Dalam Dialog Jiwa

Dari PROLOG menuju EPILOG

PROLOG. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dalam benakku: “Apa sih hakekat kehidupan?”. Sudah hampir seperempat abad aku hidup di dunia, namun tidak juga kutemui makna sebuah kehidupan. Kulemparkan pertanyaan itu ke teman-teman dekatku. Namun kebanyakan dari mereka menganggap pertanyaanku tidak serius, kesannya main-main gitu. Padahal, menurutku, mungkin itulah pertanyaan paling serius sepanjang hidupku. Walaupun kesannya ringan, tapi benar-benar membutuhkan pemikiran lebih untuk bisa menemukan jawabannya. Untuk apa harta yang selama ini kita kejar? Untuk apa ilmu yang selama ini kita raih? Untuk apa kejayaan yang selama ini kita agung-agungkan? Padahal semuanya takkan pernah dibawa mati. Menggantung…

Di waktu lain aku pernah mendapat sebuah pesan singkat (SMS) dari seorang teman. Ia mengutarakan kesedihannya padaku dan merasa tidak ada lagi gunanya hidup. “Apa yah tujuan Allah nyiptain aku?”, katanya. Ia seperti masuk ke dalam fase kejenuhan hidup karena demikian banyak masalah yang harus ia hadapi. Rasanya seperti hidup segan, mati pun tak mau. Wah, lagi-lagi aku bingung. Kami seperti “menunggu bintang jatuh”, menunggu sebuah cahaya yang dapat menerangi gelapnya jalan ini…

Akhirnya, pertanyaan itu menguap begitu saja tertiup angin. Ah, semoga saja angin dapat mewartakan perihalku kepada seluruh alam ini, dan dapat kutemui jawabnya dikemudian hari. Semoga!

***

EPILOG.“Hidup itu apa?”, Aku bertanya padamu dengan suara lirih. Kepada siapa saja yang bisa mendengarku. Diam. Tak ada jawaban.
“Apa gunanya harta, tahta dan wanita? Apa artinya ilmu yang banyak? Padahal semuanya takkan pernah dibawa mati”, Aku masih saja bertanya dan dijawab sepi.
“Apa artinya hidup buatku?”, kali ini aku berteriak. Suaraku membahana, mengangkasa meninggalkan sebuah gaung yang saling kejar mengejar. Biar saja semuanya mendengar. Angin, laut, awan, langit, bintang, atau apapun itu. Aku menginginkan sebuah jawaban. Tapi yang kudapat hanyalah sepi. Gaung suaraku telah lama pergi, meninggalkan diriku dalam kesunyian. Aku lelah bertanya, karena yang kudapat hanyalah sepi.
“Hidup adalah ibadah!” tiba-tiba sebuah suara berbicara. Siapa dia? Siapa yang telah menjawab pertanyaanku? Angin, laut, awan, langit ataukah bintang yang telah menjawabnya? Kupandangi mereka satu-persatu, tapi mereka hanya diam membisu. Ah, berarti bukan mereka.
“Siapakah dirimu yang telah menjawab pertanyaanku?” Aku kembali bertanya.
Tanpa memperdulikan pertanyaanku, suara itu kembali berkata, “Hakikat kehidupan adalah ibadah hanya kepada-Nya. Apa saja yang kau lakukan haruslah untuk-Nya, saja. Ketika kau berbuat sesuatu hanya untuk-Nya, berarti secara tidak langsung kau juga telah berbuat untukmu sendiri”.
Aku masih belum sadar, siapa yang tengah berbicara. Kembali aku bertanya, “Siapakah dirimu sebenarnya? Mengapa kau mau menjawab pertanyaanku?”
“Aku adalah dirimu, ada dalam jiwamu”
“Apa? Aku adalah dirimu, dan kau adalah diriku? Berarti… yang menjawab… Ah, tidak mungkin”
“Benar. Kaulah yang menjawab pertanyaanmu sendiri. Hakikat Hidup adalah beribadah hanya kepada-Nya saja. Semua yang kau cari, lalu kau dapatkan, hendaknya serahkanlah kepada Allah. Hidup memang untuk beribadah..”

Ah, benarkah aku sendiri yang menjawab pertanyaanku? Aku masih tidak percaya, walaupun akhirnya harus kuakui, akulah yang menjawab pertanyaanku sendiri. Ya, aku telah mendapat jawaban pertanyaanku. Hakikat Hidup adalah Ibadah. Itu, saja..

Tiba-tiba saja, aku seperti mendapat sebuah pencerahan. Aku seperti menemukan sebuah kehidupan. Ya, selama ini aku mati. Mati dalam mengartikan arti hidup itu sendiri. Hidup untuk apa jika tidak untuk mencari keridloan-Nya. Apapun itu, harta yang melimpah, ilmu yang banyak, tahta yang tinggi atau apapun itu akan terasa sia-sia, jika tujuannya bukan untuk mencari keridloan Allah. Ya, mulai saat ini, dirimu baru saja hidup. Hidup yang sebenarnya dan tidak akan pernah “mati” lagi. Hidup untuk Yang Maha Hidup!

Sumber: Hidup Tanpa Masalah (DAR!Mizan, 2006)

Indramayu, 22 Juni 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

3 comments on “Dalam Dialog Jiwa

  1. Asslm,,,,

    Kunjungan Balik nih Sob,
    Thanks ya udah Berkunjung ke Rumahku…hehehe
    Rumahnya (Blognya…red) tambah oke aja,
    Gak bosen deh saya sempatkan untuk Datang ke Sini lagi..!!

    Sob saya punya Blog baru nih,
    Sempatkan untuk berkunjung ya, ini Rumah Baruku…
    http://obatjerawatalami.blogspot.com
    http://bajumuslimmuslimah.blogspot.com
    http://pakaianbajupengantin.blogspot.com

    Salam Blogger, Sukses Menjalin Silaturahmi….

    Wassalm,,,,

    >>>pH: Tengkiu, fren. Jika senggang, insya Allah aku akan berkunjung…

  2. Apa itu hidup? HIDUP=Harus ber-Iman Dalam Usaha dan Prilaku. Orang yang berprilaku adalah orang hidup. orang mati tak berprilaku lagi tapi, menerima balasan dari prilakunya selama didunia mengapa harus (ber)iman dalam prilaku? sebab kita bisa hidup dikarenakan ada ruh. dari siapa ruh? dari Allah Swt. segitu aja dulu dah

    >>>pH: SUbhanallah, terima kasih pencerahannya, mbak!

  3. Hidup dan mati kita hanya utk Allah semata.. postingan yg menyejukan n mencerahkan .. terimakasih atas pencerahannya

    >>>pH: Terima kasih, kang Ramdhan. Mari sama-sama saling mengingatkan untuk kebaikan, ya… ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s