Hanya Kisah 4 Jam

“Maaf. Apakah benar ini Bapak … (menyebut nama ayahku), orang tua/wali santri dari … (menyebut nama adikku), santri Pondok …. (menyebut salah satu pesantren di Jawa Tengah)?” terdengar sebuah suara di ujung telepon menanyakan sesuatu. Saat kumandang adzan Dzuhur bersahut-sahutan. Ayahku yang menerima telepon pun membenarkan.

Lelaki di telepon itu melanjutkan. Kali ini dengan desah nafas yang sepertinya berat.

“Saya dokter … (menyebut sebuah nama dari salah satu Rumah Sakit (RS) di Jawa Tengah) mau menginfromasikan bahwa anak Bapak tersebut mengalami kecelakaan. Keadaannya kini sangat parah. Luka pada bagian kepala dan kaki. Darah di kepalanya terus mengucur. Mohon maaf, untuk melakukan operasi, kami tidak punya alatnya. Silahkan Bapak pesan ke Jakarta melalui dokter… (menyebut sebuah nama dan apotik di Jakarta). Alat tersebut akan dikirim dengan penerbangan yang hanya ada jam 2 siang ini. Jika tidak segera ditangani, kami tidak bisa menjamin keadaan anak Bapak. Dia bisa mengalami gegar otak bahkan lebih parah. Kakinya juga mungkin harus diamputasi”

Panjang lebar dokter itu menjelaskan di ujung telepon. Tentu saja, Ayah langsung lunglai. Mendadak seisi rumah jadi panik dan ribut tak karuan. Ibu menangis, nenek pun ikut-ikutan menangis juga. Semua orang mendadak bingung dan syok, termasuk diriku. Aku sempat tidak bisa berkata-kata.

Maka langsung saja, Ayah pun segera menelpon dokter Jakarta yang disarankan tadi. Dari dokter Jakarta yang telah di telepon tadi, Ayah tahu bahwa alat itu memang ada, tapi dalam jumlah terbatas. Harganya… Rp. 19 juta. Mahal sekali. Ayah diminta mentransfer sejumlah uang sebagai uang muka. Dan akan segera dikirim pada jadwal penerbangan yang terbatas. Lalu, dari mana uang sebesar itu kami dapatkan? Sungguh, keadaan keuangan kami saat sedang tidak stabil. Namun beruntung, saudara-saudaraku dari keluarga lain saling bantu membantu meminjami kami uang. Berapapun itu, minimal untuk membayar DP (uang muka) tersebut. Kami harus bergerak cepat, karena berkaitan dengan nyawa adikku satu-satunya.

Akhirnya, uang untuk membayar DP sebesar Rp. 2 juta, alhamdulillah sudah kami dapatkan meskipun dapet minjem dari sana-sini. Berkali-kali dokter yang menangani adikku menelpon, terus mengabarkan kondisi terakhir adikku. Kami pun sungguh berpacu dengan waktu. Antara hidup dan mati…

Kami sempat menelpon pihak pesantren. Tetapi rupanya telepon tidak juga tersambung. Bebeberapa menit kemudian, pihak pesantren melalui seorang ustadz (sambil menyebutkan namanya) justru menelpon kami, mengabarkan hal serupa. Ustadz pesantren itu pun berkisah, bermula dari acara studi banding beberapa santri ke suatu pondok pesantren lain. Di tengah perjalanan, mobil kijang yang mereka tumpangi ditabrak oleh mobil SPBU milik Pertamina. Akibat kejadian tersebut, dua orang tewas seketika yakni santri dari Solo dan Tegalrejo. Sedangkan lainnya luka-luka, dan yang terparah adalah adikku.

Ya, Allah… betapa gundah hati kami. Betapa panik jiwa kami. Di sela-sela tangis ibuku, aku terus meyakinkannya agar jangan terus larut dalam tangisan. Lebih baik berdoa dan terus berdoa. Aku sendiri, meskipun masih syok tetapi masih bisa mengontrol diri. Beribu doa pengharapan kugumamkan untuk adikku yang sedang terbaring di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, dalam sujud Dzuhurku yang terasa lebih khyusu’.

Dari pihak pesantren (melalui ustadz yang sama), kami diberitahu bahwa pihaknya akan mengurus kejadian ini pada polisi. Setelah melalui perundingan, pihak Pertamina menyanggupi akan memberikan uang bantuan sebesar Rp. 87 juta. Namun uang tersebut tidak bisa dicairkan jika bukan orang tuanya sendiri yang datang dan menandatangani berkas kesepakatan tersebut. Inilah alasan kami memang harus pergi ke Jawa Tengah, disamping alasan lain untuk menunggu adikku di Rumah Sakit.

Aku dan Ayah akhirnya mentransfer sejumlah uang di bank, kemudian menkonfirmasikan hal ini kepada pihak-pihak terkait. Namun tugas kami belum selesai. Kami harus bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit di Jawa Tengah, tempat dimana adikku terbaring lemah untuk dirawat. Untuk pergi ke sana, tentu kami perlu uang yang cukup, walaupun kami tahu bakal ada bantuan dari Pertamina. Tapi itu tidak tahu kapan. Kami terharu, saat semua orang benar-benar ingin membantu. Dengan menggunakan mobil kijang sewaan, kami siap berangkat dari Indramayu, sekitar pukul 2 siang.

Ayah, ibu, paman (yang kebetulan seorang perawat) dan aku turut serta dalam rombongan yang akan berangkat. Semua perlengkapan telah dipersiapkan, mulai dari bantal, tikar, air minum dingin dan panas, makanan dan beberapa potong pakaian. Dalam perjalanan, kami hanya bisa diam, larut dalam pikiran masing-masing, sambil tak lupa berdoa, memohon kesembuhan adikku kepada Sang Maha Kuasa.

Aku juga sempat memberi tahu teman-teman melalui sms, meminta doa dari mereka. Dokter rumah sakit sempat melakukan misscall ke Handphone (HP) Ayah. Ketika ditelepon balik, teleponnya menjadi tidak aktif alias tidak bisa dihubungi. Mungkin sedang melakukan operasi, pikir kami. Kabar terakhir, pendarahan adikku sudah mulai berhenti. Syukurlah…

Dalam perjalanan juga, kami juga sempat menelpon pihak pesantren. Tapi telepon tersebut tidak bisa dihubungi. Aku teringat, ada nomor telepon lain, mungkin kali ini pihak pesantren bisa dihubungi. Kami pun menelpon melalui HP di dalam kendaraan yang sedang melaju. Kali ini teleponnya tersambung. Langsung saja kami tanyakan di ruang manakah adikku dirawat? Kami juga sempat menanyakan nomor HP seorang ustadz pesantren yang memberitahu informasi kecelakaan ini kepada kami. Tapi mereka tidak tahu. Aku sempat mengirim sms ke pihak pesantren dan teman-teman adikku untuk menanyakan hal serupa. Tetap tidak ada balasan.

Akhirnya, kami menelpon “Bagian Penerangan (108)” meminta nomor telepon rumah sakit yang dimaksud. Tetapi nomor yang kami dapatkan dari Bagian Penerangan tidak dapat kami hubungi. Begitu juga nomor telepon rumah sakit yang diberikan dokter tadi.

Ya Allah, mengapa dalam keadaan gawat seperti ini, tidak ada nomor yang bisa kami hubungi? Kami benar-benar kalut. Namun, kami belum menyerah. Sekali lagi kami menanyakan nomor telepon yang lain dari rumah sakit tersebut pada Bagian Penerangan. Alhamdulillah, akhirnya kami pun mendapatkannya. Lalu, kami menelpon lagi dan tersambungkan. Pada saat itu, kami menanyakan, bagaimana keadaan adikku yang ada di ruang ICU? Namun Pihak RS mengatakan, tidak ada seseorang yang bernama… (menyebutkan nama adikku) dari Indramayu. Kami juga menanyakan keberadaan dokter yang menangani adikku tersebut. Ternyata tidak ada dokter dengan nama tersebut di rumah sakit yang dimaksud. Mereka bilang, nama dokter itu ada, tapi di rumah sakit yang lain. Loh?? Kami jadi bingung. Padahal jelas-jelas dokter dengan nama tersebut yang mengabarkan bahwa adikku memang dirawat di rumah sakit yang bersangkutan. Tapi kok, mengapa nama rumah sakitnya bisa berbeda? Apakah kami salah informasi?

Kami kembali menelpon pihak pesantren, menanyakan keberadaan ustadz yang masih misterius ini. Tetap tidak ada. Ketika kami menanyakan perihal adikku, mereka menjawab, “Sebentar, nanti kami panggilkan.” Loh? Apa mereka tidak tahu, peristiwa kecelakaan yang menimpa pondok pesantren mereka?

Aduh! Sinyal HP tidak terlalu jelas dan akhirnya telepon pun terputus. Maklum saja, kami menelpon puhak pesantren dari dalam mobil yang tengah melaju dengan kencang. Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya di Brebes, pamanku minta berhenti untuk menelpon di wartel. Dari Handphone, dokter misterius itu pun tetap tidak bisa dihubungi. Aneh.

Di sebuah wartel, pamanku kembali menelpon pihak pesantren untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi? Pihak pesantren tetap tidak mengenal nama ustadz misterius tersebut. Sungguh aneh. Lalu ketika ditanya “Bisakah kami bicara dengan adikku?”, jawabannya tetap sama. “Sebentar, nanti kami panggilkan dulu!” Loh?? Ini benar-benar aneh. Jangan.. jangan…

“Baiklah, sekarang mana dia. Saya mau bicara dengannya?” kata pamanku. Dan benar, adikku memang ada, dalam keadaan baik-baik saja. Yang lucu, ketika kita semua sedang ribut, gelisah gundah gulana dan sebangsanya, adikku malah sedang asik memasak nasi bareng teman-temannya di pesantren. Kami sempat tidak percaya, barangkali ini suara orang lain yang memiliki nama yang sama dengan nama adikku. Tetapi setelah melalui pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya kami yakin, suara di telepon itu memang benar suara adikku.

Ya, Allah.. Ternyata, kami baru saja ditipu orang. Tapi, syukur Alhamdulillah.. adikku tidak apa-apa. Kami gumamkan rasa kesyukuran kami kepada-Mu ya Allah.. Inilah musibah yang patut kami syukuri. Shalat Ashar di daerah Brebes kami lakukan lebih khusyu’, memanjatkan rasa syukur atas apa yang kami alami saat itu.

Walaupun demikian, kami tetap melanjutkan perjalanan ke pesantren adikku. Selain untuk memastikan keberadaan adikku, juga untuk melapor kepada pihak pesantren akan kejadian ini. Sungguh, nama pesantren telah tercoreng. Demikian juga nama dokter asli yang dipakai oleh para penipu itu. Sungguh dramatis, karena semuanya seperti telah dipersiapkan dengan matang.

Akhirnya, perjalanan ke Jawa Tengah jadi lebih menyenangkan. Suasana dingin dan mencekam yang kami alami sebelumnya, kini berubah cerah gembira. Kami benar-benar sangat berbahagia. Berulang-ulang kugumamkan rasa syukur ini kepada-Nya. Sungguh kejadian hari itu adalah salah satu kejadian yang takkan pernah kami terlupakan. Semua rasa bercampur jadi satu. Mulai dari bingung, panik, sedih, tegang, sampai lucu dan bahagia. Kami sadar, Allah benar-benar Maha Pembolak-balik Hati Manusia. Ini terlihat bagaimana Allah menguji kami, membolak-balikkan hati dan keadaan kami, walaupun hanya empat jam saja (mulai pukul 12.00 – 16.00 WIB).

Begitu banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini. Pertama, ini adalah pelajaran berharga bagi teman-teman lain jangan sampai terkena penipuan serupa dengan modus pemberitaan palsu kecelakaan salah satu anggota keluarga. Mereka bekerja dalam kelompok yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Untuk itulah kita harus berhati-hati. Teror yang mereka sebarkan adalah teror mental yang sanggup meluluhtantahkan pikiran kita dalam sesaat. Pikiran yang telah dirasuki rasa panik itulah yang menyebabkan kita bingung untuk berbuat apa dan cenderung menuruti kemauan mereka. Pelajaran berharga yang kudapatkan adalah jika mendapat telepon serupa usahakan untuk tidak panik. Jangan langsung percaya dengan pemberitaan yang ada. Cek kebenaran informasi ini kepada pihak-pihak yang diperlukan (adik kita, pesantren atau apapun itu). Jangan hanya mencari informasi pada satu pihak saja.

Hikmah kedua adalah keajaiban sebuah doa sungguh luar biasa. Ini benar-benar nyata. Doa-doa tulus yang terucap (terutama disaat-saat genting) sungguh cepat dikabulkan oleh Allah. Bukan hanya aku yang berdoa, tetapi yang lain juga kumintai doa-nya. Sedikit demi sedikit doa yang terkumpul menjadi semakin banyak. Doa-doa tulus itu terbang mengangkasa, bertarung ‘melawan’ takdir di langit dan akhirnya menang.

Ketiga, dengan kisah ini Allah mengeratkan kembali tali kekerabatan yang mulai renggang diantara anggota keluarga. Aku sungguh terharu dengan saudara-saudara yang merelakan diri untuk membantu dengan ikhlas, memberi pertolongan semampu mereka dan itu sungguh sangat berarti. Saling menguatkan, saling mendoakan untuk sebuah kebaikan.

Hikmah terakhir, Allah benar-benar Maha Pembolak-balik hati dan keadaan manusia. Ini sungguh terjadi pada kisah yang kami alami ini. Pelajaran yang didapat adalah jangan cepat menyalahkan keadaan yang meracuni hati dan pikiran kita. Apalagi sampai menyalahkan Tuhan atas segala apa yang terjadi pada kita. Dengan doa dan ikhtiar terbukti bahwa Allah memang memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya dan kenikmatan yang didapat menjadi berlipat ganda. Sungguh, kisah ini sangat bermakna terutama bagi kami yang masih belajar tentang kehidupan. Hanya ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar yang bisa terucap lewat lisan dan hati ini…

Saat salah satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka.
Hanya seringkali kita terpaku begitu lama pada pintu yang tertutup
sehingga tidak melihat yang telah terbuka untuk kita
—–Hellen Keller—–

Indramayu, 17 Mei 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

Tulisan ini dibuat untuk KONTES BLOG Berbagi Kisah Sejati

Penyelenggara: http://anazkia.blogspot.com/

Sponsor : http://denaihati.com/

4 comments on “Hanya Kisah 4 Jam

  1. hemmm……bagus juga hikmah yang bisa diambil,semoga dapat memenangkan kontes tersebut yah!!!tapi yang pasti aku pernah diceritakan Guru SMA yang mengalami hal sama,seperti cerita di atas,tentang modus penipuan.

    >>>pH: Terima kasih atas apresiasi-nya, Mbak Rizkha Latifah. Bener, mbak. Ternyata penipuan model gitu memang ada! Smoga kisah ini bermanfaat, biar kita lebih berhati-hati… ^^b

  2. dari awal membaca cerita ini saya sudah menduga ini modus tipu2 seperti yg pernah dialami keluarga saya. tapi modus yg satu ini rencananya sungguh matang. semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua..

    ~salam kenal

    >>>pH: Wah, pernah mengalami kejadian ini juga ya mbak? Hmmm. emang sekarang kita kudu ati-ati. Salam kenal juga ^^b

  3. Canggih ya penipu itu…
    hebat banget, dia bisa membuat orang bingung 1000 derajat…
    puaskah dia dengan makan uang 2 juta tapi dengan menipu…

    >>>pH; Gak bakalan puas, mbak! Biasanya duit hasil nipu itu cepet abis, gak berkah. ditambah lagi mereka gak bakalan tenang seumur hidup. masya Allah, jadi kasian juga membayangkan para penipu itu. Sementara kami, uang yang hilang itu diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. subhanallah…

  4. Ping-balik: Daftar Peserta Lomba - Daftar Peserta Lomba - Daftar Peserta Lomba - Daftar Peserta Lomba | Asuhan Keperawatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s