Gerakan YOCaLis!

Tidak ada orang-orang yang tiba-tiba menjadi penulis. Dan hampir semua penulis yang ada, mengalami proses yang sangat panjang. Dan itu tidak datang begitu saja. Bahkan kadang dengan perjuangan yang sampai berdarah-darah (hehe… hiperbolis ya?). Dan salah satu proses itu adalah Membaca. Bukan sekedar membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan. Tidak ada kamus-nya, penulis hebat yang lahir tidak dari proses membaca. Kata orang, membaca membuka jendela dunia. Demikianlah adanya. Ketika bahan bacaan telah demikian menggunung, diserap, dicerna, lalu timbullah keinginan untuk menuliskannya kembali, dengan bahasa sendiri (meskipun awalnya susah bangeet).

Kadang aku bingung, “warisan” dari siapa hobiku membaca buku. Ayahku memang suka baca, tapi hanya sebatas membaca, namun bukan hobi. Ayah membaca buku kadang tidak sampai habis, hanya sekedar tahu saja. Ibuku juga demikian. Membaca kalo diperlukan saja, misalanya buat bahan pengajian ibu-ibu  yang rutin diadakan dua kali seminggu. Sementara adikku, tidak hobi membaca. Walaupun demikian, akhir-akhir ini dia sudah menyukai novel sebagai bagian dari kampanye-ku menyebarkan virus membaca kepadanya. Maklum saja, kami memiliki Taman Bacaan Gratis (PONDOK HATI) yang kebanyakan koleksinya berupa karya fiksi macam novel, kumpulan cerpen dan sejenisnya. Hehe… Lalu dari siapakah sebenarnya, gen ‘membaca’ ku ini diturunkan?

Menulis. Yupp, kalo ini mungkin dari ayahku. Beliau lumayan jago dalam hal konsep-mengkonsep, terutama bikin konsep surat atau naskah pidato. Tapi ya, cuma sebatas itu. Kalo nulis buku (sebenere aku yakin beliau pasti bisa), beliau sepertinya belum atau mungkin tidak minat, mungkin suatu saat. Kalo ibu dan adikku, benar-benar tidak suka nulis. Walopun aktifitas menulisku belum maksimal artinya hanya ketika ada mood, namun setidaknya aku punya keinginan untuk menulis (terutama menulis buku harian). Dengan menulis, aku bisa berbagi segala hal (kebahagiaan, kesedihan, curhat, pengalaman, laporan perjalanan, pendapat, ide pemikiran dll). Walopun emang sih, aku belum bisa disebut sebagai penulis yang produktif (soale masih banyak naskah yang nganggur terbengkalai, kelamaan ngendap di otak sih, he..he..). Ya, sudahlah.

Jika aku analisis, ternyata warisan hobi membaca dan “sedikit” menulis-ku ternyata kebanyakan dari faktor lingkungan. Lohh? Yupp, emang sih kayak udah ada bawaan kalo aku seneng banget baca, tapi ya hanya sekedar baca saja. Waktu SMU, aku sudah suka baca Kitab Kifayatul Akhyar (Syaikh Abu Syuja’), Aqidah Ahlusunnah Waljamaah (KH. Sirajuddin Abbas), kebanyakan sih buku-buku agama yang akhirnya menjadi salah satu pilar pembentukan karakterku selain didikan dari ortu. Ya, cuma sebatas baca. Hobi membacaku semakin “gila” ketika kuliah. Yang aku baca terutama karya fiksi, walopun baca buku-buku agama juga masih tetap lanjut. Untuk karya fiksi, biasanya aku baca dengan cepat. Aku masih ingat, buku fiksi yang pertama kali aku beli waktu kuliah adalah Tiga Ribu Tanda Tangan-nya Dian Yasmina Fajri. Itu juga atas usulan temen (si Ochie yang bilang bukunya islami tapi lucu). Wuah pokoke gak nyesel deh baca buku itu. Kemudian berlanjut, aku bener-bener menggandrungi fiksi terutama yang islami (banyak beli bukunya juga tuh). Selain itu, aku juga beli buku-buku agama. Akhirnya, aku juga baca buku novel umum sebagai perbandingan, tetapi masih kalah banyak dengan fiksi islami. Pokoke aku bener-bener gila baca terutama fiksi. Buku umum juga kadang aku beli buat nambah koleksi. Nah, karena keseringan baca buku fiksi, aku mencoba untuk menulis fiksi juga. Gak banyak sih, dan banyak yg gak dimuat-muat. He..he.. Walopun ada yg pernah menjadi juara (Cerpen: Aku Ingin Cinta-Mu, saja!). Aku juga kadang nulis pengalaman (eh, ada yang dimuat di majalah tuh). Kesenangan nulis pengalaman ini berlanjut ampe sekarang (dengan buku harian). Bahkan tulisan berdasarkan pengalaman lebih gampang dibikin. Imbasnya, aku berhasil nulis buku berdasarkan pengalaman. Sebuah buku yang diterbitakan DAR!Mizan (2006) dengan judul “Hidup Tanpa Masalah”. Aku memang belum menjadi penulis yang produktif. Tapi aku berusaha untuk terus menulis melalui buku harian dan juga blog seperti sekarang ini.

Ternyata, semua hobiku kebanyakan karena pengaruh lingkungan dan fasilitas. Aku benar-benar bisa nulis karena banyak membaca. Aku suka membaca karena ada buku-buku asik yang alhamdulillah bisa aku beli. Ya, semuanya bermula dari lingkungan dan sebuah kebetulan yang berkelanjutan. Saya memang belum utuh menjadi penulis. Saya hanya ingin belajar menulis, seperti juga anda. Dan di hari ini, tepat tanggal 23 April 2010 yang merupakan Hari Buku Sedunia (World Book Day), mari kita gunakan sejenak untuk membaca dan terus membaca! Setelah, lalu…. menulis!

YoCaLis : Ayo Membaca dan Menulis!

Kunjungi PONDOK HATI (Reading Park/Taman Bacaan) di Indramayu!

Sebuah Renungan di Hari Buku Sedunia

Indramayu, 23 April 2010

All rights reserved © 2010

By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s