[Cerpen] Reuni Dua Hati

Ternyata, terlalu lama jadi pengangguran gak enak juga. Ini yang aku rasakan sekarang ini. Semenjak kelulusanku lima bulan yang lalu, kondisiku masih belum stabil. Sudah berkali-kali aku kirimkan lamaran kepada perusahan-perusahaan baik lokal maupun nasional. Tapi belum ada hasilnya. Beberapa wawancara kerja pun pernah aku lakukan. Tapi hasilnya sama saja. Mulanya sih biasa saja. Tapi lama-lama gak enak juga. Ibu sih gak mempermasalahkan hal ini. Dialah yang selama ini memberiku semangat. Tapi omongan dari tetangga cukup membuatku gak enak. “Udah jadi sarjana, masih nganggur. Capek-capek sekolah, mendingan anakku, cuma lulusan SD tapi sudah diterima kerja jadi TKW. Di luar negeri pula” begitu kira-kira. Aku jadi semakin gak enak hati. Ada segunung rasa malu, terutama pada ibu. Tapi ibu sungguh tak peduli. “Sudahlah, Nak. Jangan didengarkan omongan tetangga. Mereka gak ngerti permasalahannya”. Oh, ibu. Betapa aku mencintaimu. Dan karena ibulah, aku masih bersemangat mencari peruntunganku.

Seperti hari ini. Aku berangkat dari rumah pagi-pagi. Ibu sampai khawatir dengan ketergesaanku. Aku ada urusan yang harus diselesaikan hari ini. Biasanya dari rumah, aku naik mobil umum ke kota tempatku biasa bekerja yang jaraknya sekitar 35 km. Tapi kali ini lain. Aku tidak akan ke tempat kerjaku. Aku akan mendatangi sebuah perusahaan yang namanya kudapat dari sebuah koran lokal. Sebuah perusahaan berkembang membutuhkan lulusan ekonomi dan manajemen. Setelah kurang lebih satu jam aku sampai juga. Tapi aku harus bingung, karena tempat yang kutuju ingin belum jelas lokasinya. Aku masih belum faham benar. Terpaksa, aku pun harus mencari-cari tempat itu. Berjalan kian kemari, tanya orang-orang dipinggir jalan. Telepon yang dicantumkan tidak jelas. Dan aku terus mencari. Diburu waktu karena deadlinenya adalah besok. Aku tergesa-gesa. Sampai tidak tahu ada sebuah mobil Jaguar Silver yang akan menabrakku. Hampir saja. Pemiliknya langsung keluar. Seorang lelaki memakai jas hitam dan kemeja yang diseterika rapi. Tampilannya mirip dengan eksekutif muda yang biasa kulihat di televisi. Sepertinya dia akan memarahiku. Hal ini bisa kuketahui dari raut mukanya yang nampak tak bersahabat. Tapi diluar dugaan, tiba-tiba saja raut mukanya berubah.

“Kamu, Arif bukan? Arif Usmani?” katanya setengah tidak percaya.

Aku mengangguk. Agak syok juga, kirain akan dimarahi. Aku sudah mempersiapkan diri untuk meminta maaf, tetapi lelaki itu menanyakan namanya. Tanpa sadar aku pun mengangguk. Mmm.. siapa ya. Wajahnya memang familiar. Wajah saja, wajah seperti ini banyak beredar di tivi-tivi. Tapi kenapa dia tahu namaku?

“Maaf, anda siapa yah?”

“Gila lu, Rif. Tega. Masa elu lupa ama gue” Nadanya seperti menunjukkan protes.

Aku masih berusaha mengingat, siapakah lelaki yang tengah berdiri di hadapanku ini. Lelaki seumuran denganku, memakai pakaian rapi dan kaca mata hitam. Lalu ia pun melepas kacamatanya. Terlihat jelas wajahnya dengan rambut berminyak yang disisir rapi. Artis? Aku menggelengkan kepala. Memori otakku ternyata gagal menemukan sosok yang berdiri di depanku. Aku pun menggelengkan kepala, namun tersenyum.

“Wah, payah lu, Rif. Bener-bener payah!” katanya dengan nada yang sangat kecewa. “Gue, Surya. Temen SMA lu. Ingat?”

“Masya Allah… Jadi lu Surya? Surya Wijaya dari SMA Harapan Bangsa?” kataku tak percaya.

Lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk.

“Soriii banget. Abis lu pangling banget. Gaya lu tuh, beda banget, Sur. Dulu mah slengean, eh sekarang mendadak rapi. Udah jadi bos niih?” kataku menggoda.

Akhirnya, aku berhasil membuka ingatanku tentangnya. Namanya Surya Wijaya. Teman satu kelas semasa di SMA dulu. Ah, lebih dari sekadar teman menurutku. Surya adalah sahabatku. Namun aku adalah sahabat yang buruk, karena tidak bisa mengenalinya lagi saat ini. Maklumlah, semenjak lulus dari SMA, aku benar-benar berpisah dengannya. Zaman itu gak ada ponsel seperti sekarang. Dan kita memang tidak pernah bertemu lagi semenjak itu.

“Udah sadar dari amnesia, bung!” katanya meledekku.

“Sialan. Gue normal tau. Hanya syok liat kamu lagi. Duh, dah lama banget”. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga sekarang.

“Gimana gue keren kan?” kata Surya sambil bergaya ala cover boy.

“Sangat! Tapi masih kerenan gue sih, dikit!”

“Haha. Lu mau kemana, Rif?” kata Surya tiba-tiba menanyakanku
.
Walaah, aku kok lupa dengan tujuanku semula. Aku berangkat dari rumah untuk mengajukan lamaran pekerjaan di sebuah perusahaan. Makanya jalan sampai terburu-buru.

“Tadinya mau ada urusan. Tapi mendadak batal gara-gara kamu.”

“Wah, soriii bro! Lalu sekarang bagaimana?”

Aku sedang berpikir, apa yang mesti kulakukan. Jika aku teruskan ke perusahaan itu, mungkin sudah telat karena waktu telah menjelang istirahat. Mungkin bisa ditunda lain waktu.
“Kamu sudah makan siang?” Surya bertanya.

“Belum. Mau traktir nih ceritanya?” aku menggoda.

“Boleh. Sekalian ucapan minta maaf karena sudah mengacaukan urusanmu hari ini”

“Ya, dimaafkan. Asal bayarannya jelas!”

“Siiip!” Surya pun membawaku dengan mobilnya ke sebuah café di Jalan Ampera. Surya menyetir sendiri.

“Gak ada supir nih? Masa orang kaya gak mampu menggaji seorang supir” kataku.

” Ha.. ha.. Aku biasa nyetir sendiri, Rif. Ada juga supir buat bokap dan nyokap. Kalo gue lebih enak sendiri. Biar bebas. Rasanya gak nyaman kalo pake supir.”

“Ooo….” Aku hanya bisa ber ‘o’ ria.

“Gak nyangka banget ya, akhirnya kita bisa ketemuan di sini!”

“Iya” kataku. “Dah berapa lama kita gak ketemu?”

“Mm…berapa ya? Sebentar…”

“Kalo gak salah hitung, sekitar lima tahunan” Akhirnya aku menjawab sendiri.

“Ya.. ya… lima tahun. Gila lu masih cerdas juga kayak dulu!”

“Gue gitu loh!” Aku membanggakan diri sambil nyengir.

Mobil yang dikendarai Surya berhenti di sebuah Alesandro Café yang lumayan oke di sebuah tempat perbelanjaan. Sepertinya, tempat ngumpul orang-orang berduit. Setelah memarkir kendaraan, kita pun masuk dan memilih sebuah tempat duduk yang nyaman. Seorang pelayan datang dengan sopan, menanyakan pesanan.

“Lu mau pesen apa, Rif?” Surya menyerahkan katalog makanan padaku. Aku meneliti satu persatu. Sumpah, baru pertama aku masuk ke restoran mewah yang mereka sebut kafe ini. Biasanya aku yang menyodorkan makanan kepada tamu, namu kali ini berbeda. Jenis kafe macam ini biasanya menyajikan makanan-makanan aneh. Dan aku gak heran. Selama ini, aku jarang makan di tempat beginian. Ya, sekedarnya saja dan tak pernah neko-neko. Apalagi sewaktu masih kost selama kuliah dulu. Aku malah harus banyak berhemat agar uang belanjaku tidak habis sebelum waktunya. Kerja part-time di sebuah tempat makan juga. Namun tidak semewah ini. Hanya sebuah tempat biasa saja.

“Wah, harus nyari yang mahal-mahal nih!” kataku becanda.

“Ambil dah!” Kalo kurang duit, paling-paling lu yang harus bayar!”

“Wah, rugi bandar deh!”

Setelah memilih-milih, aku pun memesan makanan dan minuman yang ada dalam katalog. Surya pun demikian. Pelayan itu pun pergi dengan senyum setelah menerima pesanan kami.

“Well, apa nih. Cerita-cerita dong, everything… Kerja dimana sekarang, Bro?” Surya akhirnya memulai pembicaraan lagi.

“Masih pengangguran” jawabku sekenanya.

“Gak mungkin. Masa seorang Arif masih nganggur”

“Ya, beginilah diriku…He..he.. Setelah lulus SMA, gue kuliah, ngambil jurusan Ekonomi dan Manjemen. Aku lulus lima bulan yang lalu. Sebenarnya pengen banget kerja di bidangku, tapi selalu saja tidak ada lowongan. Ya, sementara ini, gue masih nyari-nyari kerja yang pas buat gue. Elu sendiri gimana? Kayaknya udah jadi bos sekarang?”

“Kepaksa, Rif! Sebenarnya males, tapi harus dijalani”

“Loh, kok jadi bos kok kepaksa”. Aku geli sendiri. Di luar banyak orang yang rela ngantri buat dapet kerjaan seperti diriku. Bahkan terkadang harus rela lembur biar dipromosiin naik jabatan. Lah, ini ada orang yang dengan gampangnya bilang terpaksa jadi bos. Waduh parah nih orang, pikirku.

“Selepas SMA gue disuruh kuliah keluar negeri. Sebenarnya gue males banget. Ya, kuliah kayak elu juga jurusan ekonomi. Padahal gue suka banget musik. Tapi ya, gimana lagi. Akhirnya gue masuk kuliah di Australia sesuai dengan keinginan papa gue. Gue juga lulus tahun ini. Itu juga udah dipaksa-paksa. Habis itu, aku diserahi tugas buat ngurus salah satu perusahaan papa gue yang ada di daerah ini. Ya, jadinya gitu deh”

Makanan sudah datang. Sepertinya enak. Apalagi tadi pagi perutku hanya diisi sarapan makanan dari rumah. Ketupat sayur setiap hari. Tapi aku tidak mengeluh. Dan pagi tadi aku buru-buru berangkat, jadi hanya makan sedikit saja. Aku harus berpacu dengan waktu, naik mobil umum sekitar 35 km dari rumahku di pedesaan. Masih disibukkan mencari-cari alamat perusahaan yang akan aku datangi untuk mengajukan lamaran. Sungguh sangat capek rasanya.

“Wah, asik deh kalau gitu. Bisa nih narik aku. Aku qualified loh..” Aku pura-pura menyombongkan diri.

“Mm..bisa diatur. Elu tinggal bawa surat lamaran ke kantor. Nanti semua bisa diurus”

“He..he.. becanda kok, Sur!”

“Tapi gue gak bercanda. Gue serius, kok!”

Aku merasa tidak enak dengan sikap Surya yang sangat baik. Baru pertama bertemu, sudah merepotkan orang lain. Aku sungguh sahabat yang jahat, dan Surya memang benar-benar sahabat yang baik.

“Gue pikir-pikir dulu deh…” kataku gak enak.

“Iya, tapi jangan kelamaan”

“Gue kan gak enak ama elu, Sur!”

“Eits.. Emang elu udah yakin diterima?” kata Surya tiba-tiba.

Upps.. Aku hampir tersedak mendengarnya. Hoho.. Aku terlalu pede. Surya emang gitu, dari dulu kalo ngomong suka blak-blakan aja.

“Ada yang salah dengan perkataan gue barusan?”

Aku meminum air di depan meja.

“Gak..gak..” aku langsung menjawab.

“Walaupun lu bener-bener sahabat karib, gue tetep professioanal, Bro! Gue gak mau perusahaan gue diisi oleh orang-orang yang gak berkualitas. Jadi setiap lamaran yang masuk, pasti akan gue seleksi. Perusahaan gue kan harus terlihat bonafit. He..he..”. katanya dengan suara meyakinkan. Mm… aku semakin gak enak sendiri.

“Tapi gue yakin, lu bener-bener berkualitas. Siapa yang bisa ngalahin Arif Usmani, sabahatku yang paling pinter sedunia!”

“Ha…ha… Lu bisa aja. Lagian aku juga belum tentu minat kerja denganmu. Takut gak dibayar.” Kataku sekenanya.

“Enak aja. Nanti baru kalo perusahaan lagi gak ada duit, gue seneng banget nerima sahabat kayak lu. Lumayan dapet karyawan gratis yang rela tidak dibayar. Hehe…”

“Wah, enak di elu gak enak di gue dong!” kataku yang langsung disambut derai tawa Surya. Ya, kami berdua tertawa. Mengenang masa-masa lalu yang telah terlewati.

“Jadi gimana, berminat masuk perusahaanku?” Surya akhirnya kembali berkata.

“Gue pikir-pikir dulu” Aku bingung. Sebenarnya tawaran Surya sangat menggiurkan. Apalagi tujuan awalku datang ke tempat ini aku memang untuk mencari pekerjaan juga. Sebenarnya aku ingin sekali bekerja dengan Surya. Tapi entah kenapa ada rasa sungkan. Apalagi ini adalah pertemuan pertamaku setelah sekian lama berpisah. Aku perlu memikirkannya dengan kepala dingin.

“Ya sudah… Pikir dulu dengan matang deh. Sampe ubanan juga boleh!”

“Oke, boooos…” Aku tertawa.

Kami menghabiskan makan siang dengan suasana yang cair. Nikmat dari Allah yang datang tak terduga. Aku bersyukur hari ini. Bertemu dengan sahabat lama yang menghilang tak tentu rimbanya. Mungkin Allah memang menakdirkannya untuk bertemu denganku hari ini.

“Ini kartu nama gue. Kalo ada apa-apa datang saja langsung ke kantor ya”

“Oke. Terima kasih atas makan siangnya'”

“Oh, ya. Gimana kabar ibu di rumah? Dah lama aku gak main”

“Alhamdulillah baik. Dia tentu senang jika kamu main!”

“Baiklah, jika ada kesempatan, Rif. Well, gue mesti kembali ke kantor. Btw, mau gue anter kemana barangkali? Sekalian aja, mumpung masih ada mobil”

“Oh, gak usah. Aku jalan sendiri aja. Sekali lagi thanks ya..”

“Yoi.. gue tunggu ya..”

“Insya Allah”

Surya segera saja masuk ke mobil dan melesat begitu saja meninggalkanku. Aku terdiam menyaksikan kepergian Surya dengan mobil mewahnya. Ada segenggam kekagumanku kepadanya. Surya, sahabat sejati. Pernah sama-sama dalam suka dan duka semasa SMA. Dulu kami sudah seperti saudara, sampai dipisahkan oleh jarak dan waktu. Baru kali ini bisa ketemu lagi. Surya, betapa beruntungnya dirimu.

Aku seperti tersadar dari lamunanku. Kemana nih? Pikiranku melayang membayangkan apa yang harus kulakukan saat ini. Ah, iya. Aku belum shalat dzuhur. Maka kulangkahkan kakiku ke sebuah masjid di seberang jalan. Setelah itu, aku akan langsung ke tempat perusahaan tempat tujuanku semula. Semoga masih ada kesempatan.

Indramayu, 16 Maret 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

One comment on “[Cerpen] Reuni Dua Hati

  1. hm…..lugas bahasanya
    tapi pak, ada beberapa perkapan yang awalnya pake elu gua. tapi jadi aku kamu……
    jadi agak beda aja rasanya…..

    >>>pH: Wah, ada anak buahnya Pak Deden Masrukin nih. Hehe… makasih masukannya. Sangat membantu! Bagaimana kabar, Bu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s