Ketika Aku Bete

Bete (berasal dari BT = Bad Temperament/Bored Time) memang gak enak. Siapa coba yang dengan kerelaan hati mau dihinggapi dengan penyakit ini. Tentu gak ada yang mau, bukan? Namun berbagai macam persoalan atau masalah yang kita hadapi baik di rumah, sekolah, kantor dll, kerapkali menjadi pemicu timbulnya bete.

Ngomongin masalah bete, aku pun pernah bete. Ketika itu ada persoalan di kampus yang tiba-tiba aja membuatku bete banget. Dari pagi sampe siang muka ditekuk melulu, bawaannya pengen marah aja karena kesel, sebel en benci. Akibatnya, mukaku udah pasti kelihatan serem, dan praktis gak ada temen-temen yang mau mendekatiku (takut kena semprot, sih! Hi..hi..). Akhirnya aku meninggalkan kampus masih dalam keadaan bete. Aku mampir ke masjid dekat kampus buat shalat karena sadar aku belum shalat Dzuhur. Setelah shalat, alhamdulillah kadar beteku sedikit berkurang. Tapi tetep aja masih ada. Kebetulan deket masjid ada rumah sakit. Setelah meninggalkan masjid, iseng-iseng aku masuk ke rumah sakit. Tujuanku memang bukan untuk menjenguk teman atau saudara yang sakit, cuma sekedar jalan-jalan aja. Setelah masuk ke kompleks rumah sakit, aku mengambil tempat duduk di depan salah satu ruangan pasien. Sambil santai, kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Subhanallah, pemandangan yang kulihat sungguh beraneka ragam. Ada orang yang panik dan gelisah, ada yang sedih, juga ada yang capek karena kurang tidur. Dari jendela kamar rumah sakit, kulihat beberapa pasien yang tengah tertidur, lemah tak berdaya dengan selang infus di badannya. Bahkan ada pula yang menggunakan tabung oksigen sebagai bantuan pernafasannya. Sesekali lewat di depanku, beberapa perawat yang mendorong ranjang berisi pasien. Keadaannya pun tidak berbeda jauh dengan pasien yang di dalam. Tragis!

Melihat semua itu, timbul rasa belas kasihan yang mendalam, dan tanpa terasa aku seperti terlupa dengan masalahku, dengan bete-ku. Ternyata masih ada orang yang lebih susah dari aku. Ternyata masih banyak orang yang merasa lebih sedih dari aku. Aku pun beristighfar memohon ampun atas segala kesalahanku kepada-Nya. Kondisi rumah sakit seringkali mengingatkanku pada kematian. Bagaimana para pasien itu berjuang dengan sekuat tenaga untuk “melawan” kematian, walau akhirnya ajal menjemputnya juga. Ada banyak hikmah yang bisa kupetik dari jalan-jalan singkatku ini. Sejak saat itu, jika sedang bete atau sedih dengan persoalan yang kuhadapi, biasanya aku menyempatkan diri ke rumah sakit. Walaupun seringkali dibilang aneh sama temen-temen, aku tetap menjadikan rumah sakit sebagai salah satu “tempat favoritku” untuk bermuhasabah.

Sumber: Hidup Tanpa Masalah (DAR!Mizan, 2006)

Indramayu, 22 Juni 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

2 comments on “Ketika Aku Bete

  1. subhanallah, br terpkirkan n jd plajran jika bete kt smetinya mencri tmpat yg kebnykan orng menganggp nya biasa.

    >>>pH: Banyak pelajaran dari ‘jalan-jalan’ singkatku waktu itu. sangat bermakna.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s