Renungan Hari Pendidikan

Hari ini tanggal 2 Mei adalah peringatan hari Pendidikan nasional. Meskipun jatuh pada hari Minggu (alias libur, hehe), tak pelak lagi para guru menjadikan hari ini sebagai ‘hari keramat’ mereka dengan menggelar berbagai acara, terutama upacara. Kemaren-kemaren pada beberapa kecamatan, sempat diadakan gerak jalan khusus guru-guru dengan hadiah cukup menarik. Pendek kata, semua civitas akademika ingin memperingati hari ini dengan cara mereka masing-masing.

Setiap negara mempunyaI sistem pendidikan yang berbeda-beda. Bukan hanya itu, sistem pendidikan dalam satu negara pun kadang berbeda-beda berdasarkan skala ruang dan waktu. Kurikulum yang berubah dari waktu ke waktu, sistem pembelajaran yang berganti-ganti, cara pelaksanan ujian akhir yang juga berbeda, sampai hal-hal sepele yang menyangkut nama sekolah atau instansi pendidikan yang berubah-ubah. Mari kita bahas satu persatu.

Dulu, ketika zaman ayah dan kakek saya, pendidikan dasar semacam Sekolah Dasar (SD) tidak ada. Yang ada hanyalah Sekolah Rakyat (SR) yang hampir mirip dengan SD. Jenjang sekolah menengah macam SMP dan SMA pun tidak ada. Yang ada adalah HIS dan MULO. Ya, zaman-zaman itu pendidikan di Indonesia masih sangat terbatas karena terkaitan erat dengan Pemerintah Hindia Belanda (baca: Indonesia) yang menjadi boneka negara penjajah Belanda dulu. Masih terngiang dalam sejarah, pendidikan merupakan barang langka yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, seperti kaum ningrat. Itu pun masih dibatasi hanya untuk kaum adam. Kaum perempuan sangat dibatasi geraknya. Sampai muncul orang-orang seperti Ibu Kartini dan Ibu Dewi Sartika yang ‘menggugat’ agar kaum perempuan memperoleh hak yang sama dalam hal pendidikan.

Syukurlah, zaman penjajahan telah lewat. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak seperti yang tertuang pada UUD 1945, walaupun pada kenyataannya jauh panggang dari api. Film Laskar Pelangi yang terinspirasi dari novel dengan judul sama karya Andrea Hirata hanya salah satu contoh konkret wajah pendidikan Indonesia, dulu dan saat ini. Nyatanya, masih banyak penduduk Indonesia yang masih belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Dulu, waktu zaman paman saya sistem pembelajaran yang digunakan adalah sistem semester yang berarti dalam setahun terdapat dua kali masa pembelajaran yakni semester 1 dan 2. Zaman saya lain lagi, yakni menggunakan sistem catur wulan (cawu) yang terdiri dari tiga kali masa pembelajaran yakni cawu 1, 2 dan 3. Sekarang, sistem pembelajaran itu kembali lagi seperti dulu yakni menggunakan sistem semester.

Dulu, untuk sekolah menengah digunakan nama Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk sekolah kejuruan digunakan macam-macam nama, misalnya Sekolah Teknik Mesin (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) dll. Waktu zaman saya, lain lagi. SMP diganti menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). SMA diganti dengan Sekolah Menengah Umum (SMU). Sementara untuk yang kejuruan masih tetap sama.  Belakangan, penyebutan nama itu diganti lagi, kembali seperti semula. SLTP kembali menjadi SMP, SMU kembali menjadi SMA, dan sekolah kejuruan berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang membedakan adalah jurusannya saja.

Belum lagi ditambah kurikulum yang selalu berganti-ganti, yang konon katanya mengikuti zaman. Saya memang tidak terlalu ingat dengan kurikulum-kurikulum yang pernah ada ada. Seingat saya, dulu ada panduan guru yang namanya Garis-garis Besar Panduan Pembelajaran (GBPP). Sekarang ada kurikulum 2004. Belum genap dua tahun sudah diganti lagi dengan kurikulum 2006 (KTSP).

Dulu, ujian sekolah diserahkan kepada sekolah masing-masing dalam penentuan kelulusannya. Saya masih ingat nama ujian akhir itu adalah EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Sekarang, ujian ini berganti dengan nama UAN (Ujian Akhir Nasional) yang kemudian berganti lagi menjadi Ujian Nasional (UN) saja. Tidak hanya nama yang berganti, tetapi sistem kelulusan pun berubah. Sekolah tidak memiliki wewenang mutlak untuk menentukan kelulusan siswanya. Semuanya diserahkan kepada pemerintah dengan menentukan standar nasional kelulusan yang selalu naik dari tahun ke tahun. Mulai dari angka 4,0 sampai terakhir adalah 5,5 tahun sekarang. Sistem kelulusan model ini pada mulanya diusulkan untuk melihat bagaimana standar pendidikan indonesia dimata internasional. Namun akhirnya justru menyisakan banyak masalah-masalah krusial.

Adakah yang salah dengan semua ini? Jawabannya bisa ‘Ya’ dan  bisa juga ‘tidak’. Tidak salah jika perubahan-perubahan yang ada dimaksudkan untuk perbaikan ke arah yang lebih baik. Namun perlu diperhatikan bahwa perubahan-perubahan itu hendaknya mempertimbangkan kesiapan semua aspek. Tidak bijak rasanya menyamakan sistem pendidikan Indonesia sama rata tanpa pandang bulu karena kondisi geografis dan segudang karakteristik lainnya tiap sekolah adalah berbeda. Sekolah di kota dengan fasilitas serba lengkap tentu jauh berbeda dengan sekolah di desa terpencil yang kadang-kadang kekurangan guru. Selain itu, perubahan-perubahan itu hendaknya ditekankan pada masalah esensial, bukan sekedar ‘bungkus’ belaka. Hal ini penting dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan meskipun sepele tetapi sangat besar pengaruhnya. Perubahan nama-nama sekolah dari SMP ke SLTP kemudian kembali ke SMP menurut saya hanya perubahan ‘bungkus’ yang tidak terlalu penting. Begitu juga perubahan sistem pembelajaran dari semester ke cawu, kemudian berubah menjadi semester lagi, juga tidak memberikan efek yang nyata. Berapa banyak biaya yang diperlukan hanya untuk merubah huruf dari U ke A (SMU menjadi SMA). Berapa banyak biaya yang diperlukan untuk merubah dari cawu menjadi semester. Padahal semua hanya ‘bungkus’ yang tidak berpengaruh nyata pada aspek pembelajaran. Akibat perubahan ‘sepele’ ini, biaya membengkak. Buku-buku hampir setiap tahun selalu ganti, kop surat pun demikian. Lebih baik dana itu digunakan untuk membiayai peningkatan kualitas pendidikan yang sudah ada. Dipilih satu sistem pembelajaran (mis. Cawu saja atau semester saja), tidak diganti-ganti tetapi diperbaiki kualitasnya dari tahun ke tahun. Demikian juga dengan kurikulum, memang diperlukan perbaikan dari masa ke masa, tetapi perlu mempertimbangkan jangka waktu yang cukup (misalnya setiap 5 tahun sekali).

Terkait dengan masalah ujian nasional yang menyisakan banyak masalah akhir-akhir ini, saya berpendapat lebih baik penentuan kelulusan diserahkan kepada sekolah masing-masing. Hal ini karena setiap sekolah mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda dalam hal geografis, kelengkapan sarana dan prasarana, minat dan kemampuan siswa dan lain-lain. Sekolah yang lebih tahu kondisi siswa-siswinya sendiri. Barulah nanti, jika semua sarana dan prasarana, minat dan kemampuan siswa telah merata seluruh Indonesia (kapankah itu?), bolehlah ditentukan standar kelulusan yang jelas. Karena pada saat itu, tidak ada lagi perbedaan antara sekolah kota atau sekolah daerah terpencil. Yang ada adalah sekolah di Indonesia dengan kualitas rata-rata yang hampir seragam.

Terlepas dari ‘carut marutnya’ sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, saya patut bersyukur juga, ada nilai lebih yang bisa dihasilkan. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat terbuka lebar, karena pendidikan Dasar dan Menengah (baru sampai SMP sih) telah digratiskan oleh pemerintah. Ditambah lagi, anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan meningkat tajam menjadi 20%. Tentu ini merupakan prestasi yang perlu diapresiasi dan diperbaiki. Selain itu perlu diawasi, agar aliran dana yang sangat besar ini tidak jatuh pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakannya dalam bentuk korupsi.

Akhirnya, saya hanya ingin mengucapkan : SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik dari tahun ke tahun.  Terima kasih untuk para civitas akademika dan semua pihak terkait erat dalam dunia pendidikan. Mari jadikan ini semua sebagai ladang amal kita memperbaiki nasib anak bangsa yang mengantarkannya pada keberkahan untuk semua. Amiin.

Renungan Hari Pendidikan Nasional

Indramayu, 2 Mei 2010

All rights reserved © 2010

By Ibnu Atoirahman

One comment on “Renungan Hari Pendidikan

  1. kita memang sering dibuat bingung dg kebijakan yg gonta-ganti tapi tdk substansial bahkan kadang terkesan sepele tp membutuhkan biaya mahal spt ganti nama, jadi harus ganti papan nama, stempel, kop surat, amplop yg semuanya butuh duit. ikuti kisah petualanganku dlm “Cowboy in Paradise” di http://skbjepara.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s