[TJ] Masalah Kekhusyuan Shalat dan Tatoo

Redaksi SYi@R ISLAM mendapat pertanyaan via sms:

1. Assalamu’alaikum. Bagaimana caranya agar kita khusyu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saat kita shalat terkadang berfikir hal-hal yang tidak patut dibayangkan (hal negatif), dan bagaimana hukumnya? Apakah shalat kita sah atau tidak?

 

2. Bagaimana shalat orang yang memiliki tatoo permanen. Apakah shalatnya sah atau tidak? Dan bagaimana shalat orang yang punya tatoo tapi tidak permanen. Wassalamu’alaikum.

 

Jawab:

 

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarokatuh.

Salah satu faktor keutamaan dalam shalat adalah kekhusyu’an. Kekhusyu’an shalat tiap orang berbeda-beda. Tergantung cara pandang dan (mungkin) tingkat pengetahuan agama seseorang. Menjadi lebih sulit karena kekhusyu’an terkait erat dengan  pikiran dan hati manusia. Namun satu hal yang menjadi indikator seseorang khusyu’ dalam shalat adalah berupaya sepenuh hati untuk berkonsentrasi dalam shalat. Usahakan ketika shalat, kita seolah-olah menghadap Allah. Jika tidak bisa, yakinkanlah dalam hati kita bahwa Allah sedang memperhatikan kita dalam shalat. Inilah pengertian Ihsan. Memang, kadangkala kita sulit untuk khusyu’ dalam shalat. Sahabat Ali bin Abi Thalib Kw pernah di-tes oleh Rasulullah tentang masalah kekhusyu’an dalam shalat. Rasulullah menjanjikan akan memberikan surban terbaiknya untuk Ali jika ia mampu shalat dengan khusyu’. Maka mulailah Ali untuk shalat dan diperhatikan oleh Rasulullah. Ketika shalat, Rasulullah sempat bertanya kepada Ali, apa warna surban yang diinginkan oleh Ali sebagai hadiah? Tentu saja Ali tidak menjawabnya, karena ia sedang melaksanakan shalat. Namun, setelah shalatnya selesai, Ali buru-buru menjawab pertanyaan Rasulullah dengan menyebutkan warna surban pilihannya.

Dari sini kita tahu bahwa ketika shalat, ternyata Ali sibuk memikirkan warna surban apa yang menjadi pilihannya. Terlihat bahwa manusia sekelas Ali bin Abi Thalib saja pernah kurang khusyu’ ketika shalat gara-gara memikirkan hadiah surban dari Rasulullah. Apalagi kita-kita manusia biasa. Kekhusyu’an memang bersifat relatif dan kadangkala tidak bisa dilihat secara kasat mata. Namun setidaknya kita berusaha untuk khusyu dalam shalat, salah satu caranya adalah dengan memahami arti dari bacaan-bacaan shalat tersebut. Dengan demikian, kita akan lebih berkonsentrasi ketika shalat dan meminimalisir pikiran-pikiran yang kadang mengganggu dalam pelaksanaan shalat itu sendiri. Setelah itu, tinggal Allah saja yang menentukan apakah shalat kita diterima atau tidak. Wallahu A’lam.

Dalam ilmu fiqih, segala sesuatu yang menghalangi anggota basuhan ketika wudlu adalah tidak sah wudlunya. Contohnya: bekas cat, tipe ex, tatoo yang menempel di tangan, juga kutex di kuku. Semuanya menghalangi masuknya air ke anggota basuhan wudlu. Jika wudlunya tidak sah, tentu saja shalatnya juga tidak sah. Sebagian besar ulama sepakat untuk mengharamkan tatoo. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah Saw bersabda: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut seorang wanita dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, orang membuatkan tatoo dan orang yang minta dibuatkan tatoo (HR. Muslim). Ada ulama yang berpendapat bahwa tatoo haram karena merubah ciptaan Allah dengan tanpa alasan yang tidak dibenarkan. Ada juga yang berpendapat bahwa tatoo menghalangi orang yang melakukan shalat. Selain menghalangi kulit terkena basuhan air wudlu, tinta pada tatoo yang permanen dimungkinkan menjadi najis karena tanpa sadar mungkin tercampur dengan darah ketika ditusuk jarum. Padahal, salah satu syarat sah shalat adalah harus suci dari najis.

Bila seseorang mentatoo dirinya setelah baligh dengan keinginan sendiri, maka diwajibkan untuk menghilangkannya atau setidaknya berusaha untuk menghilangkannya asalkan tidak sampai merusak anggota tubuh atau menimbulkan rasa sakit yang tidak wajar. Jika menghilangkan tatoo justru akan membahayakan hidupnya, maka tatoo tidak diharuskan untuk menghilangkannya dan cukup bertaubat dan sah shalatnya. Lalu, bila tatoo tersebut dilakukan pada saat belum baligh (mis. ketika masih kecil ditatoo oleh orang tuanya), maka tatoo tidak perlu dihilangkan dan sah shalatnya. Jika tatoo tersebut tidak permanen, lebih baik dihindari saja karena tatoo bagaimanapun bukanlah budaya seorang muslim. Demikian menurut pendapat sebagian ulama. Wallahu A’lam.

2 comments on “[TJ] Masalah Kekhusyuan Shalat dan Tatoo

  1. ashalamualaikum wr wb
    nama saya gatot saya orang kristen yang masuk islam 1,5bln yang lalu saya baru tahu bahwa di islam tidak boleh bertato.tetapi saya sudah punya tato ketika agama saya kristen.dan ketika masuk islam saya sempat bertanya pada tman saya apakah saya sah dalam shalat tmn saya jawab tidak apa2 tpi jangan sampai di tambah dan saya jalankan shalat dan rukun islam seperti biasa apakah saya tidak sah dalam islam..saya mohon bimbingannya…

    >>>pH: maaf koreksi: seharusnya ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. hehe… Subhanallah, semoga istiqomah ya, Mas Gatot. Saya juga masih belajar tentang islam. Mas Gatot bisa baca-baca/tanya jawab tentang ISLAM di sini : http://pesantrenvirtual.com/ .

  2. allah maha pengasih dan penyanyang,, wlalu pun dosa kita setinggi langit, tapi pengampunan allah lebih besar dari jagad raya. asal kan kita benar2 taubat ( nasuha )

    >>>pH: Semoga Allah menolong kita dalam taubat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s