali ponsel-ku. Karena shock, aku belum sempat menelponnnya lagi. Ragu. Haruskah aku menelponnya? Atau kubiarkan saja menunggu waktu?

Uhh, rasanya aku jadi semakin pusing saja. Hatiku bergolak, seperti badai yang menerpa lautan luas. Karena tidak tahan didera rasa penasaran, segera saja kutelepon dirinya. Mulanya aku ragu untuk menekat tuts ponsel. Bolak balik jalan kesana kemari di ruang tamu. Sampai-sampai ibu menjadi penasaran.

“Apa yang terjadi?” katanya dengan lembut. Namun wajah ibu diliputi kekhawatiran, sama seperti diriku. Merasa jejakku ketahuan, aku merasa sangat malu. Belum saatnya ibu tahu tentang masalah ini. Nanti saja jika sudah yakin dan pasti, aku akan memberi tahunya. Ya, ketika semua telah siap.

“He..he.. enggak kok, Bu. Cuma lagi bete aja” kataku. Aku gak mau ibu ikut-ikutan gelisah sepertiku.

“Apa? Pete?” ibu bertanya tak mengerti. Hampir saja aku tertawa mendengar ucapan ibu yang lugu. Tipe wanita desa yang polos, tak tersentuh oleh kemajuan zaman. Tentu saja beliau takkan terbiasa dengan kata-kata semacam itu. Namun bagiku, sosok ibu adalah sosok paling mulia menggantikan sosok ayah yang tak pernah kuketahui wajahnya semenjak aku dilahirkan ke dunia. Maka tak berkurang rasa hormat dan sayangku kepadanya.

Sebenarnya, aku ingin menjelaskan kalo bête itu berasal dua huruf B.T. Katanya sih berasal dari kata Bored Time yang berarti waktu yang membosankan. Istilah bête sudah sering digunakan, yang merupakan serapan dari bahasa asing (inggris). Aku pernah membaca buku yang menjelaskan tentang kata-kata serapan ini. Percaya gak percaya, konon katanya, 9 dari 10 bahasa Indonesia merupakan serapan bahasa asing. Memang gak aneh sih, soalnya dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata semacam itu sudah sangat familiar dan sering kita gunakan. Contohnya saja kata sori (sorry=maaf), kiyut (cute=lucu), riviu (riview=ulasan) dan lain sebagainya. Kalo aku jelaskan semuanya, pasti bakalan lama. Lagian belum tentu ibu ngerti. Jadi langsung saja kujawab tanyanya, “Bukan pete tapi be-te, Bu. Artinya bosen”.

“Bosen kenapa, Nak?” katanya dengan kelembutan yang sama. Duh, makin gak enak aku mendengarnya. Sebenarnya, aku tipe orang introvert, sering menutup diri. Bagi sebagian orang, hal ini menyiksa diri. Namun beginilah diriku. Selama masih bisa kulakukan sendiri, tak perlulah orang lain tahu, meskipun itu ibu sendiri. Biar saja, aku yang menyelesaikannya, tanpa melibatkan ibu. Lagian aku malu, belum saatnya ibu tahu mengenai masalah ini.

“Kayaknya perlu refreshing nih, Bu!”. Ibunya mengernyitkan kening. Mungkin merasa aneh dengan sikap dan kata-kataku. Aku langsung sadar, dan melanjutkan, “Maksudnya pengen jalan-jalan gitu, Bu”. Akhirnya ibunya tersenyum.

“Oh, kirain ada apa. Yo wis, keluar saja dulu. Biar ndak bosen kayak gini!”

“Baiklah. Aku izin keluar dulu, Bu!” kucium tangannya.

Daripada dirumah aku dilanda rasa gelisah karena penasaran, aku pun izin keluar. Tujuanku sudah jelas, daerah pesawahan. Maklumlah, aku adalah anak kampung yang hidup ditengah-tengah habitat alami tanaman padi. Jika aku dilanda bosan atau gelisah seperti saat ini, tempat ini sangatlah cocok dan cukup menentramkan.

Benar, tempatnya sungguh menyenangkan. Pesawahan masih menghijau baru beberapa minggu saja ditanam para petani. Desaku memang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Termasuk ayahku, kata ibu sih bgitu. Tapi aku tak pernah mengetahuinya. Aku tak pernah menatap wajahnya. Ibu bilang dia sudah meninggal, tanpa pernah kuketahui dimana kuburnya. Sawah peninggalan ayah hanya sepetak. Itu pun sudah dijual, sebagian untuk biaya kuliahku. Sebagian lagi digunakan ibu untuk modal usaha seperti warung di depan rumah. Itulah harta kami satu-satunya yang masih tersisa. Warung yang tidak besar, hanya cukup untuk membiayai hidup sehari-hari.

Aku langsung menuju sebuah gubuk yang sengaja dibuat oleh petani untuk tempat istirahat. Angin sore bertiup semilir, mendamaikan jiwa yang dilanda resah. Kulihat para petani sedang asik menaburkan pupuk di sawahnya. Mereka berharap bisa memanen hasilnya suatu saat kelak. Aku memejamkan mata, menikmati semilir angin menerpa pori-pori kulitnya. Ah, sungguh nikmat rasanya. “Alhamdulillah” aku bersyukur pada Tuhan akan nikmat ini.

Akhirnya aku punya kesempatan untuk menelpon. Ku keluarkan ponsel dari dalam saku. Kucari nomor Nadia yang kuminta beberapa minggu yang lalu. Sebelum pertemuan di taman tadi siang, aku sempat bertemu Nadia. Hanya sebentar saja, sekedar mengingat masa lalu dan saling bertukar kabar dan nomor telepon. Jaman kuliah dulu, mana ada ponsel. Sekarang, ponsel bukan lagi barang mewah. Hampir semua orang punya. Di desaku juga. Yang lucu, ada juga beberapa petani yang sampe bawa ponsel segala ketika pergi ke sawah. Hehe.. Antara geli dan aneh, tapi itulah yang terjadi. Teknologi sudah semakin maju sekarang dan telah menjangkau desa-desa. Harga ponsel sudah sangat murah.

Semenit kemudian aku sudah menekan tuts ponsel untuk menghubungi Nadia. Mulanya aku ragu, tapi kegelisahanku mengalahkan rasa raguku. Maka langsung saja kutekan tuts nomor-nomor di ponsel. Tersambung. Ada nada Ring Back Tone (RBT), lagu “Mimpi yang Sempurna”-nya Peter Pan. Sejenak aku tersenyum sendiri. Beberapa menit kemudian tiba-tiba terputus. Mm..mm.. Aku mengulanginya lagi. Sama, terputus juga. Sejurus kemudian, terdengar suara operator telepon yang memberitahukan bahwa nomor yang kuhubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area.

Aku menghentikan panggilan sejenak, kemudian mengulanginya. Namun hasilnya sama saja, tak tersambung. Aku semakin penasaran. Kegelisahanku muncul kembali. Apakah Nadia tidak mau menerima telepon atau bagaimana. Aku masih penasaran dan mengulangi panggilan telepon ke nomor yang sama. Jawabannya sama, telepon tidak aktif. Aku menyerah. Sejenak ku alihkan pandanganku ke depan. Terlihat petani tadi yang ternyata tetanggaku masih bergelut dengan pekerjaannya. Aku dilanda kebimbangan. Kupejam mataku dan dialirinya semilir angin wajahku. Kepalaku yang mendadak pusing seperti disapu dinginnya angin. Sungguh nikmat rasanya.

“Dek Arif, lagi di sini?” tanya petani tetanggaku yang telah ada di gubuk.

“Iya, Mang! Lagi pengen jalan-jalan. Hehe.. Eh, Mang padi-nya varietas apa?” kataku mencairkan suasana.

Dan mengalirlah obrolan khas para petani. Menceritakan jenis padi yang ia tanam, jenis pupuk dan lain sebagainya. Masih ditambah obrolan tentang tikus, hama penyakit yang sering menjadi musuh utama para petani. Aku hanya mendengarkan saja, karena aku memang tak pernah tahu. Meskipun sudah sarjana –orang desa selalu menganggap sarjana itu orang hebat dalam segala hal– masalah pertanian bukan bidangku. Aku kan kuliah di Jurusan Ekonomi.

Obrolan dengan tetanggaku cukup menyenangkan dan seolah melupakan sejenak masalahku dengan Nadia. Dan ketika hari menjelang Ashar, aku pun pulang bersama dengan tetanggaku. Tentu saja, masih dengan sebongkah kegelisahan dan rasa penasaran, karena Nadia masih belum bisa dihubungi juga.

***

Setelah shalat Maghrib berjamaah dengan ibu, masih kusempatkan untuk mengaji beberapa lembar Qur’an. Ibu senang ketika aku membaca Al Qur’an karena suaraku bagus, katanya. Ibu sendiri tidak bisa membaca Al Qur’an. Ia tipikal wanita desa yang tidak mengerti pendidikan. Mungkin hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR). Namun pendidikan yang rendah menjadikannya sosok yang lugu, jujur dan rendah hati. Itu yang aku salut dari ibu. Orang jaman sekarang, pendidikannya tinggi tapi kelakuannya seperti tidak berpendidikan. Pengennya yg instan-instan, jadi orang kaya baru tak peduli halal haramnya. Jadilah korupsi merajalela. Beda dengan ibu. Meski bukan lulusan pendidikan tinggi, ia seorang pekerja keras. Ia pun rela bersusah payah demi seorang anak yang sukses dan berhasil. Hidup serba kekurangan ia jalani demi sebuah cita-cita mulia. Dan tak heran, ketika aku lulus menjadi seorang sarjana dari sebuah universitas di kota, beliau menangis dengan haru sekaligus bangga. Dan aku kembali ke desa ini sebulan yang lalu. Meski belum tetap mendapatkan pekerjaan, toh ibu tidak pernah mempermasalahkannya.

Setelah menyelesaikan bacaan Qur’anku, aku kembali mencoba peruntunganku untuk menelpon Nadia. Kuraih ponsel dan mengubungi nomornya. Tapi tetap saja, teleponnya tidak aktif. Aku tak habis akal. Kukirimkan saja pesan singkat melalui SMS ke nomor ponselnya.

“Maafkan aku jika telah berbuat suatu kesalahan”

Tulisku. Lalu kukirimkan kepadanya. Hasilnya sama saja. SMS ku masih tetap pending pertanda ponselnya memang benar-benar tidak aktif. Aku menyerah. Lalu kutinggalkan segalanya.

Aku membantu ibu mempersiapkan dagangan untuk esok hari. Warung ibu adalah sebuah warung makanan yang menjual makanan khas desa kami. Ya, untuk sarapan pagi orang-orang, ketupat sayur namanya. Ibu selalu melakukannya setiap hari. Membuat ketupat, mengisinya dengan beras lalu memasaknya. Ibu pun membuat kuah sayur yang berisi campuran macam-macam yang akan dimakan bersama ketupat. Masih ditambah lagi beberapa panganan kecil seperti gorengan sebagai pelengkap. Lebih nikmat ditambah sambal. Sangat lezat rasanya. Untungnya tidak besar memang, hanya untuk membiayai hidup sehari-hari. Begitulah yang ibu lakukan setiap hari. Kadang aku sedih sendiri membayangkan semua hal yang ibu lakukan seorang diri, tanpa diriku. Memang sih, kadang-kadang dibantu dengan seorang tetangga. Tapi hanya pekerjaan ringan saja, dan ibu memberinya upah alakadarnya juga..

“Sudahlah, biar ibu saja yang mengerjakan. Kau kerjakan hal lain saja”

“Tidak, Bu. Kita kerjakan bersama-sama. Aku akan mengerjakannya setelah ini”

“Ibu, makasih untuk semuanya..” tiba-tiba aku ingin menangis membayangkan apa yang ibu lakukan selama ini.

“Eh… ada apa ini. Ini memang sudah tugas ibu” Katanya tiba-tiba merasa aneh dengan ucapanku.

“Aku tahu. Tapi tetap saja aku harus berterima kasih! Doakan bu, aku bisa dapat kerja! Biar ibu gak usah seperti ini lagi!”

“Pasti. Pasti ibu doakan. Tapi yang ibu lakukan ini semuanya bukan karena kamu. Ibu ikhlas.” Ada sebutir air mata menggenang dipelupuk matanya.

“Makanya, aku bersyukuuuur banget punya ibu yang sangat baik!” aku pun memeluknya tanpa sadar.

Ibu pun demikian. Sepertinya ia sangat terharu dengan ucapanku. Dalam hati aku berdoa, semoga bisa membahagiakan ibu dengan kelimpahan materi suatu saat nanti.

Setelah shalat Isya, ibu masih saja sibuk. Aku masih membantu sebisaku meskipun berkali-kali ibu melarang. Ketika hari telah semakin malam, semua pekerjaan hampir selesai. Tinggal dimasak saja nanti sekitar pukul 3 dini hari. Ibu pun akhirnya tidur. Kasihan sepertinya beliau lelah. Sekarang sudah jam 10 malam. Aku pun masuk kamar. Kuraih ponselku. Ternyata ada sebuah SMS masuk. Dari Nadia. Aku tidak tahu ada SMS masuk. Dikirimkan pukul 19.15 WIB. Berarti ketika aku masih membantu ibu di dapur tadi.

“Maafkan Aku, Rif. Aku baik-baik saja. Kamu tidak salah sedikit pun. Sekali lagi maafkan aku”

SMS itu memang tidak menjawab pertanyaanku. Namun aku sedikit lega bahwa dia baik-baik saja. Meskipun aku masih penasaran, namun aku harus tidur sekarang.

Indramayu, 16 Maret 2010

All Rights Reserved (c) 2010

By Ibnu Atoirahman

One comment on “[Cerpen] Badai Hati

  1. salam kenal…

    blognya keren , artikelnya juga keren keren dan mantap mantap,,

    thanks, di tunggu kunjungan baliknya

    >>>pH: Terima kasih telah mampir. Insya Allah, kami akan mengunjungi blog anda [siap meluncur ke TKP, hehe..]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s