[Cerpen] Pengantin Semesta

“Aku pergi takkan lama” kata lelaki 30-an itu. Wanita yang di depannya hanya bisa tergugu dalam lidah kelu. Ia takut. Entah mengapa. Mungkin hanya perasaan wanita.

“Tapi bagaimana dengan anak kita?” katanya sambil memegang perutnya.

Lelaki itu setengah kaget. Jika harus memilih, ingin rasanya ia tak mau pergi. Baru tiga bulan ia menikahi wanita pujaannya, namun tugas itu memaksanya pergi juga. Ia harus pergi menjelajah angkasa, menetapi semesta. Setengah berbisik, “Jagalah ia untukkku. Jika saatnya ku kembali, aku akan mengajakmu, mengajak kita bertiga untuk menjelah angkasa bersama. Aku janji, aku takkan lama” katanya sambil mengecup kening wanita dan calon buah hatinya. Dialah Amir kepada Gina, istrinya.

“Aku sengaja membuatkan ini. Satu untukku, dan satu untukmu” kata lelaki itu sambil memasangkan  cincin yang ia lepaskan ikatannya untuk dirinya dan wanita di depannya. “Aku sungguh mencintaimu”.

Di samping wanita itu, ada lelaki serupa dengan wajah yang sama. Amir seperti memandang pada sebuha cermin. Padanya ia berkata, “Amar saudaraku, aku harus pergi untuk sementara. Kutitipkan dia padamu!”

Lelaki kedua itu hanya mengangguk. Hatinya sama. Ia pun merasa kehilangan saudara kembarnya yang akan segera pergi. Dan pesawat ruang angkasa Giant XII pun siap membawa Amir menuju stasiun angkasa luar MIR. Dialah satu-satunya orang Indonesia yang berkesempatan bertugas di tempat itu bersama tiga rekannya dari Inggris, Amerika dan Rusia.

 

***

 

Kepergian Amir membuat wanita itu menunggu. Terus menunggu. Beberapa bulan kemudian anak pertamanya lahir. Lelakinya tak juga pulang. Untunglah ada Amar yang membantunya selama ini. Meski mirip, ia tahu Amar bukanlah suaminya. Tetapi Amar dengan keikhlasan hati  membawanya ke rumah sakit, menungguinya di ruang tunggu sampai ia melahirkan. Anaknya lelakinya lahir dengan selamat. Tentu saja tampan, seperti ayahnya. Ia melihat wajah Amar yang sungguh bahagia akan kelahirannya. Padahal itu bukanlah putranya.

Setahun, dua tahun, sampai lima tahun ia masih bersabar hati menunggu tanpa rasa lelah. Ia ingin setia. Pada lelaki tercintanya yang kini menjelajah semesta demi tugas mulia. Anak lelakinya telah tumbuh dengan cepat. Jika malam tiba, Gina hanya bisa memandang langit, berharap wajah lelaki pujaannya hadir di sana. Begitu setiap hari, setiap malam.

“Cinta, rindu ini semakin tak tertahankan. Ini anakmu, Mas. Ia sungguh sangat mirip denganmu” gumamnya.

“Dimana ayah, Bunda?” ketika anak lelakinya bertanya.

“Di langit, Nak.”

“Mana, kok tidak keliatan?” celoteh anak itu dengan polos.

“Mesti tak terlihat, dia ada, Nak. Suatu saat kita bertiga akan bersama, menjelajah semesta.”

“Aku mau seperti ayah bisa terbang ke langit”

Wanita itu hanya tersenyum membelai mesra anak lelakinya, Hasan. Mereka masih memandang langit, memandang semesta, melukis wajah ayah dan suami dalam imajinasi bintang-bintang malam. Dalam kerinduan yang kian menjelaga.

Amar hanya bisa memandangi wanita dan anak itu dari kejauhan. Ia tahu, ada sejuta rindu di mata mereka. Bukan untuknya, tapi untuk saudaranya yang entah dimana. Namun ia masih menunggu. Seperti juga yang dilakukan wanita itu.

 

***

 

Ketika kabar itu telah sampai di telinganya, wanita itu syok. Amir, suaminya dikabarkan tewas dalam sebuah misi ruang angkasa. Penantian itu serasa sia-sia. Ia lunglai seperti tak punya harapan hidup. Beruntung, Amar selalu di sisinya, menyemangatinya, membantunya melerai duka. Lelaki itu menawarkan diri menjadi pengganti saudaranya. Menjadi ayah bagi anaknya. Amar juga merasa punya beban moral yang dititipkan Amir, saudaranya. Ditengah rasa putus aja, wanita itu pun menerima. Bukan ia tak setia, tapi anaknya perlu sosok ayah yang ia rindukan selama ini. Demi masa depan Hasan, gumamnya dalam hati. Itu sudah dua puluh tahun yang lalu, ketika Hasan masih berusia lima tahun. Anak lelakinya kini telah tumbuh dewasa. Hasan adalah seorang astronot muda dan pakar fisika ruang angkasa kebanggaan Indonesia yang bekerja di Departemen Kedirgantaraan. Ibunya, Gina,  kini telah menjelang senja. Amar, lelaki yang ia panggil ayah itu pun sama. Rambut hitamnya telah bercampur helai perak-perak yang menghiasi kepala. Mereka tak lagi muda. Usia telah merampas fisiknya, namun tidak dengan kenangan yang pernah tercipta.

 

***

 

Pintu rumah diketuk orang. Gina dan Amar sedang duduk santai di belakang rumah, menikmati masa-masa yang masih tersisa. Hasan, anak lelakinya membuka pintu. Ia sungguh terkejut ada sesosok lelaki mirip dirinya di depan pintu. Hasan pikir, lelaki di depannya itu seusia dengannya. Pakaiannya rapi, persis seperti yang ia kenakan sekarang. Ada sebuah tas koper besar di sampingnya. Ia seperti melihat cermin. Meski kaget juga, lelaki di depannya itu langsung merangkulnya dengan erat dan hangat. Seperti kawan lama tak bersua.

“Aku sungguh rindu padamu, Amar” katanya.

Meski dijejali sejuta heran, Hasan tetap bertahan. Ia membiarkan lelaki asing memeluknya sampai puas. Setelah itu barulah lelaki itu melepaskan pelukannya. Rasanya seperti melepaskan kerinduan yang tertahan begitu lama.

“Kau mungkin sedang mampir ke rumah. Aku sungguh tak sabar ingin segera menemuinya dan meminta maaf karena telah meninggalkannya begitu lama”

“Siapa?” Anak lelaki itu semakin heran.

“Istriku, Saudaraku”

“Mungkin Mas salah alamat”

“Benarkah?” giliran lelaki itu yang bingung. Ia telah meninggalkan rumah begitu lama. Rumahnya kini juga telah berganti rupa.

“Inikah rumah Amir?”

“Benar, dia ayahku. Dia telah lama meninggal dunia.”

“Tidak mungkin.”

“Kejadiannya sudah lama. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat ruang angkasa”

“Tapi… “ ia tertahan.”Lalu, ada siapa di rumah ini?”

“Aku, Ibuku dan Ayah tiriku”

“Dimana mereka?”

“Ada di belakang”

“Tolong panggilkan sebentar. Ini penting sekali” katanya mengiba.

Anak lelaki itu heran, mengapa ada lelaki yang begitu mirip dirinya.

Lalu, keluarlah wanita dan lelaki 60-an menemui lelaki di depan. Mereka berdua sungguh kaget. Ini sungguh tak mungkin. Sulit dipercaya. Hasan seperti memiliki saudara kembar!

Wanita setengah baya itu mengamati dengan seksama. Ia pandangi lelaki muda di depannya. Lalu ia pandangi anak semata wayangnya Hasan. Sangat mirip. Meski tidak sama.

“Maaf, Anda siapa?” kata Amar dengan sopan.

“Aku mencari istriku, namanya Gina dan anaknya. Mungkin usianya sekitar dua atau tiga tahun”

Wanita dan lelaki paruh baya itu kaget setengah mati.

“Tidak mungkin” gumamnya. Mungkin dia orang lain yang memiliki nama  dan wajah serupa. Ini mungkin hanya kebetulan.

“Kenapa? Apa mereka sudah pindah? Bisakah anda memberikan alamatnya?” lelaki asing itu heran. “Saudaraku, tolong jelaskan kepada saya, siapa mereka?” katanya memohon kepada anak lelaki yang mirip dirinya.

“Maaf, Mas. Sebenarnya aku tidak mengenalmu. Tapi baiklah, aku akan perkenalkan diri. Aku Hasan. Wanita ini adalah ibuku, Gina. Sedangkan lelaki ini adalah ‘Ayah’ku, Amar”

Kini, giliran lelaki itu yang kaget!

“Tidak mungkin”

“Kenapa Mas, ada yang salah?”

“Lalu kemana Amir?”

“Sudah kukatakan, Amir ayahku telah meninggal dunia dua puluh lima tahun yang lalu”

“Tapi aku Amir.” katanya yakin.

“Anda mungkin bohong”

“Tidak, aku tidak berbohong.”

“Adakah yang bisa meyakinkan kami bahwa anda benar-benar Amir?”

“Mm… sebentar” Ia lalu membuka koper dan mengambil sesuatu. “Mungkin ini bisa menjelaskan” katanya” Ia menyodorkan sebuah cincin besi yang bertuliskan nama Gina.

“Sebelum pergi, kami sempat bertukar cincin. Aku memakai cincin yang bertuliskan nama istriku, dan Gina pun pasti memakai cincin serupa yang bertuliskan namaku, Amir. Dan jika cincin ini digabungkan, akan tercipta sebuah cincin yang padu.” Wanita itu sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Anak lelaki itu memandang ibunya, berharap ini hanya lelucon aneh yang disampaikan oleh orang yang hilang ingatan. Tetapi mengapa ia tahu nama ayah dan ibunya?

Amar pun memandang Gina. Berharap pembuktian ini segera dilakukan. Dengan perlahan, wanita paruh baya itu pun memperlihatkan tangan kanannya. Sebuah cincin besi melingkar di jari manisnya. Ada ukiran nama Amir di sana. Dan ketika ia melepas dan memasangkannya pada cincin pertama, keduanya cocok. Seperti satu cincin padu. Keempatnya terkejut.

“Maaf, anda menemukan cincin itu dimana?” kata wanita paruh baya itu.

“Demi Allah, aku tidak berbohong. Sungguh, ini cincin yang sama yang aku buat bersama Gina, sebelum kepergianku” katanya. “Apakah kau benar-benar Gina?” kata lelaki yang mengaku Amir itu kepada wanita paruh baya di depannya. Wanita itu terdiam kemudian menangis, lalu mengangguk. Ia tahu, lelaki asing itu benar-benar Amir. Meski telah dua puluh tahun berlalu, ia masih benar-benar ingat watak dan sifatnya. Senyumnya, sorot matanya. Ia benar-benar Amir. Tapi mengapa bisa seperti ini?

“Sungguh sulit dipercaya.” gumam Amir.

“Aku sungguh-sungguh Amir, astronot yang ditugaskan untuk menetap di MIR. Karena sebuah kesalahan, aku hampir celaka dan masuk ke lubang hitam (black hole). Dalam kekalutan, aku berdoa, semoga Allah menyelamatkanku. Terus berdoa tanpa henti memohon agar Dia mengembalikanku pada istriku. Aku telah berjanji padanya untuk kembali. Meski hidup menderita dalam kapsul sempit, rela ku jalani. Hingga akhirnya, Tuhan mendengar doa-doaku. Tanpa sengaja, sebuah pesawat melintas, dan aku pun terselamatkan dengan perjuangan antara hidup dan mati. Akhirnya aku bisa kembali ke bumi. Bagiku, ini sebuah keajaiban. Aku merasa begitu bersalah pada istriku karena meninggalkannya dalam keadaan mengandung waktu itu.”

“Kau pergi terlalu lama, Mas?” wanita itu akhirnya bicara. Ia merasa canggung berbicara pada Amir, mantan suaminya  yang sekarang telah menjelma mirip anaknya.

“Maafkan aku, dua tahun mungkin waktu yang lama untuk kita. Sungguh aku pun rindu”

“Tidak, kau pergi selama 20 tahun.”

“Tidak mungkiiin… “ Amir benar-benar tidak percaya. “Tapi ini memang aku, Amir. Suamimu.. Dan apakah ini anak kita?” katanya memandang anak lelaki yang sebaya dengannya.

Wanita itu hanya mengangguk. Pasrah. Amar pun bingung harus berbuat apa. Rasanya aneh melihat saudara kembarnya masih tetap muda, dan dirinya telah tua. Dan lucunya, saudarany itu sekarang justru seperti pinang dibelah dua dengan anaknya sendiri. Sangat tidak masuk akal.

“Paradoks anak kembar, mungkin bisa menjelaskan hal ini.” Hasan akhirnya berkata. Jujur, ia sendiri bingung. Baru kali ini teori itu akhirnya bisa dibuktikan di dunia nyata.

“Apakah itu?” tanya Amar.

“Ketika seseorang menjelajah ruang angkasa, ada teori fisika yang menjelaskan tentang dilatasi waktu. Ada dua orang kembar yang satu ke luar angkasa dan satunya lagi menetap di bumi. Ketika tiga puluh tahun kemudian dia kembali, dia melihat saudara kembarnya di bumi telah menjadi tua. Sedangkan ia sendiri masih tetap muda” Hasan menjelaskan.

Entahlah, bagaimana ini harus dimaknai. Rasa sesal, bahagia atau apa seperti bercampur menjadi satu. Dan keadaannya sungguh telah berbeda. Mungkin Tuhan hanya ingin menjunjukkan keajaiban lewat kejadian ini. Rasanya aneh melihat Amir yang masih tetap muda, sementara Amar dan Gina  telah beranjak senja. Peristiwa ini sungguh menghebohkan dan menjadi headline koran-koran dunia.

Di saat yang bersamaan, kebetulan Hasan akan segera melangsungkan pernikahan. Dulu, Amir pernah berjanji akan membawa istri dan anaknya menjelajah semesta, bertiga. Namun sepertinya itu tidaklah mungkin. Atas usulan Amir, Hasan yang telah menjadi astronot itu kemudian menikah dengan wanita yang juga astronot dan berbulan madu sejenak ke angkasa. Sebenarnya Gina begitu takut, mereka tak bisa kembali. Ia takut mengingat masa lalu. Tapi demi membahagiakan anak mereka akhirnya rencana gila ini pun terlaksana. Tanpa perlu khawatir, karena suami istri itu memang pergi bersama. Amir yang berpengalaman menjadi astronot di luar angkasa memegang komando di ruang kendali di bumi. Sementara Gina dan Amar yang kondisinya sudah tidak memungkinkan hanya menyaksikan mereka di televisi yang disiarkan secara langsung, dalam senyum bahagia. Acara ini sungguh luar biasa dan mengundang decak kagum dunia. Merekalah pasangan muslim pertama yang menjelajah ke ruang angkasa. Mungkin merekalah pengantin semesta.

 

 

Indramayu, 20-10- 2010

All rights reserved © 2010

By Ibnu Atoirahman

Science fiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s