Sejuta Cinta di Sydney: Rindu Kisah Negeri Kanguru

“Aku habis jalan-jalan dari Australia lho.”
“Whatzz?”
“Iya, bener. Sama Muhammad Ayyup alias Joop. Ketemu Jake, Yulian, Paul Morisson, Natalie, Mr dan Mrs. Winston, Edward, Mr. William, Brother Rizki, Brother Yusuf, Brother Ja’far. Dan masih banyak yang lainnya.”
“Benarkah?”
“Beneraaan. Tapi … cuma dari novel. Hehe..”
Tuiiiing, gubraks. Haha…

Terbukti kan, kalo membaca itu bikin kita serasa mengelilingi dunia. Ya, bener banget tuh. Buku yang kubaca kali ini, judulnya “Sejuta Cinta di Sydney”, sebuah novel duet karya Mbak Dewi Fitri Lestari dan Mbak Rahmadiyanti. Sebenarnya novel ini adalah cerita bersambung yang dimuat di Majalah annida jaman dulu. Dulu aku cuma baca sekilas dan tidak utuh, karena ada Edisi Annida yang tidak aku punya. Akhirnya, aku punya kesempatan juga membaca novel itu secara utuh. Aku membeli novel terbitan Syaamil (2004) ini dari Mbak Dewi ‘Dedew’ Rieka dari Toko Ibu Bagus-nya beberapa waktu yang lalu. Bagus. Gak nyesel deh belinya. Aku menamatkanya dalam 2 hari. Padahal sih bisa lebih cepat lagi. Hanya saja, aku membaca sewaktu senggang saja.

Kisahnya sendiri tentang Joop (aselinya bernama Muhammad Ayyup), pemuda betawi keturunan arab. Joop adalah tipikal pria yang suka tebar-tebar pesona. Dengan wajah tampan, banyak gadis-gadis yang menyukainya. Tapi ia tak peduli. Ia punya mimpi untuk kuliah di Australia gara-gara sering chatting dengan jake, sahabat maya-nya di Aussie. Akhirnya, berbekal nekat ia pun mengutarakan niatnya pada ayah-nya yang agak-agak galak tapi sebenarnya baek hati. Dia pun akhirnya dapet izin. Terbang ke Australia dengan segudang mimpi. Tinggal di rumah Jake, dan diterima baik seperti keluarga sendiri oleh keluarga Jake. Dan tanpa diduga, Yulian, mahasiswa Indonesia (keturunan cina) yang mencintainya akhirnya menyusul berniat kuliah di Aussie juga, biar bisa dekat dengan Joop.

Semua berubah, ketika terjadi bom di Bali 12 Oktober 2002. Sikap orang Australia jadi agak antipati ke orang indonesia, terutama pada muslim. Sepupu Jake, Danise, tewas ketika liburan di Bali bersama keluarganya. Sedangkan Jason, kakaknya, luka berat. Keluarga Winston berduka. Joop merasa gak enak, meskipun ia tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Dia bertemu dengan Brother Rizki cs dalam komunitas muslim di negeri kanguru tersebut. Joop sempat terlibat perkelahian dengan tiga orang pemuda Australia yang benci pada kaum pendatang. Joop dikeroyok pemuda berandalan tersebut, ia melawan dan membela diri. Tetapi tiga lawan satu, tentu saja Joop terkapar. Untung Joop ditolong oleh keluarga Paul Morisson, teman sebangku waktu awal keberangkatannya ke Aussie pertama kali. Paul menyukai Indonesia, dan pernah tinggal di Jogja. Ternyata, tidak semua orang Aussie antipati pada orang Indonesia. Namun, masalah tidak berhenti sampai di sini. Joop ditangkap polisi, dituduh macem-macem. Dia dituduh terlibat jaringan al qaeda (muka Joop kan arab banget), visa-nya bermasalah (ini alasan yang dibuat-buat) dan dituduh memukul orang (padahal dia yang dikeroyok). Dia dipenjara beberapa hari, dan bertemu dengan Brother Yusuf. Keluarga Joop di Indonesia tentu saja panik. Ayah, ummi dan kedua kakaknya berusaha menghubungi Joop. Untunglah, sahabat-sahabat Joop di Aussie banyak yang membantu, berusaha mengeluarkannya dari penjara. Dengan didampingi Mr. William sebagai pengacaranya, Joop menjalani sejumlah persidangan. Joop dijatuhi hukuman percobaan selama 3 bulan. Tentu saja, ini tidak adil karena Joop memang tidak bersalah. Tetapi, untungnya, Joop tidak dipenjara. Hanya sesekali disuruh lapor. Gara-gara kejadian ini, Joop akhirnya menyadari pentingnya ukhuwah dan menjalin silaturahmi dengan siapa saja. Ia bersyukur, akhirnya bisa belajar menjadi pribadi muslim yang baik. Ia seakan menemukan titik balik dalam hidupnya. Ternyata ada sejuta cinta untuknya di Sydney.

Membaca novel ini, aku merasa seperti sedang jalan-jalan (travelling). Jalan-jalan ke Jakarte betawi, ke Bali, dan tentu saja yang lebih banyak ke Australia. Membaca novel ini, mau tidak mau mengingatkanku pada novel serial “Pingkan: Sehangat Mentari Musim Semi” karya Mbak Muthmainnah yang juga berlatar Australia. Novel ini seakan memenuhi rasa rinduku pada Pingkan (katanya mau ada buku kedua-nya, tapi belum juga keluar). Sebuah kisah tentang persaudaraan islami di negeri kanguru. Yupp, kisah-kisah yang renyah, membuka wawasan dunia luar dan yang pasti membuat kita lebih bijak karena dipenuhi hikmah yang bertaburan di mana-mana. Aku sangat menikmatinya.

Indramayu, 15 Februari 2011
Tepat di hari peringatan Maulid Nabi
All rights reserved © 2011 Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s