Ini Ramadhan, Bukan Ramadan

Hati-hati ketika anda menyebut kata ‘Ramadan’ dengan ‘Ramadhan’, karena keduanya memiliki arti yang berbeda. Sebagian umat Islam memang banyak yang tidak tahu arti kata ‘ramadhan’ itu sendiri. Kata ‘Ramadan’, jika ditulis dalam tulisan arab terdiri dari huruf ra-mim-dal dengan tanwin pada huruf dal, dibaca ‘romadan’ itu artinya adalah kotoran mata yang menempel pada orang yang sedang sakit mata. Sedangkan kata ‘ramadhan’, dengan huruf ra-mim-dhod-alif-nun, dibaca ‘romadhoon’ artinya terbakar. Inilah arti sebenarnya dari bulan yang kita kenal sebagai bulan puasa wajib bagi muslim.

Dinamakan “terbakar” karena pada saat itu orang-orang Arab sedang berada pada puncak musim panas dengan suhu tinggi, sampai terasa membakar tubuh. Namun belakangan, ada juga yang mengartikannya secara filosofis bahwa ‘Ramadhan’ berarti bulan dimana kita membakar diri kita, membakar dosa-dosa kita dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Sehingga selepas Ramadhan kita akan menjadi bersih saat memasuki bulan Syawwal nanti. Kata ‘Syawwal’ sendiri artinya “mengangkat”, mungkin dulu maksudnya adalah bulan dimana-mana unta-unta banyak yang melakukan perkawinan saat itu. Namun secara filosofis, bulan Syawwal berarti bulan yang mengangkat kita kepada derajat taqwa setelah berperang melawan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Makanya ucapan saat Idul Fitri adalah “Minal Aidin Wal Faizin” yang artinya semoga kita tergolong orang yang menang setelah melawan hawa nafsu. Oleh karena itu, mulai sekarang, telitilah sejenak untuk menuliskan kata ‘Ramadhan’, karena salah-salah artinya bisa berbeda.

Rasulullah Saw pernah bersabda tentang bulan Ramadhan ini, “Seandainya ummatku mengetahui apa yang ada di bulan tersebut, tentu mereka akan berkeinginan menjadikan bulan-bulan dalam setahun sebagai bulan Ramadhan semua, karena dalam bulan itu terkumpul segala macam kebajikan. Perbuatan taat diterima (pahalanya), doa-doa dikabulkan, dosa-dosa diampuni dan surga sangat rindu terhadap umatku yang berpuasa”

Apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan ini? Yang jelas, selain persiapan fisik, perlu juga persiapan mental dan spiritual. Malaikat Jibril pernah berdoa menjelang Ramadhan tiba: “Ya Allah, tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan, dia:
1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya
2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami dan istri
3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang disekitarnya”

Naudzubillah min dzaalik. Oleh karena itu, inilah saat yang tepat untuk saling memaafkan diantara kita, bila ada silaf dan khilaf yang pernah tercipta. . Satu lagi, jangan lupa untuk segera membayar hutang puasa bagi yang belum melunasi puasa Ramdhan tahun lalu. Semua ini kita lakukan agar kita bisa siap memasuki Ramadhan tahun ini dengan hati yang ikhlas. Allahummaa baariklanaa fii rojaba wa sya’baana wa ballighnaa rhomadhonaa…

Indramayu, 10 Agustus 2010
All rights reserved © 2010
By Ibnu Atoirahman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s