Katastrofa Cinta: Novel Lintas Zaman

Akhirnya saya punya kesempatan untuk membaca Novel Katastrofa Cinta karya Mbak Afifah Afra. Saya membeli langsung ke penulisnya via online. Kurang dari seminggu buku itu sampai ke rumah lengkap dengan tanda tangan penulisnya (hehe, asiiik). Lalu apa pengalaman saya setelah membacanya?

Mm… di bagian awal saya membaca, masih terasa bingung. Sampai beberapa bab ke depan pun saya masih tidak mengerti. Tetapi mungkin inilah yang menjadikan novel ini menarik. Saya disuguhi suspensi (ketegangan) untuk terus membaca kelanjutan ceritanya bab demi bab. Memang sih, alur loncat-loncat seperti ini cukup membuat saya bingung dibagian awal. Tetapi, setelah menemukan chemistry yang pas dengan buku ini (hehe…) akhirnya saya merasa bahwa novel ini keren juga. Maka tidak salah jika novel ini disebut sebagai novel lintas zaman karena menyajikan kisah mulai dari tahun tahun 1940-an sampai dengan tahun 1998. Kisah-kisah yang pecah akhirnya bisa menyatu dengan padu, terutama di bab-bab terakhir. Membaca novel ini seperti sedang menyusun sebuah puzzle. Awalnya seperti berantakan, tidak nyambung satu dengan lainnya, tetapi ketika semua puzzle telah terisi, tampaklah cerita yang utuh dan menarik. Saya menghela nafas setelah mengakhiri membaca novel ini. Ternyata, semuanya memang saling berkaitan satu dengan lainnya. Sangat menarik!

Seperti diceritakan oleh Mbak Afifah Afra dalam blog pribadinya, novel ini berkisah tentang Raden Rara Sekar Kusumastuti, atau Astuti, ketika lahir dalam sebuah keluarga ningrat yang kaya raya, telah dihadapkan pada konflik keluarga yang rumit. Neneknya, yang kecewa karena ibu Astuti memilih menikah dengan seorang santri yang hanya guru swasta bernama Mukhlis, dan bukan ningrat yang ambtenaar, memaksa mengasuh Astuti. Maka, Astuti yang jelita pun dibesarkan dalam kemewahan serta celupan barat yang cukup kental.

Sampai Jepang datang dan menjajah Indonesia. Keluarga Astuti digerebek Dai Nipon. Astuti kecil berhasil melarikan diri, namun berhasil ditangkap oleh seorang perwira Jepang yang ternyata pengidap paedofilia. Astuti kecil pun telah menjadi korban pelampiasan nafsu seksual sang perwira yang abnormal, menjadi jugun ianfu.

Lantas, kehidupan Astuti bergerak menuju kesuraman demi kesuraman. Ia menjadi sosok gadis liar yang nakal. Bergabung dengan PKI sebagai pentolan gerwani, dan bahkan ikut mendalangi peristiwa pembakaran dan pembunuhan pesantren kakeknya sendiri dari pihak ayah.

Dan kemalangan nasib ternyata memang menjadi sahabat kentalnya. Astuti yang jelita dan menawan begitu banyak lelaki, akhirnya hanya menjadi sosok renta yang tinggal bersama para gelandangan di salah satu sudut kota Solo.

Lalu pecahlah kerusuhan 1998. Cempaka, seorang gadis China kehilangan kewarasan karena kehancuran yang menimpa keluarganya. Harta bendanya dijarah, tokonya dibakar, ayahnya dirawat di rumah sakit jiwa dan ibunya memilih bunuh diri. Cempaka sendiri diperkosa beramai-ramai oleh orang yang tak dikenal. Cempaka, calon dokter yang cemerlang itu pun mengalami syok berat dan akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa. Dan jika ada salah satu orang yang saat itu sangat ia benci, sosok itu adalah Firdaus, lelaki yang sebenarnya ia cintai. Pasalnya, Firdaus adalah aktivis mahasiswa yang memimpin demo-demo di tahun 1998. Cempaka menuduh, gara-gara Firdaus dan teman-temannyalah keluarganya mengalami kehancuran.

Pertemuan Cempaka dengan Astuti terjadi saat Cempaka kabur dari RSJ dan hidup bersama anak-anak jalanan, meskipun dalam keadaan tak waras. Dan yang lebih mengejutkan adalah masih ada hubungan masa lalu antara Cempaka dan Astuti. Diakhir cerita, setelah Cempaka sembuh dari ketidakwarasannya, akhirnya Firdaus yang memang mencintainya dengan tulus pun menikahi Cempaka. Ternyata, Kakek Cempaka (Purnomo Wardoyo) adalah lelaki bebedah yang pernah membuat Astuti hamil di luar pernikahan pada masa lalu dan akhirnya melahirkan seorang anak lelaki bernama Khairul Anam. Kakek Firdaus (Ahmad Al Faruqi) adalah lelaki yang sebenarnya mencintai Astuti dengan tulus, tetapi ditolak Astuti dengan mentah-mentah. Dan tahukah anda, bahwa Firdaus itu ternyata cucu Astuti sendiri, anak dari Khairul Anam yang dikiranya telah meninggal dunia karena kebakaran. Ternyata, Ahmad-lah yang selama ini menjadi ayah tiri Khairul Anam dan menyelamatkannya dari kebakaran di malam itu. Sungguh suatu kebetulan yang mencengangkan!

Indramayu, 17 Januari 2011
All rights reserved © 2011
By Ibnu Atoirahman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s