Diary Tak Pernah mati

Banyak media yang bisa kita gunakan untuk menulis. Kita tidak akan pernah membayangkan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, media untuk menulis dan mengenalkan tulisan kita kepada orang lain ternyata begitu mudahnya. Tengok saja, weblog yang tengah menjamur, juga ajang pertemanan macam facebook bisa kita jadikan sarana yang efektif untuk menuangkan kreatifitas dan gagasan kita untuk menulis. Sebuah media gratis yang bisa kita gunakan dengan daya jangkau yang luar biasa hebatnya.

Kebanyakan para penulis menuangkan ide-ide dan pemikirannya melalui buku harian. Melalui wahana ini, seorang (calon) penulis belajara untuk menulis. Segala hal mulai dari hal-hal ‘merah jambu’, ide, pemikiran, pengalaman ia tuangkan pada sebuah buku yang mereka namai Diary. Kadang, biar mood untuk menulis muncul, buku-buku diary mereka gunakan dengan warna-warna menarik agar feel-nya dapet.

Lebih dulu lagi, media untuk menulis adalah dengan surat-menyurat. Di zamannya, media korespondsi semacam ini digandrungi anak muda. Mereka rela untuk menulis berlembar-lembar surat yang mereka kirimkan kepada sahabat pena, yang dikirimkan melalui jasa pos. Dan media ini semakin hilang ditelan zaman sering dengan kemajuan teknologi. Orang lebih menyukai menulis di webblog, atau note facebook. Dan kadang juga masih menuliskannya di buku harian, untuk hal-hal pribadi yang tidak ingin dipublikasikan.

Dua media yang disebutkan di atas, masih efektif kugunakan untuk menulis. Aku menulis melalui weblog dan juga buku harian. Beberapa saat yang lalu aku sempet membaca kembali tulisan-tulisanku yang tersebar di buku Lintasan Hati 1, 2 dan 3 dan buku diary sastra yang pernah kubuat. Mm.. ternyata sudah banyak juga yang aku tulis. Membacanya membuatku seolah masuk ke dalam bagian sejarahku di masa lalu. Membacanya seolah mengingatkanku akan semua peristiwa yang pernah aku alami. Dan membacanya seolah mengingatkankan akan harapan-harapan yang aku inginkan di masa mendatang. Sungguh, aku telah banyak berubah (smoga jadi lebih baik). Dulu, aku terkenal banget introvert alias tertutup banget, seolah gak bisa bergaul dengan orang. Ternyata sekarang, aku sudah bisa terbuka, terutama dengan orang-orang di sekolah (tempatku mengajar), berusaha berbagi apa saja (terutama pengetahuan) dengan mereka. Aku belajar bersosialisasi, lebih banyak bercerita sesuatu yang aku ketahui. Atau diskusi tentang hal apa saja yang lagi hangat dibicarakan orang kebanyakan. Aku juga bisa membagi ilmu (pengetahuan umum dan agama) kepada anak-anak didikku. Pokoke, banyak hal yang dulu aku piker gak bisa melakukannya, eh ternyata aku mampu melakukannya dear! Aku sungguh bersyukur kepada-Nya.

Membuat tulisan (minimal dalam bentuk diary) benar-benar tidak ada ruginya. Bukankah itu juga menjadi ciri dari orang-orang yang terkenal zaman dulu, kayak Soekarno, Hatta, Hamka, Sayyid Qutub, Imam Syafi’i, Imam Ghazali dll. Mereka pasti punya buku harian walaupun dalam bentuk yang berbeda. Intinya, banyak hal yang bisa kita dapatkan dari menulis. Dan yang kutulis buku harian ini bukan sekedar masalah “merah jambu” belaka seperti remaja di awal kepenulisannya. Tapi menuliskan banyak hal, mulai dari pengetahuan, info penting, ekspresi (sedih, seneng, lucu dll), dan hal-hal lain. Dari sebuah buku yang kita tulis, tanpa sadar kita baru saja menulis sejarah (minimal sejarah tentang diri kita sendiri, kan? He..he..). Yupp, bener! Suatu saat ketika kita membacanya kembali (seperti yang aku lakukan saat ini), kita bisa memperoleh banyak hal berguna dan gak nyangka kalo itu semua adalah tulisan kita. Selain itu, menulis diary adalah sebagai ajang pembelajaranku untuk mengasah lebih tajam lagi kemampuanku dalam menulis. Jika sudah terbiasa menulis, rasanya jadi lebih mudah untuk menuangkan ide yang ada dalam pikiran kita (walaupun aku tahu, itu perlu proses yang sangaaaat panjang). Yupp, kalo sudah tahu begitu banyak manfaat menulis (minimal di catatan harian), so ngapain lagi mesti menunggu. Tulisan-tulisan itu adalah sebagai bukti kalo kita pernah “ada” dalam kehidupan di dunia ini. Mm.. makanya, aku seringkali menganjurkan ke teman-teman untuk menulis di buku harian (isinya terserah apa aja!). Walaupun aku sendiri baru giat menulis diary pada tahun 2005, menurutku tidak ada kata terlambat untuk menulis. So, apalagi yang ditunggu? Menulislah sekarang juga! (Upps.. aku kan udah nulis dari tadi. Hue..he… )

YoCaLis : Ayo Membaca dan Menulis!

Kunjungi PONDOK HATI (Reading Park/Taman Bacaan) di Indramayu!

Sebuah Renungan di Hari Buku Sedunia
Indramayu, 23 April 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

5 comments on “Diary Tak Pernah mati

  1. memang perlu dibudayakan kayanya ya, selain untuk melatih menulis/menuangkan ide, juga untuk mengurangi budaya kopas hehe..

    >>>pH: Betul, Kang Ramdhan! ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s