Curhatku pada Buku

Dakwah sejatinya adalah untuk diri sendiri. Yupp, untuk menasehati diri sendiri. Oleh karena itu menulis buku bagiku merupakan pembelajaran dan nasihat untuk diri sendiri. Urusan hikmah itu menyebar dan dirasakan oleh orang lain, itu mah lain perkara. Itu urusan Allah, semoga Dia mencatat-Nya sebagai ibadah sebagai bentuk ilmu yang bermanfaat. Menulis (sebagai salah satu dakwahku) merupakah ajang penuangan curhat, keinginan, nasehat atau apapun yang (jika lebih jeli dibaca) sebenarnya merupakan hal yang yang bersifat pribadi, walaupun akhirnya publik pun boleh belajar bersama-sama. Setidaknya, baru dua buku yang berhasil terbit. Lihat saja, bagaimana diriku pada buku pertama, Menemukan Kehidupan –-kemudian diterbitkan dengan judul Hidup Tanpa Masalah (DAR!Mizan, 2006), aku belajar untuk hidup. Ya, belajar untuk hidup setelah “kematian” yang pernah kualami. Dulu aku pernah terjebak pada situasi tidak jelas, seperti tersesat di dunia antah berantah. Sampai-sampai aku merasa tidak sadar untuk apa aku dibiarkan hidup dalam keadaan menanggung “beban” ini seorang diri. Melalui buku yang aku tulis, aku belajar untuk menemukan kehidupanku. Buku itulah yang akhirnya menjadi jalanku untuk kembali bangkit menemukan kehidupanku. Nah, di buku keduaku ini, Do You Feel Happy? (Leutika Prio 2010), aku belajar untuk menikmati kehidupan setelah aku diberi kesempatan untuk “hidup” kembali. Berusaha merasa bahagia dalam segala suasana. Sudahkah aku merasa bahagia? Mm… Rasanya tidak etis mengatakan ya atau tidak, karena proses menuju kebahagiaan yang sebenarnya adalah proses yang panjang. Maka aku lebih suka menyebutnya, “aku sedang belajar untuk bahagia”.

 

Dulu aku pernah merasa egoistis. Segala sesuatu yang kudapatkan, yang kuusahakan adalah hasil kerja kerasku sendiri. Yang penting, aku berusaha semampuku, untuk kebaikanku sendiri. Masa bodoh dengan orang lain mau pinter atau gak, bahagia atau gak, itu urusan mereka sendiri. Kalo pinter ya buat mereka sendiri. Kalo bodoh, yang rugi mereka sendiri. Pokoke aku selalu berdoa untuk kebaikan diri sendiri. Namun akhirnya aku sadar, aku gak mau seperti itu. Yang kubutuhkan adalah keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan bahkan kebahagiaan untuk semua. Hingga akhirnya ketika aku berdoa, aku selalu berusaha berdoa bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk kedua orang tuaku (ini mah teuteup dari dulu), untuk adikku, saudaraku, temanku, tetanggaku, pemimpinku dan untuk orang lain, agar mereka semua bahagia lahir batin. Rasanya lebih enak menikmati bahagia bersama-sama. Aku ingin kebaikan untuk semua, aku ingin solusi terbaik atas masalah-masalah  dengan kaidah win-win solution. Pokoke aku ingin kemaslahatan untuk semua. Begitulah, sama seperti anda, aku juga masih tetap belajar tentang kehidupan. Salah satunya melalui buku-buku yang kutulis. Aku berusaha berbagi dengan anda, selain sebagai nasihat untuk diri sendiri. Semoga Allah tetap menakdirkan diriku dan anda menjadi orang yang baik dan lebih baik. Amien.

 

*Sebuah ikhtiar untuk memperbaiki diri. “Mohon doanya, ya!”

Indramayu, 7 Desember 2010

1 Muharram 1432 H

 

Catt:

Tertarik membeli buku “Hidup Tanpa Masalah” ? Silakan pesan langsung melalui blog ini.

Kalo ingin beli buku “Do You Feel Happy?” silakan pesan langsung ke Leutika Prio di sini

*sebagian royalti dari penjualan buku-buku ini akan digunakan untuk pengembangan PONDOK HATI Reading Park/Taman bacaan gratis di Indramayu. Mohon doanya, ya.. ^^b

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s