Jangan Bakar Surgamu!

Apakah anda pernah mendengar kisah Al Qomah? Sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Baiklah, kami akan menceritakan kisah populer ini untuk anda dengan harapan kita bisa mengambil hikmahnya.

Siapakah Al Qomah?

Al Qomah adalah seorang sahabat Nabi. Dia adalah seorang pemuda yang shaleh. Dia pernah ikut berjihad mempertahankan Islam bersama Rasulullah. Selain shaleh, ternyata Al Qomah juga suka menolong sahabat-sahabatnya. Ketika menikah, ia tinggal bersama istrinya di sebuah rumah yang terpisah agak jauh dari rumah orang tuanya. Mereka tinggal berdua karena belum juga dianugerahi seorang anak. Pada suatu hari, istri Al Qomah dengan tergesa-gesa menghadap Rasulullah. Ia memberitahukan bahwa suaminya sakit keras dan sepertinya sedang mendekati ajal.

 

Maka Rasulullah pun mengutus Bilal, Suhaib dan Amar untuk menjenguknya dan membacakan talqin (menuntun orang yang akan meninggal dengan kalimat toyyibah). Tetapi Al Qomah mendadak bisu. Mulutnya seperti terkunci. Berulang kali mereka mencoba membisikkan kalimat-kalimat suci itu ke telinga Al Qomah. Namun hasilnya tetap saja. Al Qomah tetap membisu.

 

Maka, kembalilah mereka bertiga menghadap Rasulullah. Mereka pun menceritakan keadaan Al Qomah. Rasulullah sendiri akhirnya datang ke rumah Al Qomah. Sungguh miris keadaannya. Kalimat suci yang dibisikkan seakan tidak mampu diucapkan oleh Al Qomah. Sepertinya ia sangat menderita dengan keadaan yang tak jelas antara hidup dan mati. Sungguh sangat tersiksa.

Rasulullah pun bertanya kepada istri Al Qomah, “Apakah orang tuanya masih hidup?”

“Iya. Ibunya masih hidup tetapi sudah renta”

“Dimanakah dia sekarang?”

“Ia tinggal cukup jauh dari tempat ini”.

 

Akhirnya Rasulullah pun mendatangi kediaman ibu Al Qomah bersama ketiga sahabatnya. Rasulullah memberitahukan keadaan Al Qomah yang tengah sakaratul maut itu kepada ibunya.

Ibunya menjawab, “Biarkan saja. Aku tak peduli.”

“Tetapi dia sungguh menderita, antara hidup dan mati karena sakaratul maut. Maafkanlah agar dia bisa tenang menghadapi kematiannya”

“Bagaimana aku bisa memaafkannya jika hati ini sudah terlanjur sakit semenjak dia mempunya istri”

 

Rasulullah pun akhirnya mengerti, mungkin inilah yang menyebabkan Al Qomah mengalami penderitaan yang luar biasa ketika sakaratul maut. Ibunya sepertinya masih tidak ridlo dengan Al Qomah karena pernah membuatnya sakit hati. Namun, sekali lagi Rasulullah membujuk agar sang Ibu rela memaafkan kesalahan anaknya tersebut. Sang Ibu tetap diam. Ia seperti membiarkan anaknya menderita seperti itu.

 

Maka Rasulullah pun akhirnya berinisiatif untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya.

“Untuk apa kayu bakar ini, Ya Rasulullah?” tanya Bilal keheranan.

“Kita akan membakar Al Qomah. Kita bakar saja dia agar lebih cepat meninggal daripada tersiksa karena sakaratul maut yang pedih”

 

Mendengar ucapan Rasulullah Saw, mendadak terenyuhlah hati sang ibu. Ia sungguh tak tega jika melihat anaknya dibakar hidup-hidup di hadapannya.

Akhirnya sang ibu berkata, “Ya Rasulullah, jangan kau bakar anakku. Kasihanilah dia. Aku sungguh tak tega. Saksikanlah, aku telah memaafkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan padaku”

 

Rasulullah dan para sahabat pun lega. Ibu Al Qomah akhrinya luluh hatinya dan mau memaafkan semua kesalahan anaknya. Ketika kembali ke tempat Al Qomah, segera saja Rasulullah menuntunnya membaca kalimat toyyibah. Ajaib, Al Qomah akhirnya mau mengikuti meski perlahan. Setelah itu, ia pun akhirnya menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali.

 

Kisah ini sungguh membuat kita tertegun. Ternyata, seorang pemuda shaleh pun bisa terganjal kematiannya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya kepada ibu, meskpun kesalahan itu mungkin dilakukannya  tanpa sengaja. Namun, bagaimanapun seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dengan naluri keibuannya, ia akan rela memaafkan kesalahan anaknya sebesar apapun itu. Ini sungguh membuktikan bahwa kasih ibu memang sepanjang jalan, tak lekang dimakan zaman. Naluri keibuan mengantarkanny bersikap bijak selayaknya ibu membelai anaknya dengan kasih sayang yang tak terhingga. Maka pantaslah Rasulullah memberikan penghargaan kepada kaum wanita sebanyak tiga derajat dibandingkan kaum lelaki.

 

Dalam sebuah hadist dijelaskan: Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah Saw seorang laki-laki lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya berbuat baik kepadanya?”. Beliau menjawab, “Ibumu’. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ayahmu” (HR. Muslim).

 

Lebih lanjut Rasulullah Saw pernah bersabda, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”.

 

Hal ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi harkat, martabat dan derajat kaum perempuan lebih dari apapun. Selamat Hari Ibu. Wallahu A’lam Bishhowab. [i@R]

 

 

 

Iklan

2 comments on “Jangan Bakar Surgamu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s