Mulianya Muharram

Sebagaimana kita ketahui, selayaknya kalender pada umumnya, sistem penanggalan kalender Hijriyah pun terdiri dari dua belas bulan. Dimulai dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Semenjak dahulu, penanggalan dua bulan seperti ini sudah berlangsung lama. Bahkan sebelum adanya hijrah Rasulullah ke Madinah, bangsa Arab telah mengenal bulan-bulan tersebut. Hanya saja, mereka tidak mencantumkan tahun. Saat itu, tahun hanya ditunjukkan dengan mengacu pada peristiwa penting yang terjadi saat itu. Seperti misalnya, tahun kelahiran Nabi disebut ‘Tahun Gajah’ karena saat itu Mekkah diserbu oleh tentang Abrahah yang bermaksud menghancurkan Ka’bah. Tentu saja hal ini menimbulkan kesulitan tersendiri, karena penafsiran ‘kejadian penting’ bagi tiap-tiap orang ternyata berbeda-beda. Terlebih lagi jika dalam tahun tersebut terdiri dari banyak kejadian penting. Oleh karena itu, untuk menyatukan visi, Khalifah Umar bin Khattab sepakat untuk memilih hijrah Nabi sebagai awal tahun Hijriyah.

 

Bulan pertama dalam kalender ini adalah Muharram yang berarti ‘yang dimuliakan’. Disebut demikian karena banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan ini. Peristiwa-peristiwa penting tersebut terjadi pada hari kesepuluh bulan Muharram atau biasa disebut sebagai ‘Hari ‘Asyura’. Peristiwa ini ternyata melibatkan banyak tokoh-tokoh penting bahkan sebelum Rasulullah dilahirkan.

 

Dalam kitab I’anatuth Thalibin Juz II hal. 267, dijelaskan bahwa beberapa peristiwa yang terjadi pada Hari Asyura (10 Muharram)  diantaranya adalah:

 

  1. Nabi Adam AS, penghulu kita yang mulia mendapat ampunan dari Allah Swt setelah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya yang menyebabkan beliau diturunkan ke bumi bersama isterinya, Siti Hawa.
  2. Nabi Nuh AS, diselamatkan Allah Swt dari banjir besar yang menenggelamkan kaumnya. Allah memerintahkannya untuk membuat bahtera (kapal laut) yang akhirnya terdampar di bukit Juhdi setelah empat puluh hari.
  3. Nabi Ibrahim AS, diselamatkan Allah Swt dari kobaran api ketika dirinya dibakar oleh Raja Namrudz. Beliau selamat tanpa terbakar sedikitpun oleh api panas.
  4. Nabi Musa AS mendapatkan kitab Taurat dari Allah Swt.
  5. Nabi Musa AS, memukulkan tongkatnya dan berkat rahmat Allah Swt, terbelahlah Laut Merah. Beliau menyelamatkan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Fir’aun pun akhirnya tenggelam ditelan ombak besar.
  6. Nabi Yusuf AS dikeluarkan dari sumur oleh musafir akibat tipudaya saudara-saudaranya yang hasud dan iri dengki.
  7. Nabi Ya’qub AS disembuhkan dari sakit matanya yang buta karena rindunya kepada Nabi Yusuf.
  8. Nabi Ayub AS, disembuhkan oleh Allah Swt dari penyakit parah yang berkepanjangan. Allah telah menguji kesabaran beliau dan akhirnya memberi balasan yang lebih baik.
  9. Nabi Yunus AS, dikeluarkan dari perut ikan paus (huut) ketika diceburkan ke laut karena beliau adalah seorang pelarian.
  10. Nabi Sulaiman AS, diberikan kerajaan dunia yang menakjubkan oleh Allah Swt sebagai bentuk ujian keimanan.

 

Semua peristiwa-peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 10 Muharram. Maka pantaskan jika bulan Muharram disebut sebagai bulan mulia.

 

Melihat betapa mulianya hari ‘Asyura, Rasulullah memerintahkan kita untuk berpuasa yang kemudian dikenal dengan nama Puasa (Hari) Asyura. Abdullah bin Abbas RA pernah berkisah sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari No. 1900.

 

“Tatkala Nabi Saw datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Saw bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa AS berpuasa pada hari ini”. Nabi Saw bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya.” (HR. Bukhari)

 

Lebih lanjut, Sahabat Aisyah RA pernah bercerita:

 

“Dahulu Rasulullah Saw memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, maka barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka” (HR. Bukhari)

 

Ditanya tentang pahala puasa ‘Asyura, Rasulullah Saw bersabda: “Puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu”. (Al Imam Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah RA).

 

Sejatinya, puasa hari ‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram seperti namanya sebagaimana dijelaskan oleh ulama salaf dan khalaf. Namun suatu kali beliau pernah bersabda: “Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (muharram)”. Nyatanya, tahun berikutnya Rasulullah Saw wafat sebelum sempat untuk berpuasa tanggal 9 Muharram. Imam As Sayukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa puasa ‘Asyura ada  tiga tingkatan. Pertama, puasa tanggal 10 Muharram saja. Kedua, puasa tanggal 9 (Hari Tashu’a) dan 10 Muharram. Ketiga, puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Ini dimaksudkan agar berbeda dengan kaumYahudi yang juga berpuasa pada hari ini. Wallahu A’lam Bishhowwab. [i@R]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s